
"Nona Lala? Saya perawat yang dipanggil oleh tuan Rey ke sini. Apakah Nona tidak tahu apa yang terjadi pada tuan Rey?"
Tenyata oh ternyata yang mengetuk pintu kamarku adalah seorang perawat. Usianya seperti berbeda beberapa tahun di atasku. Tapi wajahnya sangat boros sekali. Atau mungkin karena make up-nya yang tebal?
"Em, ada apa ya? Aku baru saja pulang dan langsung mandi tadi. Ini juga baru selesai mengenakan pakaian," tanyaku balik.
Perawat itu tampak terheran denganku. "Nona, suami Nona akan dibawa ke rumah sakit. Apakah Nona tidak ingin menemaninya?" tanya perawat itu lagi.
Sungguh aneh apa yang terjadi. Rey tiba-tiba saja memanggil ambulan lalu ingin memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit. Dan perawat yang datang seolah memaksaku untuk ikut ke sana. Padahal aku sangat malas sekali. Walau kutahu penyebab dia sakit karenaku sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku ikut ke rumah sakit."
Pada akhirnya aku memenuhi permintaan perawat itu untuk ke rumah sakit. Kuambil tas lalu ponsel dan juga dompetku. Entah bagaimana nantinya, kujalani saja. Sekalipun diminta mempertanggungjawabkan perbuatanku, aku pasrah saja. Daripada memenuhi keinginannya yang tak kuharapkan, lebih baik kubayar denda. Karena aku tak rela disentuhnya.
Rumah Sakit Cempaka, pukul tiga sore waktu ibu kota dan sekitarnya...
Aku baru tiba di rumah sakit dengan membawa mobilku sendiri. Sedang Rey kubiarkan di ambulan bersama perawat itu. Aku tidak peduli. Benar-benar tidak peduli dengan apapun yang terjadi padanya. Hatiku sudah pecah berkeping-keping karena ucapan dan juga sikapnya. Sehingga tidak ada lagi ruang di hatiku ini untuk memaafkannya. Sekalipun dia membuat seribu tipu daya untuk meluluhkanku, aku tak akan goyah. Satu inginku sekarang, hanya ingin terbebas dari perjanjian. Selain itu tidak ada lagi.
"Nona Lala Kirana?"
__ADS_1
Baru saja duduk dan bercakap-cakap di grup model, tiba-tiba dokter yang memeriksa Rey sudah datang menghampiriku. Dan sebagai pemeran wanita yang baik, aku segera meninggalkan aktivitasku untuk bersapa dengan dokter itu. Dokter pun segera menjelaskan apa yang terjadi pada Rey. Bersamaan dengan itu kulihat Rey yang juga diantar menuju ke ruang rontgen. Sepertinya luka di telurnya cukup parah karena terkena lututku. Entahlah, lebih baik kudengar saja penjelasan dokter terlebih dahulu.
"Em, Nona. Bisa ikut saya ke ruang rontgen?" tanya dokter padaku.
Aku mengangguk, lalu mengikuti dokter itu menuju ruang rontgen. Tak berapa lama kulihat Rey pun segera dicek bagian dalam tubuhnya. Hasil jepretan sinar X itu juga segera muncul setelah memotretnya. Dan kemudian dokter menjelaskan padaku bagaimana situasinya.
"Em, Nona. Mohon maaf sebelumnya. Maaf, saya tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan ranjang kalian. Tapi permainan yang Nona lakukan begitu kasar sehingga membuat tuan Rey kesakitan," kata dokter padaku.
"Ap-apa?! Bisa dijelaskan ulang, Dok?"
__ADS_1
Tentu saja aku terkejut bukan kepalang mendengar penuturan dokter tersebut. Siapa juga yang naik ranjang bersama pria gila seperti Rey? Berpikir pun aku tidak pernah mencobanya. Bagaimana mungkin aku bisa berada di atas ranjang bersamanya? Ini benar-benar gila. Dia pasti sudah mengatakan hal yang macam-macam kepada dokter tentang penyebab sakitnya.
Dia harus kuberi pelajaran!