
Tak lama kudengar suara pintu gerbang rumah ini dibuka dari luar. Aku juga mendengar suara kendaraan yang masuk ke dalam. Aku pun lekas-lekas turun ke lantai satu untuk melihat siapa gerangan yang datang. Aku mengintipnya terlebih dahulu. Dan ternyata...
Rey?! Dia bersama wanita lagi?!
Aku pun terkejut melihat Rey dipapah keluar oleh seorang wanita berdres biru. Tapi, aku tidak boleh marah. Cukup tidak peduli saja padanya maka semua akan cepat selesai. Toh, dia juga memintaku untuk tidak mempertanyakan apa urusannya. Jadinya aku diam saja.
Suara bel rumah berbunyi, aku pun segera membukakan pintu. Saat itu juga kulihat Rey seperti sedang mabuk kembali.
"Kau istrinya?" tanya wanita yang bersama Rey itu.
"Bukan. Aku pembantu di rumah ini, Nona," jawabku yang sontak membuat Rey seperti bersendawa. Mungkin dia terkejut dengan jawabanku ini.
Aku tidak tahu Rey benar mabuk atau tidak. Aku tidak peduli karena ingin cepat-cepat lepas dari ikatan ini. Wanita yang bersama Rey pun lalu memintaku untuk tidak menghalangi jalannya. Dia bilang minggir dengan suara yang tinggi. Dan tentu saja aku pun mempersilakannya. Aku tak peduli pada keduanya. Kulihat mereka pun naik ke lantai dua bersama.
__ADS_1
Dia ingin cek in di sini?
Lantas aku pun segera menutup pintu lalu berjalan ke lantai dua. Tapi aku tidak ke kamar Rey. Aku ke kamarku sendiri. Kututup pintu lalu mengambil earphone-ku. Aku akan mendengarkan musik keras-keras malam ini. Jadi suara ******* mereka tidak akan terdengar. Karena sekarang aku tidak mau memedulikannya lagi. Aku ingin membahagiakan diriku sendiri.
Satu jam kemudian...
Aku masih mendengarkan musik di depan meja belajar sambil bermain game di laptopku. Game zombie vs plants ini menjadi temanku yang baru saja selesai belajar. Suara musik yang kuputar juga di atas normal. Sehingga tidak bisa mendengar suara dari luar. Namun, tiba-tiba saja...
Apa itu?!
Eh?!
Aku pun menoleh ke belakang untuk memastikannya. Dan sepertinya memang pintu kamarku lah yang didobrak. Saat itu juga aku jadi berpikiran yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Astaga, apakah ada maling?!"
Aku pun panik seketika. Aku tidak mempunyai sesuatu untuk membela diri ini. Kubiarkan saja pintu itu didobrak dari luar lalu aku pun melihat halaman depan. Dan ternyata tidak ada mobil selain mobil Rey sendiri. Tentu saja pikiranku tentang maling hilang seketika. Aku pun jadi harap-harap cemas terhadap seseorang yang mendobrak pintu kamarku ini.
Siapa ya? Apakah Rey yang mendobraknya?
Mungkin sudah berlalu satu jam dari kepulangan Rey ke rumah ini. Sejak itu juga aku kembali ke kamar dan meneruskan belajarku. Earphone-ku ini masih terhubung di telingaku. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Aku pun harus membawa ponsel agar tetap bisa mendengarkan musik. Aku ingin tahu siapa yang mengedor pintu kamarku. Pelan-pelan aku mengintipnya. Dan ternyata...
Rey?! Astaga!
Saat itu juga kulihat jika Rey lah yang mendobrak pintu kamarku. Dan karena tidak ingin mencari masalah, aku terus pura-pura tidak mendengarnya saja. Aku kembali ke meja belajar lalu menikmati alunan musik sambil menggelengkan kepala. Hingga akhirnya...
BRUKK!
__ADS_1
Pintu kamarku berhasil didobraknya. Aku pun segera mengambil kaca kecil untuk melihat keadaan di belakangku ini. Tepat ke arah pintu masuk kamar. Dan kulihat dari pantulan cermin, raut wajah Rey begitu menyeramkan. Seperti amarah sudah membeludak-ludak di dalam hatinya. Dia seperti ingin menerkamku malam ini. Tak akan memberi kesempatan untukku lari.