DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Jatuh Sakit


__ADS_3

Dan karena merasa ada yang aneh, aku pun mencoba untuk membangunkannya. Kutepuk-tepuk lengannya yang tertutupi selimut tebal. Aku ingin memintanya untuk pindah ke kamar. Tapi nyatanya dia tidak bangun juga.


"Tuan. Tuan, Anda lebih baik pindah ke kamar," kataku seraya memerhatikan wajahnya yang tampak pucat.


Dia tidak juga menggubris panggilanku. Aku pun mencoba memegang dahinya. Dan saat itu juga telapak tanganku seperti terbakar. Rey ternyata demam.


Ya Tuhan, dia sakit?!


Sungguh tak kupercaya jika Rey bisa sakit. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sedang aku jam delapan nanti harus segera berangkat ke kampus. Lantas saja aku menelepon dokter 24 jam yang praktik di dekat sini. Rey harus segera diobati karena khawatir panasnya lebih tinggi. Dan ya, setelah sambungan teleponku diterima, aku pun meminta dokter untuk datang ke sini. Kujelaskan pula bagaimana kondisinya sekarang. Dokter pun akan datang sebentar lagi.


Dia tidur di sini dan mengalami demam. Apakah sejak semalam? Apa karena hal ini dia memintaku untuk tetap di rumah dan menemaninya?

__ADS_1


Sungguh aku tidak tahu Rey sakit jika tidak memegang dahinya. Aku pun mengambilkan air hangat untuk mengompresnya. Kutunjukkan jika aku masih berlaku baik padanya meski dia sudah berlaku jahat padaku. Dan tak berapa lama Rey pun terbangun dari tidurnya.


"Lala ...."


Dia menyebut namaku dengan intonasi yang rendah. Aku pun diam saja sambil terus mengompres dahinya. Entah apa yang ada di pikirannya, aku hanya membantu sebisanya saja. Aku tidak ingin berlebihan karena khawatir sakit hati kembali. Jadi ya sudah, tunggu dokter datang dan biarkan dia yang menyelesaikan permasalahan ini.


Satu jam kemudian...


"Nona, Tuan Rey terinfeksi virus flu. Dia membutuhkan istirahat beberapa waktu."


Untung saja dia tidak terkena virus yang lain.

__ADS_1


Sungguh dia mau sakit apapun aku tidak peduli. Tapi demi menjaga nama baik di depan orang, aku pun bersikap baik padanya layaknya istri kepada suami. Aku juga menyuapi Rey makan bubur dan membantunya minum obat. Rey pun memintaku untuk mengambilkannya cokelat. Dan aku menurutinya. Hingga akhirnya pemeriksaan akan kondisinya ini selesai dilakukan.


"Baik, Dok. Saya akan menemaninya nanti," kataku kepada dokter.


"Ini resep obat yang harus ditebus. Kalau begitu saya permisi." Dokter pun berpamitan padaku.


Aku mengangguk, tersenyum lalu mengantarkan dokter pergi dari rumah ini. Selepasnya kembali ke Rey lagi yang sedang merebahkan diri di atas kasurnya. Dan kulihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tiba saatnya bagiku untuk segera bergegas ke kampus. Tak lupa dengan menebus obat Rey terlebih dulu.


Sepertinya aku membutuhkan skuter matikku kembali.


Semenjak menikah, motor matikku itu ditaruh di rumah. Aku tidak diperkenankan oleh ayah untuk membawanya ke sini. Alasannya cukup klasik sekali, agar aku bisa berpergian bersama Rey. Padahal kenyataannya tidak mungkin seperti itu. Dia saja memperlakukanku bak babu. Mana mungkin ke mana-mana mau mengantarkanku.

__ADS_1


Baiklah, Lala. Saatnya beraktivitas kembali.


Aku pun lekas-lekas mandi. Bersiap-siap sebelum berangkat ke kampus pagi ini. Sedang Rey kubiarkan saja beristirahat di kamarnya. Aku mencoba untuk tidak memedulikannya. Toh dia juga tidak peduli padaku. Jadi ya sudah, mari kita ke kampus pagi ini.


__ADS_2