DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Menggoda


__ADS_3

"Tuan, ada apa?" Aku pun mencoba menatapnya dengan manja.


"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Eh?!


Saat itu juga aku seperti tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya. Kedua bola matanya dingin menatapku dan hanya aura membunuh saja yang kurasakan darinya.


"Aku baik-baik saja, Tuan. Hanya malam ini ingin bersamamu," kataku sambil menggigit bibir ini.


Dia memalingkan mukanya dariku, mengembuskan napas lelah lalu menatapku kembali. "Apa kalian sudah melakukannya? Jadi aku dapat sisa?" tanyanya lagi.


"Apa???"

__ADS_1


Rey curiga jika aku dan Vino sudah naik ranjang bersama. Dan tentu saja perkataannya itu membuatku kesal sekali. Bagaimana mungkin aku naik ranjang bersama Vino, sedang bersama dirinya saja belum. Apa aku terlalu nakal di matanya?


"Tuan." Aku mencoba membelai dada bidangnya dengan jari telunjukku. "Jika kau dapat memuaskan aku, kenapa harus dengan yang lain?" tanyaku dengan intonasi meminta pengakuan.


Dia menjauhkan dirinya dariku. "Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian," katanya yang membuat roman wajahku berubah seketika.


Dia tahu apa yang terjadi? Astaga! Jangan-jangan dia menyewa orang untuk membuntutiku?!


Saat mendengarnya, saat itu juga aku jadi berpikir yang bukan-bukan terhadap apa yang telah terjadi selama ini. Jangan-jangan Rey menyewa orang untuk mencari tahu apa yang aku lakukan di luar. Jangan-jangan dia juga menyewa mata-mata untuk melihat gerak-gerikku saat bersama Vino. Sungguh aku takut jika dia sampai mengetahuinya. Aku menyesal melakukannya.


Rey menoleh sedikit ke belakang, melihatku yang merebahkan kepala di punggungnya. "Setelah apa yang terjadi kemarin ...," Dia melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya. "Jangan harap aku mau tidur denganmu." Rey pun beranjak pergi meninggalkanku.


Dia ...?!

__ADS_1


Sungguh sedih mendapat penolakan seperti ini. Rey menolakku mentah-mentah karena hal yang terjadi kemarin. Aku pun lekas mengejarnya yang ingin masuk ke kamar mandi. Tapi saat ingin masuk, saat itu juga pintu ditutup olehnya. Rey melarangku ikut masuk ke dalam. Tak lama kudengar shower air pun dihidupkan.


Gagal, deh.


Pada akhirnya malam ini rencanaku gagal. Mungkin dia dendam padaku karena telah mendorong Vino masuk ke dalam kamarnya kemarin. Sedang yang dia nantikan adalah aku yang datang. Dan mungkin dia tidak bisa menerima hal itu. Sehingga malam ini aku harus terabaikan.


Sabar, Lala. Masih ada dua puluh hari lagi.


Lantas aku pun kembali ke kamar dengan perasaan menyesal bercampur bersalah. Kututup pintu lalu lekas membaringkan diri di kasur. Aku ingin segera tidur untuk menutup hari yang melelahkan ini. Semoga saja Rey besok sudah bisa menerimaku. Sehingga aku tidak perlu pindah ke Vino. Aku bak penumpang kapal yang tak tahu arah jalan pulang. Aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan.


Esok harinya...


Pagi hari aku terbangun lalu langsung menuju kamar Rey. Dan ternyata pintu kamarnya tidak terkunci. Aku pun segera mengetuk pintu lalu masuk ke dalam. Dan kulihat dia masih terbalut selimutnya di atas sana.

__ADS_1


Biasanya pagi-pagi lebih menggairahkan.


Aku pun beranjak mendekatinya dengan mengenakan pakaian semalam. Aku duduk di tepi kasurnya sambil memerhatikannya yang tidur terlentang. Aku pun mengusap wajahnya.


__ADS_2