
Aku terdiam memikirkan ucapan Nina. Dia memang benar jika aku harus cepat-cepat mengambil waktu prakerin sebelum semakin sibuk di semester tujuh. Tapi karena aku jurusan sejarah, pastinya prakerinnya ke luar daerah. Atau paling jauh ke luar negeri untuk melihat sendiri bagaimana sejarah yang ada. Dan hal itu tentu saja memakan biaya. Terkecuali jika memang ada yang memodalinya.
"Yang lain pada ke mana?" tanyaku pada Nina, hingga akhirnya tak terasa kami pun sudah sampai di parkiran kampus ini.
"Prakerin jurusan Lo?" tanyanya balik.
"He-em." Aku mengangguk.
"Masih domisili dalam negeri lah, La. Tapi enggak tahu juga, mungkin ada yang ngambil luar negeri tahun ini. Dan pastinya nilai besar lebih mudah didapatkan," tutur Nina padaku.
__ADS_1
"Ya, karena modal yang dikeluarkannya juga besar," sahutku.
"Hahaha. Ya, itu Lo tahu. Udah cepet ambil prakerin Lo biar bisa nyantai di semester tujuh. Semester enam udah banyak ujian, lho. Kalau Lo nggak cepet, Lo bisa keteter sendiri."
Nina mengingatkanku kembali. Dia masih peduli walau sikapnya sendiri memperihatinkan. Tapi mungkin kata pepatah yang mengatakan jangan lihat orang dari sampulnya, memang benar adanya. Seperti apa yang terjadi pada Nina saat ini. Dia memang terbiasa dengan kehidupan yang bebas tapi masih peduli pada orang sekitarnya. Dan aku amat menghargainya.
Kapan ya aku mengambil jatah prakerin? Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Lagipula apa diizinkan pergi sendiri ke luar daerah atau ke luar negeri?
Malam harinya...
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aku pun baru selesai belajar dan mengerjakan sedikit tugasku. Rutinitas harian ini tidak bisa kulepaskan karena aku sangat menghargai perjuanganku sendiri. Aku harus tetap belajar sekalipun aktivitas padat merayap. Tak lain tak bukan agar toga itu cepat kudapatkan.
Kini aku sedang duduk menyandar di kursi belajarku. Aku pun tiba-tiba saja teringat dengan percakapan di kantor Rey siang tadi. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan percakapan kami. Rey seperti ingin tahu banyak tentang hubunganku dan Vino. Entah benar atau tidak, sepertinya aku juga tidak perlu terlalu memusingkannya. Toh dia juga tidak peduli padaku.
"Kak Vino sedang apa ya?"
Sehari tak bertemu dengannya, aku mulai rindu. Pria tampan yang merupakan kakak iparku itu segera menelusup ke pikiran ini saat aku tidak sibuk. Dan ya, aku pun mencoba melihat isi galeri ponselku. Aku ingin melihat fotonya saat semalam mengajak ku berjalan-jalan sebentar. Dan ya, dia memang tampan rupawan. Terlebih saldo di ATM-nya triliunan.
Rasanya tidak rugi menjalin hubungan dengannya. Karena uang jajan pasti aman. Tapi, aku tidak tahu bagaimana perasaan Vino yang sebenarnya. Apakah dia sekedar ingin memberi pelajaran pada adiknya atau benar-benar menyukaiku? Rasanya aku harus mencari cara lain untuk menarik hatinya. Jadi mari segera kita coba.
__ADS_1
"Hah ... lelahnya ...."