
Setelah pertemuanku dengan Rian, aku langsung ke toko belly untuk membeli berbagai macam keperluan. Pakaian-pakaian menggairahkan pun kini sudah kudapatkan dan tinggal menunggu giliran kupakai. Aku juga sudah membeli alat untuk mengeriting rambutku dengan instan. Dan harus kuakui jika cantik itu memang membutuhkan modal. Aku pun sudah menghabiskan beberapa juta untuk hal ini. Berharap hasilnya juga memuaskan.
"Itu dia!"
Kudengar suara pintu gerbang dibuka. Aku pun lekas melihat siapa gerangan yang datang dari balik kaca jendela kamar. Dan ternyata memang Rey yang datang. Dan kulihat dia pulang sendirian ke rumah saat pukul sepuluh malam.
Baiklah, Lala. Mari mulai menjalankan misimu.
Lantas dengan mengenakan parfum beraroma cokelat yang pekat, aku pun melangkahkan kaki menuju pintu rumah ini untuk menyambut kedatangannya. Kusambut Rey dengan suka cita dan senyum yang ceria. Tentunya dengan busana yang mini dan ketat ini. Aku ingin tahu reaksinya.
"Selamat datang, Tuan," kataku seraya tersenyum padanya.
Rey melihatku. Dia mengernyitkan dahinya saat melihatku. Dia terdiam di tempat sambil memerhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin dia heran dengan penampilanku malam ini.
__ADS_1
"Aku bawakan koper kerjanya ya." Aku pun mengambil koper kerjanya.
Rey diam. Dia benar-benar diam dan tidak bicara sama sekali. Hanya saja kedua bola matanya itu seolah mengatakan jika tak percaya dengan penampilanku malam ini. Lantas lekas saja aku membawa koper kerjanya. Kutinggalkan dia yang masih terdiam di dekat pintu. Aku juga melangkahkan kaki dengan sengaja dihentakkan ke lantai agar pinggulku terlihat indah seperti gelombang ombak di lautan. Dan ya, Rey masih diam saja di tempatnya.
Bagaimana, Tuan? Aku seksi, bukan?
Entah terpesona, entah merasa heran dengan penampilanku. Tapi yang jelas aku telah berhasil membuatnya terkesima. Tahapan pertama telah berhasil kulakukan. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk ke tahapan selanjutnya. Dan aku harap dia bisa diajak bekerja sama.
Lantas karena dia masih diam saja, aku pun kembali kepadanya lalu menarik tangannya. Dan untuk yang pertama kalinya tangan kami bersentuhan tanpa penghalang. Aku pun lekas-lekas menutup pintu rumahku ini. Aku menguncinya dari dalam.
Beberapa menit kemudian...
Rey masuk ke dalam kamar dan aku juga mengikutinya. Dia seperti tidak keberatan saat aku ikut masuk ke kamarnya. Dan sesampainya di kamar, Rey segera melepas jasnya. Dia juga melepas sepatunya. Dan tentu saja aku ikut membantunya. Aku membantu melepaskan kancing kemejanya.
__ADS_1
"Biar kubantu melepas kancingnya, Tuan."
Mungkin hal yang sedang kulakukan ini sedikit gila. Tapi ini adalah usaha terakhirku untuk memperbaiki semuanya. Jika memang dia tidak ada niatan baik padaku, maka aku akan berpindah ke Vino. Setidaknya aku telah berusaha. Jadi tidak akan ada penyesalan nantinya.
Aroma parfumnya seperti ombak di lautan.
Dengan jarak yang dekat seperti ini, tentu saja aku bisa mencium aroma parfumnya yang telah bercampur dengan sedikit keringat itu. Dan kunikmati setiap aroma parfum yang masuk ke paru-paruku. Rey juga menatapku dengan tanpa mengedipkan mata. Namun, dia belum juga bicara. Dia masih memerhatikanku. Sampai akhirnya aku membuka kancing kemeja terakhirnya. Rey pun memegang tanganku.
"Tunggu!" Dia berkata seperti itu.
"Tuan?"
Tapi aku sudah terlanjur melepas kait kancingnya. Dan kini kancing kemejanya telah terbuka semua. Sehingga terlihatlah sedikit dada bidangnya dan perut yang kotak-kotak itu. Dan entah mengapa dia terlihat eksotis di mataku.
__ADS_1