
Rey beranjak berdiri, memasukkan kedua tangannya ke saku celana lalu berjalan mendekatiku. Dia kemudian berdiri di hadapanku dengan jarak sekitar satu meter saja.
"Lala, jaminan perjanjian yang tertera itu adalah dirimu. Bukan pembantumu." Dia menjawabnya dengan sinis.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikiran saat berhadapan dengannya. "Anda tidak pantas melakukan hal itu kepada orang lain, Tuan. Anda sudah melanggar hukum kemanusiaan," terangku dengan penuh kebencian.
Rey pura-pura mengusap keringat di dahinya. "Terserah apa katamu. Aku tidak peduli." Dia lalu membalikkan badannya.
"Tuan Rey Mahendra!" Aku pun menyebut lengkap namanya. "Mudah sekali Anda berbicara seperti itu sedang orang lain menanggung kerugian besar atas perbuatan Anda! Kenapa Anda suka sekali menyusahkan orang?! Tidak bisakah bermanfaat bagi orang di sekitar Anda?!" tanyaku lantang padanya.
Saat itu juga Rey terdiam di tempatnya. Dia kemudian berbalik lagi ke arahku. Aku pun tidak akan membiarkannya lepas hari ini. Dia harus mengganti uang yang sudah kukeluarkan untuk biaya rumah sakit dan berdamai dengan pembantuku.
Dia menatapku tajam. "Kalau aku tidak bermanfaat, ayahmu pasti sudah masuk penjara saat ini. Kau salah menilaiku, La." Dia berkata lagi dengan tatapan tajam yang diarahkan kepadaku.
__ADS_1
Aku pun kesal bukan main. Tanganku ini refleks melayang ke wajahnya. Hatiku dipenuhi rasa kebencian akan dirinya. Tapi, Rey dengan cepat menahan tanganku. Dia memegang erat tangan ini sampai tidak lagi bisa bergerak. Hingga akhirnya...
Apa yang dia lakukan?!!
Rey menarik tubuhku. Satu tangannya menahan tanganku, satu tangannya menahan punggungku. Hingga aku tidak bisa bergerak di hadapannya. Saat itu juga dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia seperti ingin menciumku.
Tidak! Jangan!
Saat itu juga otakku berpikir keras agar dapat melarikan diri darinya. Aku tidak boleh dicium olehnya. Tapi wajah itu semakin mendekat. Hangat napas itu juga mulai menerpa permukaan pipiku. Aku harus bergerak cepat untuk menghindarinya.
Lantas kutendang saja dirinya. Kutendang sekuat mungkin perutnya hingga dia melepaskanku. Rey pun seperti tidak mempunyai persiapan untuk menghadapiku. Dia kemudian mundur ke belakang dengan cepat dan hampir mengenai meja kerjanya sendiri. Sedang aku ... aku berusaha menormalkan laju napas ini.
"Jangan macam-macam, Tuan! Ini tidak ada di perjanjian!" Kulampiaskan amarahku padanya.
__ADS_1
Rey memegang perutnya. Dia seperti kesakitan. "Kau keterlaluan, Lala. Suamimu sendiri tidak boleh menciummu. Tapi kau umbar tubuhmu ke pria lain. Kau bagai kucing liar yang harus diberi pelajaran!" Rey seperti marah padaku.
Aku pun naik pitam. "Jangan sembarangan bicara, Tuan! Tidak ada satupun pria yang dapat melihat tubuhku. Jaga mulutmu!" Aku pun kesal padanya.
"Heh?!" Rey seperti mengejekku. "Bagaimana dengan Vino? Kau sudah memberikan itu semua, bukan?" Dia semakin membuatku kesal.
"Tuan Rey Mahendra, mulut dan pikiran Anda sama busuknya! Jangan menuduh orang sembarangan! Karena aku dan Vino tidak pernah melakukan apapun! Kau sungguh kejam menilai seseorang!" Aku pun berseru padanya.
Rey tersenyum sinis. Dia kemudian berdiri tegak sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Oh, ya? Apa perkataanmu ini bisa dipercaya?" tanyanya lagi padaku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, tidak ingin berdebat dengannya. "Terserah Anda menilaiku bagaimana. Tapi yang jelas karena perbuatan Anda, aku sudah kehilangan sepuluh juta untuk membayar rumah sakit dan berdamai dengan ART yang Anda sakiti. Jadi tolong hitung sebagai pembayaran atas utangku," kataku lalu bergegas pergi.
.........
__ADS_1
...Rey...