DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Tak Terduga


__ADS_3

Dia ini sebenarnya tampan. Tapi sayang mulutnya seperti setan.


Aku menggerutu dalam hati saat mengingat semua perkataannya padaku. Aku kembali kesal jika teringat semua itu. Rasanya malas sekali untuk menjalankan saran dari Rian. Hatiku sakit dan tak berbentuk lagi. Tapi kembali harus kuingat jika ini adalah usaha terakhirku untuk merubah semuanya. Jika dia memang tidak berubah, maka aku akan berpindah ke pria lainnya. Tentunya seorang pria yang lebih bisa menghargaiku sebagai istrinya.


"Tuan, ayo bangun! Sudah pagi!" Aku pun berkata demikian kepadanya.


Rey mungkin masih asik menjelajahi alam mimpinya. Sedang aku sebisa mungkin menahan kesabaran agar tidak terbawa amarah. Dan juga agar tidak terbawa perasaan atas sikap acuh tak acuhnya padaku. Pada akhirnya aku pun mencoba untuk merebahkan diri di sampingnya. Di tepi kasur ini. Namun, tak berapa lama...


Tubuhku?!


Dia berbalik ke arahku, tidak memberi tempat untukku tidur di kasurnya. Rasanya seperti didorong saja. Aku yang tak punya persiapan pun akhirnya kehilangan keseimbangan. Aku tidak bisa mempertahankan diri dari dorongannya. Dan akhirnya, aku jatuh ke lantai. Pantatku membentur lantai kamarnya.


"Aduuuhh!!!"


Saat itu juga aku kesakitan. Aku memegang pantatku. Sungguh sakit sekali saat jatuh tak punya persiapan seperti ini. Tapi lebih sakit jika suami sendiri yang mendorongku jatuh dari kasurnya. Rey benar-benar menyebalkan sekali.

__ADS_1


Aku mengurut-urut pantatku, pingganggku, juga tulang belakangku sambil duduk di lantai ini. Sedang Rey kulihat perlahan-lahan membuka matanya. Dia kemudian menyadari kehadiranku.


"Ap-apa yang kau lakukan, Lala?!" Dia terkejut melihatku sudah berada di kamarnya.


Apa yang kulakukan? Dasar bodoh! Tentu saja aku ingin membangunkanmu!


Kembali aku menggerutu dalam hati. Tak menyangka jika dia akan berkata seperti itu setelah membuatku jatuh. Rasanya ingin sekali menjambak rambutnya agar dia tersadarkan. Tapi aku juga tahu jika hal itu tidak bisa kulakukan. Dan pada akhirnya aku mencoba berdiri tanpa berkata apapun padanya. Aku kembali ke kamar sambil menanggung kesakitan. Rey sialan!


Sarapan pagi bersama...


"Ada apa datang ke kamarku pagi-pagi?" Dia akhirnya bertanya padaku.


Kami sudah mandi. Kami juga sudah berdandan rapi. Tapi hari ini kami tidak mempunyai kegiatan untuk bekerja. Melainkan berniat untuk merelaksasikan pikiran dengan meliburkan diri. Dan ya, aku diam saja di hadapannya sambil terus menyuap nasi goreng buatanku ini. Aku mencoba untuk tidak memedulikannya setelah dia menjatuhkanku. Aku masih dendam padanya.


"Lala, aku bertanya padamu. Apa telingamu sudah tidak lagi bisa mendengarku?!"

__ADS_1


Kembali kata-kataku kasar itu kudengar darinya. Aku pun segera meletakkan sendok makanku ke piring nasi goreng ini. Meneguk segelas air putih lalu mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaannya. Sungguh aku kesal sekali.


"Aku ingin membangunkanmu, Tuan. Aku khawatir kau telat datang ke kantor," jawabku dengan tidak melihatnya.


"Di tanggal merah seperti ini? Apa kau sudah lupa ingatan?" tanyanya yang membuatku ingin melempar air minum ke wajahnya. Dia benar-benar mengesalkan sekali.


.........


...Lala...



...Rey...


__ADS_1


__ADS_2