
Rey mengambil obat dariku. Berupa tablet bulat yang rasanya pasti pahit untuk meredakan rasa nyeri dari dalam. Sedang dari luar...
"Bantu aku oleskan pada yang sakit!" pintanya.
"Apa?!" Aku pun tak menyangka jika dia akan memintaku untuk melakukannya.
"Oleskan, Lala. Kau tidak mengerti bahasa manusia?" tanyanya yang membuatku kesal.
Arrrghhh! Rey!!!
Sungguh dia kembali membuatku marah. Rasanya ingin sekali kubekap saja wajahnya dengan bantal agar dia tidak bisa bernapas. Sehingga aku bisa hidup tenang tanpa harus mematuhi perintahnya. Permintaannya ini benar-benar membuatku gila. Bagaimana mungkin aku mengoleskan salep yang diberikan dokter ke daerah telurnya? Sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya!
Aku beranjak berdiri. "Tuan, kau punya banyak wanita. Kenapa tidak meminta kepada wanitamu saja untuk mengoleskannya? Kenapa harus aku?" Aku menolak mentah-mentah permintaannya.
Dia menatapku dengan serius. "Kau yang membuatku seperti ini, kenapa harus meminta wanita lain? Memangnya kau bukan wanita?!" Dia balik bertanya padaku.
Semakin banyak kami berinteraksi, semakin sakit hatiku mendengar setiap perkataannya. Memang seharusnya kami tidak banyak bicara untuk melindungi hati ini dari hinaan dan caci maki mulutnya. Tapi kembali lagi, ada asap pasti ada api. Rey memintaku melakukannya karena aku yang membuatnya nyeri. Lantas kalau sudah begini, apa yang bisa kulakukan lagi?
"Baiklah. Buka celanamu." Aku pun akhirnya pasrah.
__ADS_1
Rey tersenyum menyeringai padaku. Mungkin dia merasa senang karena keinginannya kuturuti. Sedang aku segera mengambil salep lalu meletakkannya sedikit di jariku. Aku akan mengoleskannya.
Ya Tuhan, tanganku akan ternodai sore ini.
Rey terlihat bersemangat sekali melepas sabuk celananya. Sedang aku memalingkan pandangan agar tidak melihatnya. Dia kemudian melempar celana panjangnya ke sofa kamar. Dia juga beranjak menurunkan celana boxernya. Tapi, saat itu juga...
Siapa ya?
Kudengar suara bel rumah ini berbunyi. Aku pun tersadar jika ada yang datang.
"Sebentar," kataku tanpa melihatnya. Aku pun segera keluar dari kamar mewahnya ini.
Lantas aku beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Turun dari lantai dua lalu melewati ruang TV yang besar. Dan sesampainya di pintu, kulihat seorang pria tengah berdiri menunggu. Aku pun membukakan pintu untuknya.
"Kak Vino?" Aku pun kaget melihat Vino sudah ada di depan rumahku.
"Em, maaf, Lala. Aku mampir ke sini. Apakah mengganggu?" tanyanya padaku.
Saat itu juga aku merasa heran. Mengapa Vino bisa datang ke rumahku? Padahal siang tadi kami baru saja bertemu. Apakah dia ingin menemuiku atau ada alasan lain? Sungguh aku tidak enak hati menerima kedatangannya. Tapi lebih tidak enak jika menolaknya. Terlebih Vino adalah atasanku. Dia yang memberiku pekerjaan dan juga gaji yang besar.
__ADS_1
Aduh, bagaimana ini? Kalau kusuruh masuk, nanti pria gila itu malah marah. Kalau kuusir, nanti malah aku tidak bisa dapat pekerjaan lagi. Lalu bagaimana melunasi utang-utang ayahku nanti?
Aku pusing sendiri. Benar-benar pusing berada di situasi seperti ini. Tapi, tak lama kemudian sebuah ide kudapatkan untuk menyelesaikan semuanya. Lantas akupun mempersilakan Vino masuk ke dalam. Aku ingin meminta bantuannya.
"Silakan masuk, Kak. Kebetulan Lala lagi butuh bantuan." Aku tersenyum padanya.
Vino membalas senyumku. Dia kemudian masuk ke rumah ini. Aku pun mempersilakannya duduk di sofa tamu. Vino juga melihat-lihat keadaan di dalam rumahku. Sedang aku segera mengambilkannya air minum. Mungkin dia haus jadinya mampir ke rumahku.
"Silakan, Kak."
Sebotol minuman isotonik kuberikan padanya. Vino pun segera meneguknya. Dia ternyata kehausan. Lantas segera kuutarakan maksud hatiku padanya.
"Kak, Lala mau minta tolong," kataku padanya.
"Minta tolong apa?" tanyanya, lalu meminum lagi minuman isotonik yang kuberikan.
"Tolong oleskan salep di telur Rey. Dia kesakitan," kataku yang membuat Vino menyemburkan minuman itu dari mulutnya.
"Ap-apa?! Apa aku salah dengar???"
__ADS_1
Saat itu juga raut wajah Vino berubah seketika. Ia seperti orang yang tak percaya.