DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Mengusahakan


__ADS_3

...Lala...



.........


"Besok ada pemotretan, La. Lumayan V-nya untukmu. Kau sibuk besok?" tanyanya padaku.


Vino ternyata tidak hanya menjadi tempatku mengadu. Tapi dia juga memberiku pekerjaan dengan bayaran yang besar. Dan kini dia menunjukkan nota kesepahaman padaku atas pekerjaan yang dia dapatkan. Dan ya, aku membacanya lebih dulu.


"Pemotretan kebaya modern? Kak Vino bagaimana bisa mendapatkannya?" Aku pun terheran dengannya.


Vino adalah GM di perusahaan mobil terkemuka negeri ini. Dia membawahi banyak supervisor penjualan mobil di perusahaannya. Tapi entah mengapa dia kini menjadi manajerku juga. Dia memberiku pekerjaan di luar modeling dengan perusahaannya.


"Aku dapat info dari temanku. Katanya mereka membutuhkan model dengan cepat. Jadi kuambil saja pekerjaan ini untukmu. Lumayan untuk tambahan kuliahmu," tukasnya yang membuatku terharu seketika.

__ADS_1


Sungguh aku ingin sekali Vino yang jadi suamiku. Dia tampan, rupawan, kaya raya, peduli dan juga perhatian. Aku rasa tidak akan kekurangan jika bersamanya. Tapi aku juga tahu jika kami tidak bisa bersama. Apalagi utang seratus milyar itu belum kulunaskan. Jadinya aku hanya bisa mengkhayal saja.


"Lala mau, Kak. Tapi Lala belum kenal sama orang-orang di sana. Lala kan belum punya manager," kataku, apa adanya.


Vino tertawa tertahan. "Nanti aku temani. Kebetulan salah satu supermodel negeri ini juga ada di sana. Dia ingin membeli mobil keluaran terbaru. Nanti kujemput ya." Dia mengatakan padaku.


Aku mengangguk. Tentu saja mengangguk karena tidak bisa menolak tawarannya. Apalagi dia juga akan menemaniku di sana. Jadi ya sudah, terabas saja. Semua pasti aman, lancar tanpa kendala.


"La."


"Kau cantik," katanya yang membuatku hampir tersedak napasku sendiri.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Pria berkemeja krim yang duduk di hadapanku ini memujiku dengan kata cantik. Apa benar dia pria omega? Menyukai gadis kutu buku dan juga cupu. Jika benar, sepertinya aku harus lebih banyak membeli kaca mata.


Dia ini sungguhan atau bohongan sih?

__ADS_1


Aku tidak tahu harus tertawa atau sedih. Aku bingung sejadi-jadinya. Baru kali ini dia menyebutku dengan kata cantik. Apa aku sudah masuk kriteria wanita idamannya? Entahlah. Lebih baik kuminum saja jus yang baru saja datang ini.


"Silakan, Nona, Tuan."


Dan pada akhirnya kuseruput jus melonku ini. Kulihat Vino pun tertawa melihatku. Sepertinya dia ingin aku bergantian memujinya. Jadi lantas saja aku memujinya. Aku ingin tahu reaksinya.


"Kak Vino tampan," kataku yang membuat dia terdiam seketika.


Vino pun seperti orang yang bingung. Dan wajahnya terlihat lucu sekali. Dia terlihat diam sambil mengunyah daging kerang yang baru saja dimakannya. Dan untungnya saja dia tidak tersedak makanannya sendiri. Aku pun terus memerhatikannya. Memerhatikan penuh cinta dan harapan yang besar. Dan tak lama dia pun tersadarkan.


"Em, Lala. Jangan terlalu banyak menatapku. Aku grogi."


Dia pun segera meneguk air minum lalu mengambil tisu untuk menyeka mulutnya. Aku pun kegirangan melihat responnya ini. Ternyata dia pria pemalu yang maunya memuji tapi tidak mau dipuji. Lantas saja aku juga meneruskan makanku. Kami bersantap siang bersama sebelum jam kantor tiba.


Ibu kota, pukul satu siang...

__ADS_1


Akhirnya aku sampai di rumah juga. Dan sesampainya di rumah kulihat pria gila itu sedang berkaraoke ria di sana. Tapi dia hanya sendirian, tidak lagi mengajak teman-temannya.


__ADS_2