DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
B Aja


__ADS_3

Rey ke mana ya?


Hatiku mulai merasa cemas saat teringat dengan kejadian sebelumnya. Aku teringat jika tadi Vino datang lalu meminta bantuan padanya untuk mengoleskan salep di telur Rey. Tapi kini sudah jam sebelas malam saja. Mereka pun tidak ada di dalam kamar. Entah ke mana mereka.


Kutelepon saja.


Lantas aku kembali ke kamar untuk mengambil ponselku. Aku ingin menelepon Rey atau Vino untuk menanyakan di mana keberadaan mereka. Aku khawatir terjadi sesuatu pada keduanya. Tapi...


Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


Itulah kata-kata yang kudengar dari operator selular saat mencoba menelepon keduanya. Ternyata ponsel mereka tidak aktif juga.


"Ya ampun, bagaimana ini?! Mereka tidak kenapa-kenapa, kan?!"


Hatiku semakin cemas karena tak ada kabar dari Vino maupun Rey. Aku juga jadi merasa bersalah kepada mereka. Tidak seharusnya sampai ketiduran dan membiarkan mereka berdua di dalam kamar. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Tak patut disesali saat semua sudah terjadi. Yang kubisa saat ini hanya menunggu kabar dari salah satunya.

__ADS_1


"Eh? Suara mobil?!"


Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, sepertinya rasa cemas dan khawatirku bisa hilang segera. Aku mendengar suara mobil yang datang ke rumah ini. Aku juga mendengar pintu gerbang yang dibuka lebar-lebar. Tidak salah lagi jika Rey yang datang.


Lantas aku pun keluar kamar untuk membukakan pintu. Tak lupa kuhidupkan semua lampu di rumah ini agar terang. Lalu setelahnya menuju pintu depan. Dan saat kuintip dari jendela, ternyata benar Rey yang datang. Dia pulang sendiri dengan membawa mobilnya. Dia terlihat sudah sehat tidak seperti sebelumnya.


Kak Vino hebat! Dia berhasil membuat Rey tidak sakit lagi!


Entah apa yang dilakukan Vino, sepertinya sudah berhasil membuat Rey jadi sehat kembali. Aku juga merasa senang karena tidak harus direpotkan lagi. Kulihat Rey berjalan menuju pintu rumah ini sambil membawa dua tas belanjaan. Dia kemudian membuka pintunya dari luar. Dan baru kusadari jika dia ternyata mengunciku di rumah ini sedari tadi.


"Hah!" Kudengar dia mengembuskan napas lelahnya.


Sontak Rey kaget mendengarku. Tubuhnya tersentak hebat lalu menoleh cepat ke arahku. Mungkin dia kira aku ini hantu.


"Kau!" Kulihat dia pun mendengus kesal melihatku.

__ADS_1


"Kau sudah baikan? Bawa apa? Aku lapar," tanyaku.


Dengan tanpa malu aku pun melihat isi tas belanjaannya. Dan ternyata ada pizza. Lantas kuambil saja tas itu lalu segera mengeluarkan isinya. Aku ingin makan pizza.


"Wah ... kelihatannya enak."


Aku pun duduk di lantai ruang tamu lalu lekas mencicipinya. Saat itu juga kulihat wajah Rey seperti orang yang tak terima. Dia berdiri diam di hadapanku sambil menenteng satu tas belanjaannya. Raut wajahnya pun seperti orang tak senang tapi tak mampu melampiaskan amarahnya. Sedang aku ... biasa-biasa saja. Aku terus melahap pizza ini di hadapannya.


"Ini! Makan saja semua!"


Dia pun berkata seperti itu padaku. Menyerahkan satu tas belanjaannya lagi padaku. Lalu kemudian pergi berlalu.


Dia kenapa?


Aku pun memerhatikannya yang berlalu pergi dengan mulut penuh pizza. Tapi karena pizza ini enak, tak kuhiraukan dirinya. Aku kembali makan saja. Aku juga membuka tas belanjaan yang satunya. Dan ternyata berisi cemilan dan juga minuman ringan. Jadi ya sudah. Mari kita habiskan!

__ADS_1


...Rey...



__ADS_2