
Vino mengangguk. "Tidak hanya padanya. Tapi padaku juga." Vino terasa berat untuk mengatakannya.
Entah mengapa aku semakin penasaran dengan mereka. Aku ingin tahu masa lalu dan juga di mana keberadaan orang tuanya. Vino membuatku selalu penasaran dan terus penasaran. Sungguh aku ingin tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Aku harus tahu medan perangku.
"Dulu ... aku menyukai seorang gadis. Tapi karena sifat Rey yang tidak mau kalah, dia akhirnya membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Tapi setelah dia mendapatkannya, gadis itu disia-siakannya. Gadis itu akhirnya mengakhiri hidupnya. Dan aku menjadi saksi atas kehancuran hatinya. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya. Dan aku khawatir hal itu terjadi kembali padamu, Lala." Vino menjelaskan padaku.
Saat itu juga jantungku berdetak keras sekali. Bukan karena terpesona atau terpukau dengan pria di sampingku ini. Melainkan karena rasa sesak akibat cerita yang kudengar. Sebegitu jahat kah Rey yang sebenarnya? Dengan segala sifat dan apa yang dia punya?
"Kak Vino ... aku rasa aku tidak menyukainya. Tidak ada perasaanku terhadapnya." Pada akhirnya aku pun mengatakan apa yang ada di hati ini.
"Kau tidak menyukainya? Kau yakin itu akan bertahan lama?" Vino seperti menginginkan jawaban yang pasti dariku.
Aku mengangguk. "Aku lebih menyukai kakaknya," kataku yang sontak membuat Vino terperanjat seketika.
__ADS_1
Vino terkejut dengan pengakuanku ini. Dia mengusap kepalanya seakan tak percaya. Saat itu juga aku memberanikan diri untuk memegang tangannya. Dan Vino pun membiarkannya.
"Kak Vino ...." Aku menyapanya lagi.
Mungkin hal ini terlalu cepat untuk kukatakan. Tapi aku rasa semakin cepat lepas dari jeratan pernikahan ini akan semakin baik. Toh, sekarang aku sudah mengetahui siapa Vino dan Rey sebenarnya. Yang mana mereka memiliki kepribadian yang berlawanan. Bak bumi dan langit yang tidak akan pernah bisa menyatu. Dan aku pun lebih tertarik pada kakaknya, dibandingkan adiknya yang tidak berperasaan itu. Tapi, apakah Vino bisa menerimaku apa adanya? Aku khawatir dia berpikiran yang tidak-tidak terhadapku.
Vino tersenyum dalam balutan wajah tak percayanya. Dia kemudian melihatku lalu meletakkan tangan satunya ke atas tanganku. Sehingga tanganku ini terhimpit oleh kedua tangannya.
"Terima kasih, Lala. Aku harap hal ini memang benar adanya."
"Kak Vino, di mana kekasihmu?" tanyaku padanya.
Saat itu juga Vino seperti tersedak sendiri. Dia pun segera melepas tanganku lalu lekas-lekas meneguk minumannya. Dia tampak malu-malu di hadapanku.
__ADS_1
"Kak Vino?" Aku menanyakannya lagi.
"Ah, iya." Dia menyeka mulutnya dengan tisu. "Maaf. Aku agak terkejut jika ditanyakan seperti itu." Dia tampak malu.
Aku pun mulai bersikap luwes padanya. Aku menopang wajah dengan satu tanganku di depannya. "Jangan bilang Kak Vino punya banyak wanita seperti Rey." Aku mulai menyelidikinya.
Dia tertawa di depanku lalu mengusap kepalaku ini. "Hahaha. Aku masih sendiri, La. Aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak memikirkan hal itu." Dia berkata padaku.
"Oh, benarkah? Apakah kriteria Kak Vino terlalu tinggi? Padahal semua manusia punya kebutuhan, lho." Aku pun menyeruput jusku ini. Pura-pura bercanda padahal aku serius ingin mengetahui jawabannya.
Dia tertawa kembali sambil menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin satu saja. Tentunya yang serius padaku. Tanpa paksaan atau alasan apapun." Dia berkata lagi.
Aku mengangguk-angguk. "Lala mau sama Kak Vino." Aku pun mengajaknya bercanda kembali.
__ADS_1
Saat itu juga dia terdiam seketika. Seperti berpikir dengan candaanku ini. Dia memerhatikanku dalam tanda tanya yang besar. Benarkah yang kukatakan ini? Atau hanya kepura-puraan? Lalu pada akhirnya aku pun mencoba meyakinkannya.