DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Tentang Rey dan Vino


__ADS_3

Lantas saja Vino menarikkan satu kursi untukku. Aku pun mulai duduk di dekatnya. Mencoba mengambil napas dalam-dalam untuk menormalkan keadaan hatiku. Tak lama kemudian dia pun menelepon bagian resepsionis kafe ini. Seorang pelayan datang membawakan daftar makanan dan minuman kepada kami. Aku pun menjadi Lala kembali.


Sepuluh menit kemudian...


Pelayan kafe membawakan pesanan kami. Vino pun memintaku untuk segera meminum jus yang telah dipesan. Dan ya, aku meminumnya. Begitu juga dengan Vino. Dia kemudian memulai pembicaraan siang ini.


"Maaf, La. Jika kau merasa ada perbedaan saat sebelum dan sesudah kita mengenal." Dia mengatakan padaku.


Saat itu juga aku tersadar jika dia memerhatikan perasaanku. Dia peduli terhadap perasaanku. Sampai-sampai kata maaf itu terucap dari bibirnya. Yang seharusnya tidak perlu dia katakan padaku. Karena nyatanya aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya seorang pekerja saja.


Vino menghela napasnya lalu melihat kekejauhan. Ke arah burung yang berterbangan di angkasa siang ini. Aku pun merasakan sesuatu sedang terjadi padanya. Tapi aku tidak mau mengira-ngira. Aku ingin mendengar langsung dari dirinya saja.


"Aku ... aku dan Rey satu ayah lain ibu." Vino menceritakan padaku.

__ADS_1


"Ap-apa?!"


Saat itu juga aku terkejut seketika. Pantas saja aku merasa ada kemiripan pada mereka. Tapi tidak terlalu jelas karena aku juga tidak memedulikannya. Tapi saat dia berkata seperti itu, saat itu juga entah mengapa rasa penasaran semakin bertambah di hati ini.


Vino mengangguk. Dia menunduk lalu memutar minuman yang telah dipesannya. Ia mengaduk minuman berwarna biru itu agar tercampur dengan warna merah yang ada di atasnya. Aku pun masih menunggunya bicara.


"Rey tidak menyukaiku. Bahkan saat kalian menikah juga dia tidak mengundangku," tuturnya lagi.


Saat itu juga aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka. "Kak Vino, waktu itu kau bilang Rey--"


Seketika itu juga aku tak percaya dengan apa yang kudengar ini. Pantas saja Rey ingin cepat menikah walau tanpa cinta di hati. Ternyata semua karena hal ini. Dia memiliki misi tersembunyi.


"Lalu bagaimana dengan isu dirinya itu, Kak?" tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


Vino menoleh ke arahku yang duduk di samping kirinya. Dia kemudian menatapku.


"Pasar perusahaan Rey adalah orang-orang kalangan atas negeri ini. Dia seringkali berbaur dengan bos-bos besar dari luar negeri yang suka sekali berfoya-foya dengan hartanya. Rey pun banyak dekat dengan pria jadi-jadian di sana. Karena hal itulah sebelum ayah menyerahkan perusahaan itu kepadanya, ayah meminta bukti jika Rey bukanlah seorang gay. Dan Rey membuktikannya dengan menikahimu," terangnya padaku. Saat itu juga aku mengerti keadaan yang sebenarnya.


Jadi ayah selama ini hanya korban ambisi Rey?


"Aku tahu sifat Rey. Dia sejak kecil tidak ingin tersaingi sama sekali. Kami berbeda dua tahun. Dan aku lebih dewasa darinya. Dia begitu iri jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Sehingga karena hal itulah dampaknya terkena padaku juga." Vino menjelaskan.


"Maksud Kak Vino?" tanyaku.


Vino menunduk dengan tatapan sedih. "Ayah hanya memberiku jabatan General Manager di perusahaannya. Yang mana seharusnya mendapatkan posisi sebagai CEO di sana." Vino menjelaskannya dengan baik padaku.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Lala, maafkan aku. Aku tidak mempunyai maksud buruk padamu. Aku hanya khawatir dia menyia-nyiakanmu. Seperti apa yang terjadi beberapa tahun lalu." Kembali Vino membuka sebuah rahasia yang selama ini belum aku ketahui.


"Maksud Kak Vino pernah terjadi sesuatu pada Rey sebelum ini?" tanyaku lagi.


__ADS_2