DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Tawaran Menarik


__ADS_3

Aku mencoba untuk tidak memedulikannya saat ini. Agar dia mengerti bagaimana sakitnya tidak dipedulikan. Walau nyatanya aku masih kasihan dan menyajikan makanan untuknya. Tapi biarlah waktu yang menjawab semuanya. Lebih baik kita bergegas saja dan beraktivitas kembali.


Siang harinya...


Hujan masih turun membasahi bumi. Tapi tidak seperti tadi pagi. Kali ini hanya gerimis saja. Tidak deras seperti sebelumnya. Dan ya, aku sedang duduk di kantin kampus sambil menunggu mata kuliah selanjutnya.


Setiap hari aku kebagian dua sampai tiga mata kuliah. Kadang juga cuma satu, tergantung harinya. Dan seperti biasa aku lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama teman-teman. Karena aku tidak menyukai keramaian. Tapi sepertinya hari ini aku harus bertemu seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan pria tampan bernama Vino itu. Dia mendatangiku ke kampus siang ini.


"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya padaku.


Sejujurnya aku tidak tahu ada maksud apa dia mendekatiku. Aku pun hanya mengangguk lalu menyeruput jus alpukat ini. Dan ya, dia kemudian memesan minuman untuk dirinya sendiri. Dia juga mengajak ku bicara siang ini.


"Aku menunggumu semalaman, Lala. Tapi tidak ada juga pesan atau telepon masuk darimu." Dia ngebet sekali ingin berkomunikasi denganku.


"Tuan—"


"Ssst! Panggil aku Vino saja." Dia menyelaku.


"Baiklah, Kak Vino." Aku pun menyebutnya dengan sebutan kakak sebagai tanda hormatku.

__ADS_1


Kulihat dia tersenyum sampai memperlihatkan gigi-gigi kecilnya itu. Mungkin merasa geli dengan kata panggilanku ini.


"Baiklah. Aku membebaskanmu untuk memanggilku dengan sebutan apa saja. Tapi kuharap itu masih enak didengar." Dia berbicara lagi.


Aku mengangguk datar di hadapannya.


"Em, La. Saat ini perusahaan kami sedang membutuhkan model untuk keluaran mobil terbaru. Dan bayarannya lumayan untuk sekali pertunjukan ataupun menjadi bintang iklannya. Kau berminat?" tanyanya padaku.


"Berapa memang?" Aku pun menanyakannya segera.


"Sepuluh juta untuk satu kali show dari pagi sampai malam. Jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam. Pembayarannya juga tunai," terangnya padaku.


"Satu kali menandatangani kontrak, seratus juta untuk satu mobil. Tapi sayangnya kami tidak bisa menerima sembarang model. Model harus bersertifikat dulu. Setidaknya dia memiliki pengalaman di bidang modeling." Vino menjelaskannya dengan baik kepadaku.


Aku mengangguk-angguk. Sayangnya uang itu tidak terlalu banyak untuk cepat melunasi utang ayah kepada Rey. Mungkin benar apa yang dikatakan Rey waktu itu, jika aku tidak akan mampu untuk melunasi utang itu sekalipun aku menjual diri seumur hidup. Aku tidak akan bisa menggantikan uang yang sudah dia keluarkan.


"Apakah ada tawaran yang lebih menarik lagi?" tanyaku asal padanya.


Vino menunduk malu di hadapanku. "Maksudmu kau ingin jadi kekasihku?" Dia balik bertanya padaku.

__ADS_1


Ap-apa?! Jadi kekasihnya?! Apakah dia sudah gila?!


Saat mendengar pertanyaan itu, saat itu juga aku berpikir jika Vino sudah gila. Bagaimana tidak, aku ini sudah bersuami tapi dia malah bertanya seperti itu. Apakah dia tidak memikirkan bagaimana efek ke depannya?


"Kak Vino, aku sudah resmi menikah. Aku juga sudah bersuami. Bagaimana mungkin aku menjadi kekasihmu?" tanyaku padanya.


Vino memosisikan dirinya untuk menatapku dalam sekali. "Aku akan membantumu lepas dari jeratan pernikahan ini jika kau serius padaku." Dia mengatakannya.


"Ap-apa?!" Aku tak percaya dengan ucapannya.


"Lala, aku punya banyak aset. Aku yakin bisa melepaskanmu dari kontrak pernikahan ini." Dia mengatakannya lagi.


Aku menelan ludahku. Penasaran tapi juga deg-degan. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku memberanikan diri.


Dia tersenyum simpul di hadapanku. "Cukup serahkan dirimu padaku, maka aku akan menyerahkan semuanya padamu." Dia berkata lagi. Saat itu juga jantungku berdetak tak menentu.


.........


...Vino...

__ADS_1



__ADS_2