
Segar dan tenang. Itulah yang kurasakan pagi ini setelah merelaksasikan pikiran dengan mandi menggunakan sabun aroma terapi yang kubeli. Aku pun lekas mengambil pakaian dari dalam lemari dan mengenakan pakaian santai. Hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi untukku. Hanya saja sehabis makan siang aku harus datang ke studio pemotretan. Ada produser yang ingin menemuiku dan membicarakan soal pekerjaan. Sehingga aku mempunyai waktu santai beberapa jam ke depan.
"Lala!"
Tiba-tiba saja kudengar suara pintu kamarku diketuk dari luar. Bersama dengan suara seseorang yang memanggil namaku. Aku pun lekas-lekas membukakan pintu untuk memenuhi panggilan. Dan kulihat pria bersweter hitam itu sudah berdiri di depan pintu. Dia memasang raut wajah yang tidak kuinginkan. Dingin seperti kulkas dua pintu. Aku pun mencoba menyapanya setelah kejadian semalam.
"Tuan Rey, tumben datang ke kamarku?" Aku pun mencoba menanyakan tujuannya ke sini.
"Aku ingin bicara padamu," katanya yang tumben-tumbenan ingin bicara padaku.
"Tentang apa? Apakah ini tentang kontrak kita?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Tentang Vino. Priamu itu." Dia berbicara lagi dengan intonasi yang amat dingin.
Entah dia cemburu, entah dia marah, aku juga tidak tahu pastinya seperti apa. Tapi dari gelagatnya memang benar dia ingin membicarakan sesuatu tentang Vino. Aku sih biasa-biasa saja menanggapinya. Toh, aku juga sudah tahu siapa Vino sebenarnya. Entah jika dia ingin mengungkapkan sesuatu padaku, aku tidak tahu. Jadi daripada penasaran, lebih baik kuikuti saja kemauannya. Agar bisa tidur dengan tenang malam ini.
"Baiklah. Tuan ingin bicara di mana?" tanyaku padanya.
"Di taman belakang," katanya lalu pergi meninggalkanku.
Rey tampak tidak marah-marah pagi ini. Tapi dia tetap bicara seperlunya saja. Tidak berbasa-basi ataupun yang lainnya. Aku pun mengikutinya menuruni anak tangga. Sampai akhirnya kami tiba di halaman belakang rumah. Yang mana ada dua kursi dan meja kecil yang memisahkan. Dan juga pemandangan bunga yang begitu indah. Bunga mawar berwarna warni ditanam di sini. Aku pun mulai duduk di sampingnya.
"Tidak, Tuan. Memangnya siapa dia?" tanyaku balik, pura-pura tidak tahu saja.
__ADS_1
Rey tersenyum sinis. "Aku sudah membelimu dengan harga yang sangat mahal. Jika kau ingin bersamanya, mengapa tidak minta dia untuk melunasi utang-utangmu saja?" Dia menyinggung masalah seratus milyar yang diberikan kepada ayahku sebagai perjanjian dari pernikahan ini.
Aku menelan ludahku saat disinggung hal itu. "Aku akan melunasi utang itu secepatnya, Tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," kataku dengan yakin.
Dia berdecih. "Jangan terlalu percaya diri, Lala. Kau tidak akan mampu mempunyai uang sebanyak itu." Dia meremehkanku.
Sejenak aku berusaha bersabar. Tapi lama kelamaan obrolan ini semakin menyakitkan. Lantas saja kutanyakan segera apa tujuan sebenarnya mengajak ku bicara. Saat itu juga kuketahui jawabannya.
"Jika kau sampai tersentuh olehnya, maka kau telah melanggar perjanjian ayahmu. Kau harus membayar sepuluh kali lipat dari perjanjian itu."
Dia ternyata ingin mengingatkanku tentang pinalti perjanjian. Aku pun mengambil napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Perjanjian ini sungguh tidak mengenakkan bagiku. Bisakah Anda memberiku keringanan? Aku sedang bekerja sekarang. Tidak mungkin tidak tersentuh orang. Bisakah Anda gunakan pikiran yang lebih waras lagi, Tuan?" tanyaku memberanikan diri.
Kulihat Rey tersentak dengan perkataanku. Dia pun beranjak berdiri lalu menatapku dengan tajam. Tapi, aku tidak ingin mencari masalah dengannya. Aku harus bisa membuatnya menceraikanku. Lantas saja aku berusaha menggodanya agar dia tidak marah padaku. Aku punya niatan untuk membuatnya jatuh berlutut di hadapanku. Setelah itu kucampakkan dia jauh-jauh.