
Saat itu juga aku terdiam.
"Kau tidak boleh melakukan sesuatu jika tidak kuizinkan. Jadi kau harus menuruti apa kataku!"
Dia berkata seperti itu lalu keluar kamar dengan raut wajah yang kesal. Sampai-sampai bahuku ini terkena senggol olehnya. Saat itu juga ingin sekali melawan ucapannya. Tapi, kembali lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menurutinya. Jika bukan karena ayah, tentunya aku juga tidak ingin memedulikannya.
"Kau harus melayaninya dengan baik. Perjanjian telah ayah sepakati bersamanya. Utang kita terlalu besar untuk dilunasi. Dan dia sudah berbaik hati untuk melunasinya. Hanya dengan menikahkanmu padanya. Maka jangan kecewakan dia. Karena jika hal itu sampai terjadi, sama saja dengan menjatuhkan ayah."
Kembali teringat akan perkataan ayahku setelah pertengkaran hebat waktu itu. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menuruti perkataan Rey saat ini. Aku telah dijual ayah dan dibeli olehnya. Dengan ikatan pernikahan yang resmi namun tanpa cinta di hati. Dan aku harus bertahan selama dua tahun ke depan. Agar bisa terbebas dari perjanjian dengan aman. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan.
Sore harinya...
__ADS_1
Aku baru saja pulang berbelanja membeli keperluan sehari-hari. Aku naik taksi untuk pulang dan pergi. Namun, saat baru sampai di rumah, kulihat mobil Rey sudah terpajang di halaman depan. Dia pulang lebih cepat dari kantornya. Atau mungkin memang ada urusan di rumah. Lantas saja aku segera masuk sambil membawa barang belanjaanku.
"Dari mana?"
Kata-kata itulah yang dia tanyakan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Sesaat setelah aku masuk ke dalam rumah sambil membawa semua barang belanjaanku. Dan sepertinya dia tidak perlu menanyakan aku dari mana. Matanya masih sehat, sehingga pasti bisa melihat barang belanjaan yang begitu banyak kubawa. Tapi dia dengan angkuh menaikkan satu kakinya ke atas meja.
"Ikut aku ke pesta relasi. Aku tunggu setengah jam dari sekarang," katanya, memberi perintah padaku.
Tentu saja waktu yang dia berikan itu terlalu cepat bagiku. Bagaimana mungkin bisa berdandan rapi dan cantik hanya dalam waktu tiga puluh menit? Apakah dia ingin mempermalukanku di hadapan teman-teman relasinya? Tentu saja aku harus menjaga nama baikku bagaimanapun caranya.
"Setengah jam hanya cukup untuk memilih pakaian, Tuan Rey. Beri aku keringanan. Satu setengah jam aku sudah siap untuk menemani kemanapun Anda pergi," kataku mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
Saat itu juga kulihat Rey menegakkan tubuhnya. Dia menatapku penuh pesan tersirat. Seperti tak terima dengan negosiasi yang kuberikan.
Apakah aku salah berkata?
Rey beranjak berdiri. Dia kemudian mendekatiku. Dari raut wajahnya tersirat tidak menyukaiku. Aku sendiri tidak ingin memedulikannya. Toh, pernikahan kami hanya sebatas perjanjian semata. Tidak lebih dari itu. Aku pun diam di tempat sambil menunggunya bicara.
"Kita ke salon sekarang!" katanya, memintaku untuk mengikutinya.
Sungguh jika bukan karena permintaan ayah, aku juga tidak akan mau menjadi istrinya. Kami baru bertemu dua kali. Kenal juga baru satu minggu ini. Lalu apa yang bisa diharapkan dari hubungan ini? Tidak ada sama sekali selain memenuhi perjanjian agar tidak terkena pinalti.
Baiklah, Lala. Mengalah saja demi kebaikan.
__ADS_1
Lantas kuletakkan semua barang belanjaanku ke atas meja. Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku menurut saja dan tidak berbicara apapun padanya. Aku malas menanggapinya, apalagi untuk bercanda tawa.