DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Terpesona?


__ADS_3

Sesampainya di salon rias...


Rey membawaku ke sebuah salon terkenal di ibu kota. Rupanya pria yang sudah menjadi suamiku ini bukanlah orang sembarangan. Sampai detik ini aku belum tahu siapa dirinya dan bagaimana latar belakangnya. Aku hanya memenuhi permintaan ayah. Tapi saat datang ke salon ini, ternyata pemikiranku itu salah.


Rey adalah seorang konglomerat yang dihormati pebisnis kelas atas. Dan salon yang kukunjungi ini ternyata salon langganan ibunya. Terbukti para pegawai salon begitu menyambut kedatangannya bak raja.


Rey kemudian berbicara kepada resepsionis salon ini. Dia lalu menandatangi sebuah surat yang entah apa isinya. Lalu kemudian dia menggesek kartu debitnya. Setelah itu pergi yang entah ke mana. Sedang aku dipersilakan masuk oleh pegawai salon ini. Aku akan segera didandani.


Pergilah dan jangan kembali.


Sampai detik ini aku belum tahu alasan pasti mengapa Rey menginginkan pernikahan sampai berani membayar mahal. Kami juga tidak bicara apa-apa setelah menikah. Aku bersikap acuh tak acuh padanya. Seperti yang dia inginkan. Aku juga tidak ingin terlalu memusingkan apa maunya. Jika bisa kuturuti, jika tidak ya aku bicara saja. Seperti saat dia meminta setengah jam untukku berdandan. Aku segera menolaknya.


Kini aku diminta duduk oleh penata rias salon ini. Wajahku diberi krim dingin yang entah apa jenisnya. Lalu dia mulai mendandaniku dengan memoleskan krim padat. Sedang aku pasrah saja. Sekalipun didandani bak topeng monyet, aku terima. Toh, ayah sudah menjualku kepadanya.

__ADS_1


Empat puluh menit kemudian...


Gaun putih dengan bagian dada terbuka ini tentu saja memperlihatkan lekuk dadaku yang tidak seberapa. Entah mengapa aku dipakaikan gaun seperti ini oleh pihak salon. Saat mencoba bertanya, penata rias bilang hanya mengerjakan apa yang dipintakan. Itu berarti Rey sendiri yang memintaku untuk mengenakan gaun terbuka seperti ini. Apa dia ingin menjualku nanti?


Mungkin dia ingin aku bersandiwara seperti kucingnya.


Kami belum terlalu mengenal tapi sudah terjalin ikatan pernikahan. Dan pesan ayah mengatakan agar aku menuruti semua kemauannya. Jadinya aku diam saja. Walau sangat risih saat mengenakan gaun yang seperti ini. Tapi karena memakai push bra jadinya lebih berisi.


Baiklah, Lala. Mari kita mulai sandiwara ini.


Eh, dia menungguku?


Saat keluar ruangan rias, saat itu juga kulihat Rey sedang duduk di sofa tunggu sambil membaca surat kabar. Aku pun menoleh ke penata rias agar menyapanya. Dan Rey pun segera tersadarkan jika aku sudah selesai.

__ADS_1


"Tuan Rey, Nona Lala sudah siap." Penata rias mengatakan.


Rey menoleh sedetik ke arahku. Dia kembali membaca surat kabar, seolah tidak peduli. Tapi, dia segera menoleh ke arahku lagi lalu beranjak berdiri. Saat itu juga aku tersenyum padanya.


"Bagaimana, Sayang? Apakah gaun ini bagus?" tanyaku mulai bersandiwara di depan penata rias.


Saat melihatku, saat itu juga Rey menelan ludahnya. Semburat aneh itu juga mulai muncul dari wajahnya. Aku pun hanya bisa tersenyum, berharap penampilanku tidak mengecewakannya.


"Aku sudah siap," kataku lagi.


Dia masih diam di tempat sambil terus memerhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah apa yang ada di pikirannya. Tiba-tiba saja...


.........

__ADS_1


...Lala...



__ADS_2