DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Tentang Perjanjian


__ADS_3

"Eh? Apa hubungannya, Kak?" tanyaku yang kurang mengerti.


Vino tersenyum. "Kau selalu ingin banyak tahu tentang diriku, La. Lalu bagaimana denganku?" Dia malah balik bertanya padaku.


Aku jadi bingung dengan percakapan ini. Entah mengapa Vino tidak mau menjawab pertanyaanku dengan cepat. Dia malah balik bertanya padaku yang membuat kepalaku pusing.


"Kak Vino waktu itu pernah bercerita jika menyukai gadis yang menyukai Rey. Tapi kenapa tidak tahu tipikal wanita seperti apa yang Kakak suka?" Aku pun kembali bertanya padanya.


Vino tertawa. Tawa kecil yang tertahan dari mulutnya. "Hm, ya. Kau benar. Tapi saat itu aku tidak tahu kriteria seperti apa dirinya. Yang kutahu hanya merindukannya dan ingin selalu melihatnya," tutur Vino padaku.


"Kakak rindu?" tanyaku lagi.


"Hm ...," Vino terdiam sejenak. "Mungkin bisa dikatakan seperti itu." Dia juga tampak ragu mengatakannya.

__ADS_1


Mungkin Vino tidak mengerti bagaimana kriteria wanita idamannya. Dia hanya menjalani saja sampai rasa rindu itu muncul dengan sendirinya. Yang mana ia namakan dengan suka. Aku sendiri jadi mulai mengerti bagaimana karakter Vino yang sebenarnya. Ternyata dia tidak mempunyai patokan dalam menyukai seorang wanita. Dia mengalir begitu saja seperti hulu ke hilir. Dan aku rasa bisa memasuki hatinya.


"Kau sudah lapar, La? Nanti aku pesankan makanan dari restoran bawah." Dia menanyakanku lagi.


"Em, tidak, Kak. Kita bahas saja perjanjian ayahku. Aku ingin tahu sudut pandang Kakak," kataku kepadanya.


"Oh, iya. Hampir saja terlupa."


Dia pun segera memasukkan hasil jepretan ponselku ke dalam laptopnya. Aku pun menunggu dia membaca semua perjanjiannya terlebih dulu. Semoga saja dia dapat membantuku.


"Hm, baiklah."


Vino menutup laptopnya. Dia tampak sudah mengerti dengan perjanjian yang mengikatku dengan Rey. Sedang aku...

__ADS_1


Kenapa lama-lama aku kepincut padanya ya?


Sedang aku tidak henti-hentinya melihat paras tampan kakak iparku ini. Dia begitu tampan sekali. Apakah ini yang dinamakan rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri? Sungguh hatiku tak karuan karena berlama-lama dekat dengannya.


"Di perjanjian ini hanya mengikat masa dua tahun kalian bersama. Di perjanjian ini juga tidak ada paksaan untuk berhubungan intim. Hanya saja kalian memang harus tinggal serumah dan Rey tidak diperkenankan untuk melakukan kekerasan fisik padamu. Jika itu terjadi, maka perjanjian batal dan Rey harus membayar sepuluh persen dari total perjanjian." Vino menuturkan garis besar perjanjian padaku.


Aku mengangguk. "Tapi kemarin dia bilang aku tidak boleh tersentuh orang lain. Itu menyebalkan sekali," kataku jujur.


"Dia berkata seperti itu?" tanya Vino yang terheran. Dia menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya.


"Iya, benar. Dan jika itu terjadi, aku harus membayar pinalti. Apa dia tidak terlalu kejam untukku, Kak?" Aku mencoba mengajak Vino memikirkannya.


Vino pun mendalami kata-kataku. Dia tampak memikirkan hal ini sampai akhirnya dia mengangguk sendiri. "Terkadang aku tidak bisa menebak hatinya. Mungkin dia punya maksud lain dibalik ini. Tapi setahuku uang seratus milyar itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan ayah yang telah menyerahkan perusahaan itu kepadanya. Perusahan itu bernilai ratusan triliun. Lalu untuk apa dia memintamu untuk membayar pinalti itu?" Vino pun berpikir ulang.

__ADS_1


Benar apa kata Vino, hati seseorang memang tidak bisa ditebak ataupun dilihat. Sesuatu yang tersembunyi dan hanya pemiliknya saja yang mengetahui apa isi dan tujuan di dalamnya. Sedang orang luar hanya dapat mengira-ngiranya saja. Termasuk aku dan Vino sendiri.


__ADS_2