DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Kejutan


__ADS_3

Aku tersenyum di depan cermin besar lemari pakaianku. Aku pun memutar tubuh ke arah kanan dan kiri. Aku harus selalu ceria walaupun makan hati. Karena aku adalah Lala. Aku pejuang kehidupan ini.


"Baiklah. Kita berangkat."


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi saja. Aku pun lekas keluar kamar lalu menuju halaman depan rumahku. Tapi saat baru menuruni anak tangga, kulihat pria gila itu baru saja pulang ke rumah. Kami pun akhirnya berpapasan di ruang TV. Tapi aku cuek saja, seakan-akan tidak melihatnya. Lalu lekas ke halaman depan untuk masuk ke mobilku. Entah apa yang dia pikirkan, aku juga tidak peduli. Aku jalani saja kehidupanku.


Beberapa jam kemudian...


Dosen memberi tahu jika waktu prakerin harus diambil secepatnya. Semester lima tidak lama lagi akan berakhir. Itu berarti kami harus segera mempersiapkan diri untuk prakerin. Kebetulan di kampusku ini mahasiswa memang dibebaskan untuk memilih kapan waktu prakerinnya, karena rata-rata mereka bekerja sambil kuliah. Jadi ya sudah, aku pun ikut memikirkan ulang kapan waktu yang tepat untuk prakerin nanti. Ya setidaknya satu atau dua bulan lagi.


Nanti ke mana, ya? Aku ingin sekali ke Turki.


Kini aku sedang berjalan menuju parkiran kampus. Kulihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat sepuluh. Aku pun merasa gerah sekali. Cuaca begitu panas hingga membuat kepalaku seperti berasap. Aku pun lekas-lekas melangkahkan kaki menuju parkiran sambil menutupi kepalaku dengan buku. Tapi sesampainya di parkiran, aku terbelalak kaget melihat pria itu sudah menungguku.


Eh?!

__ADS_1


Lekas-lekas aku mengambil ponsel untuk melihat pesan masuk. Dan ternyata tidak ada pesan masuk darinya. Apakah dia sengaja datang ke sini untuk menemuiku? Tapi kenapa tidak memberi tahu dulu?


Dia suka memberi kejutan.


Aku melihat Vino sedang mengobrol bersama seorang dosen di dekat parkiran kampus. Vino pun menyadari kehadiranku. Dia tersenyum kepadaku dari jarak yang jauh. Dia juga melambaikan tangannya. Dan kulihat dosen itu mengakhiri pembicaraannya. Aku pun lekas-lekas menghampirinya. Pria tampan itu datang ke kampus tanpa memberi tahu lebih dulu. Aku jadi bertanya-tanya padanya.


"Kak Vino dari tadi di sini?" tanyaku seraya menghampirinya.


Dia memerhatikanku. "Sepertinya ada yang berbeda hari ini." Dia melihat kaca mataku.


Vino tersenyum. "Supirku akan menjemput nanti. Bisa kita makan siang sekarang?" tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku.


"Eh? Kak Vino nggak bawa mobil?" Aku pun melihat ke parkiran kampus.


"Aku sengaja minta diantar tadi. Mana kunci mobilmu? Biar aku yang menyetir."

__ADS_1


Dan untuk yang pertama kalinya Vino mulai menunjukkan kepemilikannya terhadapku. Dia meminta kunci mobilku lalu ingin menyetirnya. Aku rasa misiku ini berhasil. Dia mulai kepincut denganku.


Baiklah. Teruskan!


Aku pun memberi kunci mobilku padanya. Dia kemudian segera masuk lalu membuka pintu mobilnya untukku dari dalam. Aku pun segera masuk lalu kami mulai melaju. Pria berkemeja krim itu membawaku untuk makan siang bersama. Entah ke mana, aku ikut saja. Lagipula aku nyaman bersamanya.


Lima belas menit kemudian...


Aku sampai di depan sebuah restoran seafood yang tak jauh dari kampus. Aku dan Vino pun bergegas masuk ke dalam. Tanpa bersentuhan kami berjalan bersama menuju meja makan yang dekat dengan kolam. Dan ya, pemandangan taman kecil yang asri pun kami dapatkan. Vino kemudian memesan hidangan untuk makan siang.


.........


...Vino...


__ADS_1


__ADS_2