
"Tuan Rey ...,"
Aku mendekatinya lalu memegang pipinya dengan jemari tanganku. Tanganku pun seolah menuruni lehernya hingga ke dada bidangnya. Saat itu juga aku mencoba untuk merasakan bagaimana detak jantung pria gila yang ada di hadapanku ini. Yang mana nyatanya sama saja. Berdetak seperti biasa tanpa ada hentakan keras sedikitpun.
"Aku akan berjuang keras untuk melunasi semua utang ayahku. Tapi setelah itu jangan pernah mencaciku. Karena aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran. Jadi, jangan pernah menantangku untuk melakukan hal yang tidak-tidak dan membuatmu malu. Kau harus tahu publik masih mengetahui kita sebagai suami-istri. Maka jangan sampai aku membongkar semua kebobrokanmu di depan mereka. Karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap perusahaanmu. Berhati-hatilah pada wanita nekat sepertiku."
Aku tersenyum padanya. Senyum palsu yang mengembang di hadapan wajahnya. Aku pun menepuk pipinya dengan jari-jemariku ini. Setelahnya kutinggalkan dia dan kembali ke kamarku. Tapi sebelum sempat, ternyata ada yang memencet bel rumah ini. Aku pun lekas menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang. Dan ternyata, ART-ku.
Baiklah. Mari cepat kita selesaikan hal ini.
Lantas kuterima dengan baik pembantu rumah tangga yang telah kusewa tanpa bilang kepada Rey terlebih dahulu. Aku masih ingat hal-hal apa saja yang tidak boleh aku lakukan selama berada dalam masa perjanjian. Jadi mungkin tidak apa menyewa pembantu untuk meringankan pekerjaanku. Aku yang membayarnya untuk menggantikan pekerjaan rumah tangga. Semoga saja setelah ini ada kemajuan dari pria gila itu. Dia tidak lagi memaksaku untuk melakukan ini dan itu. Karena sekarang pembantuku lah yang akan menggantikannya.
__ADS_1
Sore harinya...
Aku datang ke studio dan segera menemui produser yang akan mempekerjakanku. Dia tertarik untuk melakukan kontrak denganku setelah nama dan fotoku terpajang di majalah fashion ibu kota. Tapi setelah berbincang lama, akhirnya didapati sebuah keputusan yang mencengangkan bagiku. Dimana aku diminta untuk berpose mengenakan bikini di depan kamera. Yang mana hal itu mendesakku untuk bertemu Vino segera.
"Jadi dia akan membayarmu mahal dengan busana seperti itu?" tanya Vino padaku.
Kami sedang duduk di kafetaria ibu kota. Tapi di dalamnya, bukan di luar seperti biasanya. Kebetulan Vino baru saja menemui relasinya di sini. Jadi ya sudah, kami pun memutuskan untuk bertemu. Karena aku bingung dengan tawaran yang diberikan produser itu.
"Berapa upah yang dia janjikan untukmu?" tanya Vino lagi.
"Sepuluh ribu dolar dalam satu kali pemotretan," jawabku.
__ADS_1
Vino tampak menimbang ulang harga yang kukatakan. Dia sepertinya memikirkan hal ini baik-baik. Dia kemudian menjawab kegelisahanku.
"Itu terlalu berisiko, La. Apalagi kau masih belum pernah tersentuh. Aku khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Terlebih bayarannya cukup besar untuk seorang pemula. Aku khawatir ada sesuatu dibaliknya." Vino tampak mencemaskanku jika mengambil job itu.
"Lalu bagaimana? Aku butuh banyak uang untuk melunasi semua utang ayahku. Seratus milyar itu sangat besar bagiku, Kak." Aku mencoba memintanya berpikir kembali.
Vino mengangguk. "Kau masih punya surat perjanjiannya?" Vino menanyakan surat perjanjian itu.
"Suratnya ada di ibuku. Aku hanya memotretnya saja," kataku lagi.
"Baik. Berikan padaku. Biar aku pelajari terlebih dulu." Dia seperti ingin membantuku.
__ADS_1