DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Semakin Dekat


__ADS_3

"Kak Vino, lihat burung yang terbang di sana!" Aku pun menunjuk sepasang burung yang terbang di angkasa.


"Mana?"


Vino pun mengarahkan pandangannya ke burung yang kutunjuk itu. Dan saat itu juga aku memberanikan diri untuk menciumnya. Mencium pipi kirinya yang terasa begitu lembut sekali. Dan saat itu juga Vino menoleh ke arahku. Dia memerhatikanku dengan bola mata hitamnya. Seolah tak percaya dengan hal yang kulakukan ini.


"Aku belum pernah disentuh olehnya. Kami juga belum pernah berhubungan suami-istri." Kujelaskan padanya agar dia yakin padaku.


Saat itu juga kulihat Vino menelan ludahnya. Dari raut wajahnya tersirat jika dia sudah mulai percaya pada perasaanku.


"Lala ...." Dia pun menyebut namaku.

__ADS_1


Aku tersenyum padanya. "Terima kasih, Kak Vino. Selamat bekerja kembali." Aku pun mengatakannya.


Dia terdiam sambil menelan ludahnya berulang kali. Aku pun beranjak berdiri karena sadar sebentar lagi jam masuk kantor akan tiba. Aku pun beranjak pergi darinya.


"Kak Vino sampai nanti ya. Lala pulang dulu."


Aku pun berpamitan padanya yang masih terdiam di tempat. Aku berjalan meninggalkannya dengan perasaan bahagia bercampur senyum yang ceria. Ternyata hatiku ini kepincut olehnya. Sesaat aku berbalik ke belakang untuk melihatnya, dan ternyata dia sudah berdiri sambil memegangi pipinya. Aku pun tertawa melihatnya.


Kulihat dia seperti orang yang kebingungan di sana. Aku pun lekas menuruni anak tangga untuk melanjutkan aktivitasku hari ini. Aku ingin berbelanja sebelum pulang ke rumah. Jadi ya sudah, mari kita nikmati hidup ini. Tanpa mengeluh, tanpa menyerah. Karena kita adalah pejuang.


Tiga Minggu kemudian...

__ADS_1


Tak terasa tiga Minggu sudah berlalu dari pertemuanku dengan Vino waktu itu. Dimana dia menceritakan bagaimana hubungan yang sebenarnya dengan Rey. Dan sejak saat itu aku lebih agresif padanya. Dalam arti aku yang menawarkan diri untuk menemaninya ke mana-mana. Mungkin bisa dibilang aku ini adalah pasangannya daripada seorang pekerjanya. Karena hampir di setiap acara aku bersamanya.


Kutahu kehidupan ini akan terus berlanjut sepahit apapun pil kehidupan itu ditelan. Dan perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan hidup yang keras ini. Dimana aku harus bekerja untuk menghidupi diriku sendiri.


Ya, ayah tidak lagi memberiku uang jajan karena dianggap tidak menuruti perintahnya. Begitu juga dengan Rey yang memang sejak awal tidak memberiku nafkah. Baik nafkah lahir maupun batin. Tapi setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega sekarang karena masih ada Vino di sisiku. Dia memberiku pekerjaan dan kesempatan belajar lebih banyak di dunia modeling. Dan kini namaku mulai masuk dalam jajaran model pendatang baru versi majalah fashion ibu kota.


Vino banyak membantuku. Walau sejujurnya kami juga jarang bertemu. Atau mungkin lebih tepatnya kami jarang bercengkrama. Dia begitu sibuk memasarkan mobil-mobil dari luar ke negeri ini. Dia mempunyai target khusus yang harus dicapai. Sehingga tidak bisa selalu bersamaku. Dan kini aku telah mempunyai mobil sendiri. Semua tak lain berkat bantuannya.


"Hah ... lelahnya ...."


Kini aku baru sampai di rumah. Pukul sebelas malam baru tiba di rumah setelah beraktivitas seharian. Walaupun begitu aku tetap menjalani kewajibanku sebagai seorang istri. Bangun di pagi hari dan menyiapkan segala keperluan Rey untuk bekerja.

__ADS_1


Semenjak aku kuliah sambil bekerja, semua pakaianku dan pakaiannya kulondri saja. Sehingga pekerjaan rumah tangga jadi lebih sedikit terasa ringan. Inginnya sih menyewa seorang ART. Tapi nanti aku disangka malas sebagai istri. Jadi kukerjakan saja apa yang kubisa, sedang sisanya kubayar ke ahlinya.


__ADS_2