
Rey kemudian berlalu. Dia meninggalkanku sendiri. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu keras-keras. Sedang aku...
Apakah dia begitu rendah menilai seorang perempuan?
Sedang aku berusaha bersabar atas semua sikapnya. Walau pada kenyataannya hatiku ini sakit sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Kata-kata menyakitkan itu kuterima setiap hari. Setiap jam bahkan setiap menit saat berada di dekatnya. Aku bak tidak ada harganya.
Bersabarlah, Lala. Kau masih harus bersamanya sampai dua tahun lagi.
Kadang aku tidak habis pikir dengan alasan dibalik pernikahan ini. Mengapa Rey mau menikahiku sampai berani membayar mahal? Apakah dia benar-benar membutuhkan orang untuk dicaci maki? Aku ini bak tempat pelampiasan amarahnya. Dia tidak mempunyai hati.
Lantas karena tidak ingin terhanyut perasaan sedih, aku pun masuk ke dalam kamarku. Aku tidak ingin memedulikannya lagi. Ya, mulai detik ini aku tidak akan memedulikannya. Aku akan bersikap masa bodok terhadapnya. Terserah jika dia mau marah-marah lagi. Aku tidak peduli.
Esok harinya...
__ADS_1
Cuaca cerah pagi ini mengantarkanku menuju kampus yang kurindukan. Hari ini kuberanikan diri untuk datang ke kampus dan kembali belajar. Tentunya dengan terlebih dahulu menyiapkan semua keperluan si tuan arogan. Dari pakaiannya sampai sarapan paginya. Lalu aku pun berangkat ke kampus menaiki taksi.
Kulihat kampus pagi ini sudah mulai ramai. Maklum sudah jam delapan. Aku pun segera menuju kelas untuk bertemu teman-teman. Tapi sesampainya di depan pintu, kulihat beberapa teman sefakultasku itu sedang ramai membicarakan sesuatu. Aku pun mencoba mendengarkannya sejenak dari luar.
"Oh, jadi Lala married sama cowok kaya itu? MBE mereka?" tanya temanku berbaju kuning.
"Enggak, Cuy. Lala baru semingguan doang kenal sama dia. Bokapnya yang maksa buat nikah," kata temanku yang lain.
"Kok bisa ya? Apa bokap Lala nggak tahu kalau cowok itu suka main perempuan?" tanya temanku berbaju biru.
"Tapi kasihan juga si Lala kalau sampai dijual bokapnya sendiri." Temanku yang lain ikut menimpali.
Sejenak aku terdiam mendengar pembicaraan mereka. Rasanya teman-temanku itu tidak salah berbicara. Karena nyatanya aku memang begini. Aku dijual ayahku dan dibeli olehnya.
__ADS_1
Kasihannya dirimu, Lala. Lambat laun semua orang akan tahu bagaimana pernikahanmu yang sesungguhnya.
Lantas aku pun mencoba masuk ke dalam kelas. Saat itu juga salah satu dari mereka menyadari kehadiranku. Mereka kemudian menyambutku dengan perasaan tidak enak. Maklum habis mengghibahiku.
"La, Lo udah masuk? Gimana kabar Lo?"
Aku pun tidak menjawab pertanyaan itu. Aku hanya diam dan terus berusaha tersenyum saja. Aku harap teman-temanku tidak lagi mempertanyakan apa alasannya. Aku sudah lelah dengan ini semua.
Siang harinya...
Dosen akhirnya mengizinkanku untuk mengikuti studi lagi. Dan kini aku baru saja selesai mengikuti dua mata kuliahku. Aku pun berjalan keluar kelas untuk menuju parkiran. Tapi, saat baru beberapa meter melangkah, kulihat ada seseorang di ujung sana. Dia sedang berbicara bersama rektor kampus. Sontak aku pun terperangah melihatnya.
"Vino? Ngapain dia di sini?"
__ADS_1
Aku teringat dengan seorang pria yang semalam menyapaku di pesta. Tidak salah lagi jika itu memang Vino. Tinggi tubuhnya, paras tampannya, dan juga senyum manis sebagai ciri khas dirinya. Lantas karena tidak ingin menambah masalah, aku lekas pergi saja. Aku tidak ingin ketahuan olehnya jika kuliah di sini. Tapi, saat itu juga...
"Lala!" Dia ternyata menyadari keberadaanku.