
...Lala...
...Vino...
.........
Tak tahu mengapa, aku merasa kaku untuk memulai pembicaraan bersama Vino. Padahal tampilanku hari ini sudah modis sekali. Sweater putih dipadu jeans hitam dan juga kaca mata besar menjadi gayaku hari ini. Tapi entah mengapa aku malah kurang percaya diri untuk membuka obrolan bersamanya. Hingga akhirnya kami memasuki jalan raya. Kami pun masih diam dan tidak bicara.
Kenapa dia diam saja ya padaku?
Tak tahu mengapa, Vino diam saja. Dia tidak bicara sepatah kata juga. Dia hanya sesekali melirikku atau melihat dari kaca tengah mobilnya. Sedang aku sedikit ragu untuk bergerak dengan leluasa. Atmosfer berubah canggung yang entah mengapa. Apakah ini adalah akibat dari hal yang kemarin sore aku lakukan padanya?
Tidak. Kami baik-baik saja.
__ADS_1
Lantas aku pun berusaha bersikap biasa. Kutarik napas dalam lalu kuembuskan perlahan. Hari ini aku akan bekerja. Maka jangan sampai menunjukkan ketidakprofesionalanku padanya. Karena hal itu akan berdampak buruk bagi pekerjaanku ke depannya.
Baiklah, Lala. Mari menjemput rezeki hari ini.
Tak berapa lama kami pun tiba di sebuah studio pemotretan yang ada di kota ini. Aku akan menjadi model untuk kebaya modern desain terbaru. Semoga pekerjaanku lancar dan tanpa kendala.
Beberapa menit kemudian...
Aku masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan untuk pemotretan. Vino pun berjalan di sisi kananku. Ia masih diam tanpa bicara sepatah kata juga. Hingga akhirnya kami bertemu dengan fotografer yang ada di sini. Vino lalu memperkenalkanku pada fotografer itu.
"Ya. Akhirnya aku bisa datang kemari setelah berebut tempat." Vino seperti mengajak bersenda gurau.
"Hahahaha. Kami tidak tahu jika Anda telah memiliki model sendiri sekarang. Maafkan kami." Fotografer itu pun tampak menyesal.
"Vino!!!"
Tiba-tiba saja kudengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil nama Vino. Wanita itu bertubuh sintal dan juga berpakaian seksi. Dia menghampiri kami lalu mengajak Vino cipika-cipiki. Saat itu juga aku terbelalak melihatnya. Entah mengapa hatiku merasa miris sekali.
__ADS_1
Dia begitu dengan mudahnya menerima cipika cipiki dari wanita lain?
Hatiku berubah sendu dalam sekejap. Aku pun menunduk lalu memalingkan pandangan darinya. Dan mungkin saja fotografer ini mengerti apa yang sedang kurasakan. Dia segera mengajak ku untuk berganti pakaian. Pemotretan akan segera dimulai.
"Nona, mari. Tim make up sudah menunggu."
Dia pun mengarahkanku menuju ruang make up studio ini. Dan dengan hati yang sedih, aku pun meninggalkan Vino bersama wanita itu dengan tanpa berkata apa-apa sama sekali.
Dua jam kemudian...
"Oke. Sekali lagi. Ya, angkat sedikit dagunya."
Begitulah yang dikatakan oleh fotografer saat memasuki sesi akhir dari pemotretan ini. Tak berapa lama dia pun mengakhiri sesinya dengan melihat hasil pemotretan hari ini. Tim make up juga segera menghampiriku untuk memberikan mantel agar tidak kedinginan. Karena nyatanya sesi pemotretan kali ini menggunakan kipas angin yang begitu besar. Aku pun merasa kedinginan.
"Oke. Cukup."
Pada akhirnya aku kembali ke ruang ganti untuk mengenakan pakaianku kembali. Sedang riasan kuhapus sedikit agar tidak terlalu mencolok pandangan. Aku pun kembali ke lobi studio untuk menemui Vino yang ada di sana. Dan ternyata, dia masih bercakap-cakap dengan wanita itu sambil tertawa. Kembali hatiku merasakan sakit yang entah mengapa.
__ADS_1