DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Mengalah


__ADS_3

"Tuan." Aku duduk mendekatinya. Menarik kursi untuk duduk di sampingnya. "Kata-katamu itu terlalu kasar bagiku. Tidak bisakah berkata lebih lembut lagi? Seperti berkata lembut kepada semua wanitamu?" tanyaku sambil mengerlipkan mata ini di depannya.


Rey terdiam. Ia memerhatikan setiap pergerakan mataku. Dan entah mengapa dia seperti orang yang terperangah kaget, tak percaya. Tapi apapun itu aku hanya perlu mengalah padanya. Selebihnya lupakan saja. Aku harus berakting seprofesional mungkin agar misiku berjalan lancar. Ya, walau sudah sakit hati bak cacing kepanasan.


Rey beranjak berdiri dari kursinya. "Hari ini aku ada janji dengan seseorang." Dia berniat meninggalkanku.


Aku ikut berdiri. "Aku ikut!" kataku.


"Hah? Apa?!" Dia seperti tak percaya.


"Hari ini aku juga libur. Jadi aku ingin ikut denganmu." Aku bersabar untuk kebaikan diriku.


"Baiklah." Dia pun mengiyakannya. "Tapi jangan ikut campur urusanku di sana." Dia mengingatkanku.


Tak tahu mengapa ruang gerakku dibatasi olehnya, padahal aku ini istrinya. Inilah hal yang tidak kusukai dari Rey. Berbeda dengan Vino yang membebaskan aku melakukan apa saja. Apa memang hubungan pria dan wanita saat pacaran dan sudah menikah itu perlakuannya beda? Aku sendiri tak tahu karena belum pernah bermain cinta.

__ADS_1


"Baik. Aku siap!"


Dengan penuh semangat aku mengiyakannya. Tak peduli lagi apa yang akan terjadi nantinya. Yang kutahu sebisa mungkin mengalah untuk menarik hatinya. Jika selama dua puluh satu hari ini tidak ada perubahan juga, maka aku akan berpindah ke kakaknya. Terserah dia nanti mau berkata apa.


Di perjalanan...


Ponselku terus bergetar di dalam tas yang kubawa. Aku tidak tahu siapa yang menelepon atau mengirim pesan. Aku sendiri masih berada di perjalanan bersama Rey dengan berdiaman sepanjang jalan. Rey juga masih fokus menyetir mobilnya.


Siapa ya yang menelepon? Aku jadi penasaran.


"Angkat saja, tak apa. Mungkin dari simpananmu." Dia berkata ketus padaku.


Aku menoleh cepat ke arahnya. Aku pun mendengus kesal dalam hati ini. Bagaimana bisa dia mengatakan aku mempunyai simpanan sedang dia sendiri saja banyak wanitanya? Apa dia ingin melempar batu sembunyi tangan?


Aku mengambil ponselku. Kulihat panggilan masuk di WA-ku. Dan ternyata, Vino. Dia juga mengirim pesan padaku.

__ADS_1


/Lala, di mana? Apakah kau baik-baik saja?/


Dia bertanya padaku. Kuakui sejak kemarin siang aku tidak lagi menghubunginya. Dan akhirnya dia mengirimkan pesan dan juga meneleponku.


Balas tidak, ya?


Aku pun jadi bingung untuk membalasnya atau tidak karena di sampingku sedang ada Rey. Tapi kembali lagi aku teringat dengan perkataan Vino yang ingin mengetahui isi hati Rey yang sebenarnya. Lantas saja aku membalas pesannya. Tapi aku beralasan saja. Aku tidak ingin membuatnya memikirkanku saat ini.


/Kak Vino, maaf. Lala sedang di jalan. Ikut Rey ke pertemuan relasinya./


Begitulah pesan yang kukirimkan padanya. Tak lama sebuah balasan pun kudapatkan.


/Oh. Baiklah./


Dan akhirnya dia tidak menelepon atau mengirimkan pesan lagi kepadaku. Mungkin dia mengerti jika aku sedang bersama Rey. Atau mungkin dia kesal karena aku baru memberikan kabar. Entahlah. Lebih baik fokus ke satu pria terlebih dahulu. Jika ini gagal baru beralih ke yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2