DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Malas Menanggapi


__ADS_3

Ini gawat! Dia juga sudah sampai tahu namaku.


Aku pura-pura saja tidak mendengarnya. Mengambil langkah seribu untuk menghindarinya. Tapi mungkin inilah yang dinamakan takdir, mau bagaimana pun akan ketemu juga. Dan pada akhirnya Vino memegang pundakku. Dia menahanku pergi. Seketika aku pun berbalik menghadap ke arahnya.


"Lala, kau mau ke mana?" tanyanya padaku.


Tentu saja hal itu tidak perlu kujawab lagi. Aku mau ke mana juga bukan urusannya. Terlebih dia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya sekedar seorang pria yang baru kukenal semalam.


"Em, ada apa ya, Tuan?" Aku bersikap formal padanya agar dia juga sopan kepadaku.


"Em ...," Dia terlihat berpikir. "Aku ingin bicara denganmu. Boleh?" tanyanya padaku.


Aku mengernyitkan dahi. "Untuk apa? Apakah kita mempunyai urusan sebelumnya?" tanyaku heran.


Vino tersenyum padaku. Mungkin senyum untuk mengungkapkan rasa malunya padaku. Tentu saja dia pasti tahu jika aku sudah menikah dengan Rey. Tidak pantas baginya untuk mengajak istri orang bercengkerama. Itu sudah melanggar tata krama.

__ADS_1


"Aku baru tahu kalau ternyata kita satu fakultas. Aku kakak tingkatmu." Dia menuturkan.


"Kakak tingkat?" Aku pun merasa heran dengannya.


"Ya. Lima tahun yang lalu aku baru lulus dari universitas ini. Itu berarti kau masih adik tingkatku," katanya seraya tersenyum.


Hah ... rasanya malas sekali.


Sungguh hal yang dia katakan ini tidak ada gunanya untukku. Jika dia bisa membantu, maka bantu saja aku agar bisa terlepas dari jeratan pernikahan kontrak ini. Aku ingin meneruskan hidup dan meraih cita-citaku.


Aku tak peduli lagi dengan ceritanya. Terserah bagaimana pandangannya terhadapku. Prioritasku saat ini adalah melepaskan diri dari perjanjian ayah bersama Rey. Entah bagaimana caranya. Sepertinya aku memang harus ke rumah ibu.


Lantas Vino pun tidak bisa mencegahku pergi. Aku segera pulang dengan menaiki taksi. Kulihat dia juga tidak mengejarku lagi. Jadi ya sudah, mari kita lanjutkan hari. Berpetualang bersama seorang pria arogan yang sudah menjadi suamiku. Entah bagaimana nantinya, kunikmati saja. Karena hidup hanya sekali. Sayang jika hanya diratapi.


Esok harinya...

__ADS_1


Aku pulang ke rumah ayah dan ibu. Dan seperti biasa ibuku itu baru saja membeli pakaian mewah dari butik ternama. Kulihat dia bersama teman-temannya sedang membicarakan busana tren kekinian. Sampai-sampai aku diminta oleh ibu untuk menunggu teman-temannya pulang terlebih dahulu. Hingga tak terasa aku pun ketiduran di kamar. Dan entah sudah jam berapa sekarang, kudengar ibu mengetuk-ngetuk pintu kamarku.


"Lala! Lala!"


Sebenarnya aku ini termasuk orang kaya. Ayahku seorang pengusaha tekstil kelas menengah ke atas. Tapi semua kebutuhan, ibu yang mengaturnya. Dan sayangnya ibu sering khilaf jika bertemu dengan teman-teman arisannya. Mereka mampir ke butik ternama lalu membeli pakaian yang mewah. Padahal kalau dipikir-pikir ibu tidak terlalu memerlukannya. Tapi kembali lagi ke gengsi. Maka dari itu aku harus selektif memilih teman agar tidak seperti ibu.


"Ya, Ma."


Lantas aku pun beranjak bangun untuk membukakan pintu. Dan kulihat ruang tamu sudah sepi saat ini. Ibu pun segera menanyakan tujuan kedatanganku ke rumah ini.


"Kau sudah bilang pada Rey jika akan kemari?" tanya ibuku sambil mengajakku duduk di sofa keluarga.


"Tidak. Lagipula dia juga tidak peduli aku mau ke mana," jawabku.


"Astaga ...." Saat itu juga kulihat ibuku menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2