DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Ingin Bicara


__ADS_3

"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanyaku dengan cemas.


"Kondisi kesehatannya diperkirakan akan membaik dalam waktu dua atau tiga hari ke depan. Tapi secara mental, dia cukup trauma untuk menjalani rutinitasnya kembali. Saya sarankan untuk beristirahat selama satu atau dua minggu ini agar trauma itu bisa hilang darinya. Dia juga mengalami kelelahan fisik yang dipaksakan. Saya khawatir jika terus-menerus dibiarkan akan membuatnya mengalami kerusakan badan." Dokter berkata lagi padaku.


Saat mendengarnya, saat itu juga aku menarik napas dalam-dalam. Aku tak percaya jika akan mendengar hal ini dari dokter. Lantas saja aku mengiyakan saran dari dokter lalu segera mengurus administrasinya. Karena bagaimanapun aku yang mempekerjakannya. Jadi aku yang bertanggung jawab atasnya. Semoga saja dia mau melupakan kejadian ini dan tidak trauma lagi. Aku berharap padanya.


Aku harus menanyakan hal ini kepada Rey langsung.


Sebagai seorang perempuan, pastinya memiliki perasaan yang lebih peka dibandingkan lelaki. Dan aku akan menemui Rey untuk menanyakan hal ini langsung. Mengapa dia sampai tega melakukan kekerasan kepada pembantuku? Karena hal itu sudah melanggar hukum. Aku harus menemuinya segera. Aku harus membicarakannya. Entah dia menerimanya atau tidak, yang jelas aku tidak ingin terkena getah dari perbuatan yang dia lakukan.


Beberapa jam kemudian...


Lelah. Itulah yang kurasakan hari ini. Sejak pagi sampai siang aku harus berhadapan dengan berbagai masalah hidupku. Dan kini aku baru saja selesai mengantarkan pulang pembantuku ke rumahnya. Dan ternyata keluarganya tidak menyalahkanku. Aku pun harus mengeluarkan kocek yang besar untuk berdamai dengannya. Sepuluh juta untuk dua hari bekerja. Benar-benar gila.

__ADS_1


Saat ini aku baru saja sampai di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan emas. Nama perusahaannya adalah Gold and Glory. Di mana di perusahaan ini adalah seorang pria gila yang memimpinnya. Lekas saja kuparkirkan mobilku lalu masuk ke dalamnya. Aku ingin menemui Rey siang ini juga. Aku harus berbicara dengannya.


"Permisi. Aku ingin bertemu dengan tuan Rey," kataku kepada resepsionis gedung ini.


"Tuan Rey?" Resepsionis itu seperti orang yang kebingungan sendiri.


"Ya, Rey Mahendra. Bukankah dia CEO di sini?" tanyaku kepada resepsionis itu.


Resepsionis wanita yang mengenakan batik merah itu seperti terheran dengan kedatanganku. Kulihat dia lekas menelepon seseorang yang entah siapa. Dia juga berbisik-bisik di sana. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia seperti itu. Mungkin dia kurang ngopi atau aku yang salah masuk ke sini? Entahlah. Mungkin tak lama lagi jawabannya akan kudapatkan.


Tak lama kemudian ada seorang pria berbadan kekar menghampiriku. Sepertinya dia satpam di gedung ini.


"Ya?" Aku pun berbalik ke arahnya.

__ADS_1


"Nona ingin menemui tuan Rey Mahendra?" tanyanya padaku.


"Ya, benar, Pak. Aku ada keperluan penting dengannya," jawabku segera.


"Em, maaf. Bisa melihat tanda pengenalnya lebih dulu?" Pria itu memintaku menunjukkan KTP.


Saat itu juga aku tidak habis pikir. Aku ini istri sahnya, tapi kenapa harus menunjukkan KTP segala? Dan karena tidak ingin memperlambat waktu, kuambil saja tanda pengenalku lalu kuberikan padanya. Saat itu juga dia melihat sendiri identitasku.


"Apakah Nona mempunyai tanda pengenal lain?" tanyanya lagi.


"Hah?" Saat itu juga aku terperanjat kaget.


"Maaf, Nona. Tidak ada yang diperkenankan untuk menemui tuan Rey selain hanya orang-orang tertentu saja. Jika Nona tidak mempunyai tanda pengenal lain atau belum membuat janji temu sebelumnya, lebih baik Nona pulang saja. Kami tidak bisa menerima tamu selain orang yang diizinkan oleh Tuan."

__ADS_1


Pria paruh baya ini berbicara padaku.


__ADS_2