
Begitulah yang kukatakan saat mematikan mesin mobilku. Aku pun turun dari mobil lalu menuju pintu rumahku. Aku membuka pintunya lalu menyapa orang yang di dalam. Tapi saat pintu terbuka, saat itu juga kulihat suasana rumah sepi sekali. Tidak ada sampah ataupun bekas minuman yang berserakan di lantai. Lantas aku jadi heran, ke mana pesta mereka semalam?
Apakah aku sedang bermimpi? Kenapa rumah sudah rapi?
Lekas saja aku menuju ruang TV. Kuperiksa ruangan luas yang ada di rumah ini. Dan ternyata tidak ada bekas sisa pesta semalam. Aku pun jadi semakin terheran. Aku bergegas pergi ke lantai dua untuk mengecek kamar yang ada di sana. Tapi...
Apa aku harus mengetuk pintu kamarnya?
Saat tiba di depan kamar Rey, aku jadi ragu untuk mengetuk pintunya. Aku takut dia sedang bertelanjang badan bersama wanita lain. Yang mana hal itu semakin membuatku kesal dengan perjanjian. Jadi kulewati saja kamarnya. Aku bergegas menuju kamar pembantuku yang ada di sudut lantai dua. Namun ternyata, pembantuku juga tidak ada di kamarnya.
Ke mana mereka semua?
__ADS_1
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 5.15 pagi. Tapi entah mengapa pembantu rumah tangga yang kusewa itu tidak menampakkan dirinya sejak semalam. Aku pun mencoba mengeceknya ke ruangan lain. Tapi tetap saja tidak ada. Hingga akhirnya aku pasrah dan lelah. Aku ingin kembali ke kamarku saja. Aku pun bergegas menuju kamarku di lantai dua. Tapi, sesampainya di sana...
"Ya Tuhan?! Bibi!"
Jantungku berdegup kencang saat membuka pintu kamarku. Kulihat pembantuku itu diikat di kursi belajarku. Seluruh tubuhnya terikat dengan rambut yang seperti habis dijambak. Wajahnya pun tak bisa kulihat lagi. Dia sepertinya pingsan di sana. Lekas saja aku menelepon ambulan untuk datang ke sini.
"Jalan Kenanga nomor 22!"
"Nona ... tolong saya ...."
Itulah kata-kata yang dia ucapkan padaku. Tidak salah lagi jika dia telah menerima kekerasan dari pria gila itu. Aku pun lekas-lekas membuka ikatan pada tubuhnya. Dan tanpa sengaja aku melihat secarik kertas tertempel pada punggungnya. Aku pun lekas membaca apa tulisannya. Saat itu juga mataku terbelalak seketika. Sebuah pesan kudapatkan pagi ini. Pesan yang menabuhkan genderang perang denganku. Rey menuliskan pesan itu untukku.
__ADS_1
Ingin menyuruh orang menggantikan tugasmu? Baiklah. Ini hasilnya.
Saat itu juga air mataku menetes membasahi pipi. Aku tak menyangka jika Rey akan sesadis ini kepada orang lain. Aku pun lekas-lekas melepaskan seluruh ikatan yang ada di tubuh pembantuku. Dengan derai air mata dan isak tangis yang kutahan di dada. Rey benar-benar gila.
Satu jam kemudian...
"Nona Lala?"
Saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Tepatnya di depan ruang UGD bersama para pengantar yang lain. Dan kini sudah tiba giliranku dipanggil. Aku pun lekas menemui dokter yang menangani pembantuku.
"Dokter?" Aku pun menjumpainya.
__ADS_1
"Pembantu Anda mengalami trauma atas kejadian yang dialaminya. Tubuhnya sedikit memar di bagian lengan dan kakinya. Sedang bagian dalam tubuhnya setelah kami rontgen baik-baik saja. Sepertinya terjadi tindakan kekerasan kecil padanya. Berupa tarikan rambut dan juga dorongan paksa." Dokter menuturkan padaku.