
"Lala!" Rey pun menahanku. Dia memanggilku kembali. "Ucapanku masih berlaku. Satu kali saja dia menyentuhmu, kau harus membayar pinalti padaku. Camkan itu!" katanya yang membuatku semakin tidak betah berada di ruangan ini.
Lantas saja aku segera bergegas pergi dari ruangannya. Aku tidak ingin menambah pusing kepalaku dengan berdebat dengannya. Aku sudah menyampaikan tujuanku datang ke kantornya. Dan dia juga sudah menjawabnya. Jadi tidak ada alasanku lagi untuk berlama-lama.
Rey, kau memang manusia berhati iblis!
Aku keluar dari ruangannya dan Rey juga tidak memanggilku lagi. Aku pun bergegas ke lantai satu dengan sepanjang jalan dipenuhi penghormatan karyawan Rey kepadaku. Aku pun diam saja seraya pergi berlalu. Hingga akhirnya aku sampai di parkiran mobilku. Aku lekas masuk lalu melajukan mobilku. Aku tidak ingin mengingat lagi apa yang terjadi tadi. Yang sudah biarkan berlalu.
Sore harinya...
Hari ini jadwalku begitu padat. Sampai-sampai tidak tahu lagi bagaimana wajahku yang lelah ini. Aku hanya mengikuti siklus kehidupan yang terus berjalan dari waktu ke waktu. Dan kini aku baru saja menyelesaikan satu mata kuliahku. Ya, untungnya cuma satu saja mata kuliahku hari ini, dan itu juga pindah ke jam sore. Karena kalau tidak, mungkin aku sudah tidak masuk hari ini. Maklum habis mengurusi pembantuku yang disiksa pria gila itu. Siapa lagi biang keladinya kalau bukan Rey Mahendra.
__ADS_1
"La!"
Temanku Nina berjalan cepat ke arahku. Dia sepertinya baru saja kuliah setelah selesai prakerin ke luar kota. Dan ya, akhirnya kami bercengkrama sambil berjalan bersama menuju parkiran kampus. Kulihat dia begitu semringah sore ini.
"Hei, kau ternyata menikah dengan pria itu ya?" Dia seperti meledekku.
"Entahlah." Aku pun menjawab seadanya.
Mungkin temanku yang satu ini sedikit sakit. Mungkin juga karena sudah terbiasa bergaul bebas jadi hal-hal yang tidak pantas itu dia tanyakan juga padaku. Padahal setahuku tidak boleh mengumbar urusan ranjang kepada orang lain. Tapi dia malah menanyakannya dengan tanpa merasa bersalah sama sekali. Lantas aku pun melirik tajam ke arahnya.
"Lo sakit?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Nina tertawa. "Hahahaha. Enggak, La. Gue sehat. Hanya heran aja sama Lo, mengapa bisa menikah dengan pria itu?"
Nina sepertinya sudah tahu aku menikah dengan siapa. Ya, wajar saja. Pasti teman-teman sekelasku menceritakan padanya. Dan informasi itu memang lebih cepat akan tersebar dari mulut ke mulut. Jadi tidak perlu heran. Memang sudah begitu alurnya.
"Lo udah selesai buat laporan prakerinnya?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sambil terus berjalan ke parkiran kampus.
"Belum, sih. Mungkin satu atau dua minggu lagi baru selesai. Lo sendiri kapan mau ngambil prakerin, La? Udah semester lima, lho." Nina mengingatkanku.
Di kampusku ini kata praktek kerja lapangan disebut sebagai prakerin. Entah mengapa sebutannya bisa seperti itu. Tapi dari aku masuk, kakak tingkat memang menyebutnya dengan kata itu. Padahal setahuku prakerin itu adalah praktik kerja industri. Tapi mungkin yang dimaksud industri di sini adalah lapangan pekerjaannya.
Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku ikuti saja kata-kata yang sudah turun-temurun itu. Lagipula aku sudah terlalu sibuk dengan banyak urusanku. Jadi tidak sempat lagi mengurusi yang lain.
__ADS_1
Nina benar. Aku sudah semester lima.