DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terus Berjuang


__ADS_3

Empat puluh menit kemudian...


Aku tiba di sebuah tempat seperti perbukitan. Tempat ini berada di pedalaman dan jauh dari pusat kota. Katakanlah ini adalah desa terpencil yang jarang penduduknya. Tapi di sini aku melihat banyak para pekerja. Berbagai alat berat juga terdapat di sini. Tidak salah lagi jika ini adalah tambang emas miliknya.


"Selamat datang, Tuan Muda."


Dan begitulah yang dikatakan orang-orang saat menyambut kehadiran Rey. Aku pun berdiri di dekatnya untuk mendampingi. Dan ya pria dingin mendekati gila ini seolah-olah tidak menghiraukanku. Tapi aku tidak peduli. Aku temani saja kemanapun dia pergi.


"Bagaimana prospek ke depannya? Apakah bulan depan kita bisa meratakan semua lahan?" tanyanya kepada seorang pria paruh baya bertopi kontraktor.


"Area ini luas, Tuan. Dan kami masih berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan semua emasnya. Mungkin butuh satu setengah bulan lagi baru bisa dibersihkan." Pria paruh baya itu menuturkan.


Rey sedang membicarakan pekerjaan yang pastinya akan lama. Aku pun mencari tempat yang dingin saja. Karena menjelang siang ini cuaca terasa panas. Apalagi di tempat luas tanpa ada pepohonan. Aku pun duduk pada sebuah batu lalu mencoba melihat ponselku. Dan ternyata ada kabar dari ibu.


Mama ingin ke rumah? Tumben?


Ibuku mengirim pesan jika ingin datang ke rumah hari ini. Mungkin karena tanggal merah, jadinya ibu ingin berkunjung. Tapi saat ini aku sedang jauh dari lokasi rumah. Mau tak mau aku pun menolak kehadirannya.


/Lala sedang menemani Rey ke luar kota, Ma./


Begitulah pesan yang kukirimkan untuk ibu. Aku pun melihat-lihat status di WA-ku sambil menunggu Rey selesai membahas pekerjaannya.


Memikirkan yang tidak memikirkan.


Namun, saat melihat status Vino, entah mengapa aku merasa tersinggung dengan status yang dituliskannya itu. Dia seperti menyindirku. Entahlah, aku juga tidak tahu.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian...


Pemandangan indah mulai kulihat saat ratusan meter dari area penambangan. Dan kini kami sedang melewati jalan di dekat lautan. Tampak Rey yang diam saja sedari tadi. Dia tidak berbicara sepatah kata pun juga. Terus mengemudikan mobil dan melihat ke depan. Seperti tidak menghiraukan kehadiranku di sini. Lantas aku pun mencoba menyapanya.


"Tuan, aku lapar," kataku, ingin tahu bagaimana responnya.


Dia diam saja, tidak menjawab panggilanku.


"Tuan, temani aku belanja ya?" Aku pun meminta demikian padanya.


"Aku sibuk." Dia menjawab seperti itu.


"Memangnya kita mau ke mana setelah ini?" tanyaku.


"Pacarmu?" tanyaku, seolah tak memedulikan status kami.


Dia menoleh sesaat ke arahku. "Kalau iya, kenapa?" Dia malah balik bertanya padaku.


"Masih jauh tidak?" tanyaku lagi.


"Masih."


"Berapa lama?" Aku seolah tak peduli dengan sikap dinginnya.


"Satu jam." Dia menjawabnya.

__ADS_1


Satu jam? Dia rela menempuh satu jam perjalanan hanya untuk menemui wanita cantik? Sedang menemaniku berbelanja saja tidak bisa? Ya Tuhan, makhluk-MU ini sungguh menyebalkan sekali dan tidak mempunyai hati nurani.


Sungguh aku kesal saat Rey berbicara seperti itu. Aku minta ditemaninya belanja, tapi dia malah bilang sibuk. Dan kini dia berkata ingin menemui wanita cantik dan rela menempuh satu jam perjalanan. Entah siapa yang salah, rasanya aku ingin menyerah saja.


"Baiklah. Kalau begitu pinjamkan pahamu. Aku ingin tidur sebentar," kataku lalu merebahkan kepala ini di pangkuannya. Saat itu juga Rey jadi tidak fokus menyetir mobilnya.


"Lala, apa yang kau lakukan?! Bangun!" serunya.


"Aku ngantuk," jawabku singkat.


"Kau bisa menurunkan kursinya!" Dia tak terima aku bersikap seperti ini.


"Aku ingin pahamu," jawabku tak peduli.


"Lala, bangun!"


Dan akhirnya aku mendengar dia berseru berulang kali kepadaku. Tapi aku bergantian tidak menghiraukannya. Aku tidak peduli Rey mau marah atau tidak padaku. Yang jelas saat ini aku merasa empuk sekali. Ternyata pahanya lebih empuk jika dibandingkan dengan bantal tidur. Jadi ya sudah, aku pun tidur di pahanya. Aku tidak memedulikan penolakannya.


Tuan, kau menyebalkan. Boleh kugigit?


Lantas perjalanan ini diteruskan dengan embusan napas kesal yang keluar dari hidungnya. Tapi aku tak peduli. Aku santai saja. Aku juga ikut menyebalkan seperti dirinya.


.........


...Tamat...

__ADS_1


__ADS_2