DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Tak Tahu Waktu


__ADS_3

Hubunganku dan Rey juga masih seperti awal-awal kami menikah. Tidak ada perubahan yang signifikan dalam dua bulan terakhir. Saat kami bertemu pun kami berdiaman. Saat berpapasan juga tak ada kata yang dibicarakan. Rumah besar bak istana ini terasa hampa dan tak bernyawa. Aku pun hanya bisa mengikuti permainannya saja. Dia acuh, aku lebih bisa. Dan begitu seterusnya.


"Suara mobil?"


Kudengar ada suara mobil yang masuk ke halaman rumah ini. Aku pun melihatnya dari jendela kamarku. Dan kulihat Rey pulang bersama beberapa orang temannya. Kulihat jam di dinding pun sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dan mereka sepertinya berpasangan. Dua orang wanita dan satu lelaki datang bersama Rey ke rumah ini. Entah siapa, aku pun mencoba tidak memedulikannya.


Lebih baik aku berbenah diri dulu.


Lantas saja aku membasuh wajah dan menyegarkan diri ini. Sebelum tidur pastinya badan harus dalam keadaan bersih. Jadi mari membersihkan diri ini dengan mandi. Mandi air hangat yang merelaksasikan badan setelah lelah bekerja seharian.


Satu jam kemudian...


Berisik. Itulah yang kurasakan saat baru terlelap dalam mimpi. Tak tahu apa yang terjadi, kudengar suara musik begitu kencang sekali. Aku pun beranjak bangun untuk melihatnya. Aku keluar kamar lalu berniat untuk ke lantai satu. Tapi sebelum sampai, sebuah pemandangan miris harus kulihat dini hari ini. Di mana Rey bersama teman-temannya sedang asik minum-minum di sana. Aku pun tak percaya dengan apa yang kulihat ini.

__ADS_1


Siapa mereka sebenarnya?


Lantas saja kuambil ponsel untuk memotret kebersamaan mereka. Setelahnya kukirimkan kepada Vino hasil potretanku ini. Aku pun bertanya padanya siapa sebenarnya yang bersama Rey itu. Dan setelahnya aku lekas kembali ke kamarku. Mengunci pintu lalu mengambil earphone untuk mendengarkan musik di ponsel ini. Tapi tak berapa lama kemudian, Vino meneleponku. Dia ternyata belum tidur di jam satu pagi ini.


"Halo?" Aku pun mencoba mengangkat teleponnya.


"Lala, kau baik-baik saja?" tanya Vino kepadaku. Seperti biasa dia selalu menanyakan keadaanku.


Kudengar dia seperti sedang berada di perjalanan. "Aku baru selesai menghadiri pesta. Dan ini sedang menuju ke rumahmu," katanya yang mengejutkanku.


"Apa?!" Aku pun tak percaya.


"Aku ingin ikut bersama mereka berpesta di sana. Boleh?" tanyanya padaku.

__ADS_1


Sejenak aku pun berpikir keras mengenai hal ini. "Em ... apa tidak apa-apa, Kak?" Aku mengkhawatirkannya.


Vino seperti tersenyum di sana. "Tak apa. Sekali-sekali aku ingin ikut bergabung bersama adikku. Kau tidak keberatan, bukan?" tanyanya lagi.


"He-em." Aku pun mengangguk.


"Bisa tolong bukakan gerbang untukku, La? Aku sudah mau sampai di rumahmu," pintanya yang membuatku tak percaya.


Eh, dia cepat sekali sampai di sini? Apakah dia mengebut di jalanan?


Lantas saja aku segera keluar dari kamar. Aku pun berjalan menuruni anak tangga dengan telepon yang masih terhubung dengannya. Saat itu juga Rey menyadari kehadiranku. Mungkin dia tak menyangka jika aku pulang ke rumah malam ini.


Dengan pakaian tidur, aku pun melewatinya. Sedang dia diam di tempatnya. Namun, teman-temannya itu menatapku dengan sinis. Terutama wanita berdres ungu yang duduk di sana. Dia seperti jijik melihatku.

__ADS_1


__ADS_2