
"Kau sudah datang? Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya.
Dia menanyakan kabarku?
Tentu saja saat dia bertanya seperti itu, saat itu juga rasa di hatiku ini semakin berbunga-bunga. Bagaimana tidak, pertama kali yang dia tanyakan adalah bagaimana kabarku. Tentu saja aku merasa terenyuh dengan pertanyaannya itu. Karena nyatanya pria yang telah menjadi suamiku tidak pernah menanyakannya. Dia malah menghinaku dengan kata-katanya. Seolah aku ini tidak ada harganya.
"Sudah selesai jual dirinya? Laku berapa?"
Kata-kata menyakitkan itu pun kembali teringat di benakku. Sontak saja membuat aku sedih kembali. Mengapa harus orang lain yang perhatian padaku? Kenapa tidak suamiku sendiri? Apakah aku ditakdirkan hidup di dunia ini hanya untuk disakiti?
"Lala?"
Vino pun menyadari aku yang mulai sedih. Dia berjalan cepat ke arahku lalu melihat wajahku ini. Aku pun menunduk sedih di hadapannya. Aku tidak berani melihatnya, karena malu dengan apa yang terjadi padaku. Aku merasa dia terlalu baik padaku.
__ADS_1
"Lala, apa yang terjadi padamu?"
Dia pun menanyakannya seraya mencoba memegang wajah ini. Saat itu juga aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri jika aku membutuhkan kasih sayang darinya. Lantas aku pun segera memeluknya.
"Kak Vino ...."
Saat itu juga aku berusaha mengeluarkan energi negatif yang bertubi-tubi dijejalkan ke pikiranku. Aku menangis. Ya, aku menangis di pelukan seorang pria yang bukan suamiku. Aku tidak lagi bisa menahan kesedihan ini. Aku sedih, terluka dan tertekan dengan kenyataan yang ada. Kenapa yang aku harapkan malah tidak jadi nyata? Malah orang yang aku abaikan memberiku segalanya? Mengapa? Mengapa?
"Lala ...."
"Lala, apa yang terjadi padamu?"
Perlahan-lahan aku pun merasakan tangan Vino bergerak. Tapi bukan untuk membalas pelukanku, melainkan memegang kedua lengan ini lalu menjauhkan diriku. Saat itu aku juga tersadar jika Vino adalah pria baik. Tidak seperti pria gila yang tinggal seatap denganku. Vino pun memerhatikan wajahku ini.
__ADS_1
Bola mata hitamnya bergerak untuk memastikan keadaanku. Saat itu juga aku ingin bilang jika mau menyerahkan diri ini padanya. Tapi apakah pantas aku lakukan kepada yang bukan suamiku? Tentunya hal ini sudah melanggar norma yang ada.
"Kak Vino, kenapa kau terlalu baik padaku?" tanyaku dengan isakan tangis yang coba kutahan ini.
Vino menelan ludahnya. Ia tampak memerhatikanku tanpa bicara sepatah kata juga. Pada akhirnya aku menunduk malu karena tidak mendapat balasan yang setimpal darinya. Vino masih membatasi dirinya terhadapku. Padahal aku sudah menyerahkan diri ini padanya, walaupun tidak secara terang-terangan. Lalu akhirnya dia pun mengusap kepalaku.
"Kita bicara ya."
Dia pun mengajak ku untuk duduk bersama di kursi kafe ini. Yang mana payung besar melindungi sekitarnya dari panas matahari siang ini. Aku pun menurutinya. Aku mencoba mengusap air mataku sendiri. Vino pun tersenyum padaku. Dia lalu mencubit pelan pipiku. Entah mengapa aku merasa sangat dimanjakan olehnya.
Kak Vino, bolehkah aku berkata jika kau adalah pria yang kubutuhkan?
.........
__ADS_1
...Vino...