
...Lala...
...Vino...
.........
"Hubungi aku segera, La. Aku tunggu ya." Dia berpesan padaku.
Aku mengangguk lalu lekas-lekas membuka pintu gerbang ini. Untungnya saja Vino membelikanku payung sehingga tidak kebasahan saat keluar dari mobil. Dan ya, aku segera masuk ke dalam rumah yang sepi ini. Rumah besar berlantai dua yang hanya ada aku sendiri.
"Kau kembali lagi padaku, Apple!"
Aku pun mengusap-usap ponselku sambil berjalan masuk ke rumah. Langkah demi langkah terasa begitu riang saat ponselku sudah kembali. Tapi, aku terkejut bukan main saat melihat pria bersweter hitam itu tengah duduk di sofa TV sambil mengangkat satu kakinya. Dia ternyata sudah ada di rumah padahal mobilnya tidak ada.
__ADS_1
Dia beranjak berdiri, mendekatiku. "Dari mana?" tanyanya datar.
"Ambil ponsel," jawabku seadanya.
Dia tersenyum sinis padaku seperti ingin mengajak berkelahi. "Kau ingin menyekutukan aku dengan pria lain?" tanyanya dengan raut wajah yang menjengkelkan. Mungkin dia baru saja melihat aku diantarkan Vino pulang.
Aku tersenyum palsu padanya. "Aku hanya mengambil ponsel. Tidak lebih," kataku lalu beranjak pergi.
"Lala!"
"Bisakah kau di rumah saja?" tanyanya lagi.
Aku mengernyitkan dahi. "Maksud Anda?" Aku pun segera menanyakannya.
"Aku akan mengambil libur besok ini. Bisakah kau temani aku di rumah?" tanyanya dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya.
Saat mendengarnya, saat itu juga aku merasa sesuatu yang aneh telah terjadi padanya. Bagaimana mungkin seorang Rey bisa bertutur lembut seperti ini. Tidak ada nada tinggi lagi dari intonasi bicaranya. Dia seperti lebih bisa mengontrol emosi. Apakah semua ini bujuk rayunya agar aku tidak bertemu Vino lagi?
__ADS_1
"Tuan, bukankah kau memiliki banyak wanita? Kau bisa saja membawa wanita manapun kemari. Mereka akan menemanimu dan melayanimu sepenuh hati. Dan apapun yang kau mau pasti mereka turuti." Dengan berani aku mengatakan padanya.
Dia menelan ludahnya. Menghela napas dalam-dalam seperti mengatur emosi. "Aku tidak punya wanita lain," katanya yang membuatku bingung seketika.
Saat itu juga aku tak percaya. "Maaf, Tuan. Aku sedang ada ujian di kampus." Aku pun tersenyum padanya lalu beranjak pergi. Tidak lagi memedulikan ucapannya.
Kulihat Rey terdiam di tempatnya. Dia seperti tertunduk sedih di sana. Mungkin karena keinginannya tidak kuturuti. Aku pun lekas menaiki anak tangga menuju lantai dua. Berniat mencoba ponsel yang baru saja selesai diperbaiki ini. Dan ya, aku tidak memedulikannya lagi. Kubiarkan saja dia melakukan apapun yang dia suka. Toh, aku hanya istri kontraknya saja.
Maaf, Rey. Aku tidak ingin lagi menjadi bonekamu. Aku ingin jadi diriku sendiri.
Lantas aku pun masuk ke dalam kamarku. Dan ternyata pintunya sudah bisa dikunci kembali. Sepertinya dia yang memperbaiki pintu ini. Entah benar atau tidaknya, lebih baik tidak usah memikirkannya. Mari kita segera beristirahat saja.
Esok harinya...
Seperti biasa aku bangun pagi dan menyiapkan segala keperluan Rey sebelum berangkat bekerja. Tapi pagi ini kulihat dia tidak ada di kamarnya. Entah di mana dirinya, aku juga tidak ingin mencarinya. Tapi saat menuruni anak tangga, kulihat dia berselimut tebal di atas sofa. AC ruangan pun dimatikannya.
Dia tidur di sini? Astaga ....
__ADS_1