
Entah mengapa hatiku merasa terenyuh dengan kebaikan hatinya. Dia masih menjagaku di saat aku tengah mabuk semalam. Padahal dia bisa saja melakukan apapun yang dia mau terhadapku. Tapi hal itu ternyata tidak dilakukan olehnya. Sungguh hatiku ini tersentuh olehnya. Aku ingin sekali bertemu dengannya.
Aku harus ke kantornya.
Lantas aku pun bergegas untuk menemui Vino di kantornya. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya. Tak kusangka jika dia berhati mulia. Aku pikir dia mempunyai maksud jahat dalam mendekatiku. Tapi nyatanya dia masih membatasi dirinya. Sungguh hati ini terenyuh olehnya.
Satu jam kemudian...
Aku datang ke kantor Vino dengan mengenakan pakaian semalam. Dan saat ingin menemuinya, aku ditahan oleh penjaga gedung bertingkat tinggi yang kudatangi ini. Dia bilang tidak bisa sembarang orang untuk bertemu dengan Vino. Jika ingin bertemu pun harus membuat janji terlebih dulu. Dan pada akhirnya aku mengatakan jika model mobilnya. Barulah saat itu diminta menunggu. Dan kini sudah setengah jam saja aku menunggunya. Tapi belum ada kepastian untukku.
__ADS_1
/Kak Vino, aku ingin bertemu denganmu. Secepatnya./
Lantas aku pun mengirimkan pesan padanya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan tak lama pesanku pun centang dua di ponsel ini. Dia telah mengaktifkan ponselnya kembali. Aku pun wara-wiri di ruang tunggu sambil menunggunya membalas pesanku. Dan tak lama kemudian sebuah pesan itu kudapatkan.
/Lala, temui aku di kafetaria ibu kota pada jam makan siang. Aku masih ada tamu sekarang./
Begitulah pesan yang dia tuliskan untukku. Aku pun jadi pesimis seketika. Entah mengapa aku merasa Vino sudah mulai menjauh dariku. Apakah aku tidak sesuai dengan kriterianya? Ya Tuhan mengapa aku sampai berpikiran seperti itu? Apakah aku sudah mulai kepincut dengannya?
Lantas aku memutuskan untuk kembali ke rumahku dulu. Aku ingin berbenah dan berdandan rapi untuknya. Kebetulan hari ini jam kuliahku kosong. Latihan modeling juga tidak ada. Jadi ya sudah, mari kita bergegas pulang dan menikmati hari.
__ADS_1
Sesampainya di rumah...
Rumah besar berlantai dua bak istana ini kudatangi lagi setelah semalam tidak pulang. Aku pun masuk ke dalamnya dengan menggunakan kunci cadangan. Aku berjalan menuju lantai dua kamarku. Aku harus cepat bergegas mandi untuk menemui Vino lagi. Tapi saat ingin masuk ke kamar, kulihat seorang pria berjas hitam tengah menyilangkan kedua tangannya di dekat salah satu pintu. Dialah Rey yang terlihat belum berangkat bekerja. Atau mungkin saja dia sudah pulang. Entahlah aku juga tidak tahu.
"Lala!"
Dia memanggilku saat aku ingin masuk ke dalam kamar. Aku pun menghentikan langkah kaki ini tanpa berbalik menghadapnya. Dan dia berjalan mendekatiku. Saat itu juga aku pasrah jika dia ingin berlaku kasar padaku. Karena nyatanya aku memang tidak pulang semalam. Dan juga tidak bilang padanya.
Dia berdiri di belakangku. "Sudah selesai jual dirinya? Laku berapa?"
__ADS_1
Itulah hal yang pertama dia tanyakan padaku. Sontak hatiku pun bergemuruh seketika. Rey memang tidak pernah berubah. Dia masih sadis seperti dulu. Dan rasanya aku ingin meninjunya saja.