DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Minta Saran


__ADS_3

Aku tidak mau peduli lagi padanya. Aku juga tidak mau peduli lagi dengan amarahnya. Aku telah menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Tapi jika dia hanya menginginkanku sebagai pelampiasan emosi, maka cari saja boneka yang tak bernyawa. Karena aku punya hati.


Rey, maaf. Cukup sudah kau memperlakukanku bak pelampiasan amarahmu. Sekarang terserah apa yang akan kau lakukan. Aku tidak peduli lagi. Karena aku punya hak untuk membahagiakan diriku sendiri.


Satu minggu kemudian...


Waktu terus berlalu sampai tak terasa sudah satu minggu dari pertengkaran malam itu. Dan selama satu minggu ini juga Rey tidak pulang ke rumah. Entah ke mana dia, aku juga tidak ingin memedulikannya. Seperti apa yang dia katakan padaku, aku tidak punya hak untuk menanyakan apapun kepadanya. Jadi ya sudah, ikuti saja kemauannya.


Kini aku sedang duduk di kafe terdekat SMA-ku. Kafe yang selalu ramai menjadi tempat nongkrongan siswa-siswi di sekolahku. Dan di sini pula aku menunggu seorang teman datang. Namanya Rian, dia teman terdekatku sejak masa SMA. Kami janjian bertemu di sini untuk mengobrol sebentar tentang kehidupan.


"La, maaf lama."

__ADS_1


Tak lama Rian pun datang sambil membawa tas sampir dan melepas jaketnya. Temanku itu tampak lebih berisi sekarang. Padahal kalau dipikir-pikir dia bekerja sambil kuliah. Pastinya lebih lelah dari mahasiswa biasanya. Tapi mungkin karena dia bahagia dengan kesendiriannya, tubuhnya pun terbentuk dengan sempurna. Padat dan berisi otot semua.


Kami sebenarnya satu universitas. Tapi jarang sekali bertemu karena dia mengambil kuliah malam. Pagi sampai sorenya dia gunakan untuk bekerja. Barulah malam datang ke kampus untuk mengikuti mata kuliahnya. Sehingga aku tidak bisa sedekat dulu dengannya. Rian jarang sekali mempunyai waktu senggang sekarang.


"Aku pikir kau tidak bisa datang." Aku pun mengungkapkan perkiraanku.


"Maaf tidak bisa hadir di acara pernikahanmu, La. Aku sedang sibuk prakerin di luar kota kemarin." Dia mengutarakan alasan kenapa tidak bisa ikut hadir di pernikahanku.


Rian mengangguk. "Kau ingin memesan minuman?" Dia celingak-celinguk mencari pelayan kafe ini.


"Sudah, tak perlu. Aku juga tidak bisa berlama-lama. Pertemuan kali ini aku ingin meminta pendapat darimu." Aku langsung menuju ke inti pembicaraan.

__ADS_1


"Tentang apa?" Rian pun segera menanyakannya.


"Pernikahanku. Aku dinikahkan secara paksa oleh ayah karena dililit utang yang amat banyak. Konsekuensi dari pernikahanku itu aku harus jadi pelampiasan amarah seorang pria yang menikahiku. Dan kini sudah seminggu dia tidak pulang ke rumah. Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar tidak dipersalahkan?" tanyaku kepada Rian.


Rian mengangguk. "Aku mengerti. Tapi apakah pernah kau coba untuk menghubunginya lalu menanyakan di mana keberadaanya?" tanya Rian padaku.


Aku mengembuskan napas lelah. "Rian, aku tidak boleh menanyakan apapun padanya. Aku tidak boleh tahu apapun urusannya. Aku diminta hanya menuruti kemauannya saja. Dia tidak ingin aku ikut campur atau perhatian terhadap urusannya. Katakanlah aku ini seperti boneka tak bernyawa di matanya. Hanya sebagai pelampiasan amarah. Tidak lebih." Aku memaparkan kondisiku saat ini.


Rian tampak prihatin padaku. Tersirat dari wajahnya yang mencemaskan aku. Mungkin dia juga merasa kasihan dengan pernikahan yang harus kujalani ini. Tapi ia merasa bingung harus memberi solusi apa untukku. Karena khawatir salah memberi saran yang bagus untukku.


"Em, begini saja. Jika itu memang keinginannya, turuti saja. Untuk sementara kau bahagiakan dirimu. Mungkin dengan berbelanja atau mencari buku. Kau pasti lebih tahu apa yang harus kau lakukan untuk dirimu, Lala." Rian menguatkanku agar dapat bangkit dari keterpurukan pernikahan ini.

__ADS_1


Aku tersenyum, mengangguk. Tak lama kemudian kudengar ponselnya berdering.


__ADS_2