
Dia menoleh ke belakangku, melihat Rey yang masih bicara dengan relasinya. "Dia sedang sibuk, apakah kau ingin berbincang sebentar denganku?" tanyanya.
Eh?!
Saat itu juga aku merasa heran. Apakah ini memang cara berkenalan orang-orang kaya? Terabas kongkol tanpa peduli jalanan. "Anda siapa ya?" tanyaku padanya.
Dia berdiri tegak lalu menjulurkan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya itu memegang gelas minuman. "Aku Vino, teman kuliah Rey dulu. Tapi kami berbeda fakultas," terangnya padaku.
"Vino?"
"Ya. Benar. Mungkin Rey sudah lupa padaku. Tapi aku tidak pernah lupa dengannya." Dia menuturkan.
Saat mendengar kata-kata itu, saat itu juga entah mengapa aku merasa ada dendam di antara mereka. Aku pun harus berjaga-jaga dari percakapan ini. Aku harus segera pergi. Tapi...
"Lala! Apa yang kau lakukan di sini?!" Belum sempat pergi, pria gila itu sudah terburu menghampiri.
Habislah aku ....
Rey menatapku tajam, seperti ingin menerkam. Kedua alisnya pun naik seketika. Tatapan matanya seperti ingin menelanku saat ini. Seketika itu juga aku teringat pada pesannya.
__ADS_1
Astaga, aku lupa jika sedang berpura-pura.
"Sayang, maaf. Aku hanya sedang ingin mencoba ini."
Aku tersenyum manis padanya lalu memberikan manisan yang kuambil. Saat itu juga Rey melihat ke arah pria yang ada di sampingku ini, Vino. Tapi sepertinya bukan Vino G Bastian.
"Kembali fokus ke acara!" pintanya sambil menarik tanganku. Sedang matanya itu menatap tajam ke arah Vino.
Tu kan benar, ada sesuatu di antara mereka.
Mau tak mau aku pun menurutinya. Pada akhirnya kunikmati acara ini. Menemani ke mana Rey pergi. Aku mengekor saja padanya. Karena nyatanya aku memang harus bersandiwara.
.........
.........
Dua jam kemudian...
__ADS_1
Aku baru saja sampai di rumah sehabis menghadiri pesta. Dan ya, suamiku itu tampak diam saja sejak berpamitan pulang kepada si empu acara. Aku sendiri hanya diam dan terus memainkan peranku sebagai istri kontraknya. Hingga akhirnya kami sama-sama masuk ke dalam rumah. Saat itulah Rey menunjukkan sifat aslinya.
"Lala, aku ingin bicara padamu," katanya saat aku ingin masuk ke dalam kamar.
Aku berhenti melangkah lalu berbalik ke arahnya. "Ada apa, Tuan?" tanyaku, belum mengerti apa yang ingin dia bicarakan.
Kulihat dia memalingkan wajahnya sambil mengatur napas berulang kali. Seperti orang yang habis berlari. Tersirat emosi di dalam dirinya seperti ingin meledak. Atau dia hanya ingin menggertak dengan gestur tubuhnya yang seperti orang marah?
"Siapa yang memintamu untuk bicara pada pria itu? Siapa?!" tanyanya padaku.
"Pria? Maksudmu Vino, Tuan?" tanyaku balik.
Rey berjalan mendekatiku. "Aku tidak pernah memintamu untuk mendekatinya. Kenapa kau mendekatinya?!" tanyanya seraya menggertakkan gigi. Dia seperti benar-benar marah padaku.
Sejenak dahiku berkerut mendengar pertanyaannya itu. Dia berprasangka buruk padaku. Padahal aku tidak pernah mengajak siapapun bicara. Aku diam saja saat di pesta. Vino pun datang dengan sendirinya lalu menyapaku. Apa salah jika aku menjawab sapaannya?
"Tuan, aku tidak pernah mengajaknya bicara. Aku juga tidak pernah mendekatinya. Tolong jangan tuduh aku dengan asumsimu. Karena apa yang kau pikirkan itu salah." Aku membela diri.
"Kau memang kurang ajar, Lala!" Dia mencercaku.
__ADS_1
"Ap-apa?!" Aku pun tak percaya dengan responnya.
"Kau harus ingat siapa dirimu. Kau itu sudah menjadi istriku. Dan kau harus ingat betapa besar biaya yang telah aku keluarkan untuk ini. Sekalipun kau menjual diri seumur hidupmu, kau tidak akan sanggup membayar semua utang ayahmu!" Dia menunjukku sambil mengatakan hal yang menyakitkan itu.