
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun lalu langsung membereskan rumah. Mulai dari mengelap perabotannya sampai menyapu rumah ini. Baik di dalam maupun halamannya. Hingga akhirnya kulihat mentari terbit di ufuk timur. Tiba saatnya bagiku untuk mandi lalu bergegas berdandan rapi. Aku ada pemotretan hari ini.
Semalam, Rey menutup pintu kamarnya tanpa bicara padaku. Aku pun tidur kembali setelah perut ini terisi penuh. Lalu kembali bangun saat fajar datang. Aku menjalani rutinitasku sebagai seorang istri kontrak dan juga sebagai mahasiswi yang belum lulus dari kampusnya. Dan kini statusku bertambah saja saat harus menghidupi diri sendiri. Aku menjadi model kontrak sebuah perusahaan mobil ternama.
Sejujurnya aku menyukai bidang pekerjaanku. Karena hanya dalam beberapa kali pemotretan saja bisa mendapatkan uang yang banyak. Tentu saja semua itu tidak terlepas dari campur tangan kakak tiri Rey sendiri, Vino Mahendra. Yang mana aku kepincut dengannya. Dia perhatian padaku ketimbang adik tirinya yang berstatus suamiku itu.
Baiklah. Saatnya membuat sarapan.
Kini aku telah mandi dan berdandan rapi. Aku pun segera membuatkan sarapan untuk seseorang yang masih berada di dalam kamarnya. Pagi ini kubuatkan nasi goreng sosis yang mudah saja. Dengan toping bawang goreng renyah di atasnya. Dan setelah oseng sini oseng sana, akhirnya nasi gorengku jadi juga.
__ADS_1
Selesai.
Tepat pukul tujuh pagi aku sudah selesai membuatkan sarapan. Aku pun lekas beranjak ke lantai dua untuk menyiapkan keperluan Rey bekerja. Aku juga menyiapkan kaus kaki untuk dipakainya. Dan juga air hangat untuknya mandi. Semua itu sudah menjadi rutinitas harianku. Yang mana tidak bisa tidak kukerjakan sendiri. Karena Rey tidak mengizinkan ada pembantu di rumah ini.
"Tuan, bangun."
Aku pun mencoba membangunkannya. Kulihat dia masih bergumul dengan selimutnya. Dan karena waktu yang terus berjalan, akhirnya kuberanikan diri untuk menyentuh hidungnya.
Dia masih memejamkan mata dan juga sedikit mendengkur. Mungkin dia kelelahan atau masih ingin terlelap dalam mimpinya. Tapi karena sudah pukul tujuh, aku tarik saja selimutnya. Aku tarik agar dia lekas terbangun. Tapi, saat itu juga...
Eh? Kenapa yang bangun yang lain?
__ADS_1
Kulihat ada yang tegak tapi bukan menara. Ada yang tegang tapi juga bukan listrik. Mungkin memang seperti inilah kebanyakan pria saat pagi. Entahlah, lebih baik kubangunkan saja.
"Tuan, bangun! Aku ingin pergi bekerja! Nanti kau telat!"
Dan seperti biasa, dia tidak juga meresponku. Dan karena kesal, kutinggalkan saja dia. Aku ada kontrak pemotretan hari ini.
Belasan menit kemudian...
Aku duduk di teras rumah sambil melihat-lihat obrolan di grup model. Tak berapa lama sebuah mobil hitam mewah pun datang lalu menglakson diriku. Segera saja aku menutup pintu lalu beranjak keluar dari halaman rumah ini. Dan ternyata benar saja jika dia datang menjemputku. Dialah Vino yang menjemputku pagi ini.
Kaca mobil diturunkan, pintu mobil terbuka dari dalam. Aku pun segera tersenyum kepada si empu mobil lalu bergegas masuk ke dalamnya. Hari ini kami akan menuju ke sebuah tempat yang sama untuk urusan yang berbeda. Tampak Vino yang mengenakan blezer cokelat formalnya. Dia terlihat tampan dan juga berkharisma. Kami pun segera melaju meninggalkan rumah ini. Kami mempunyai pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
__ADS_1
Bicara apa ya? Kenapa jadi kikuk seperti ini?