
Malam harinya...
Rey ternyata mengadu pada ayahku. Sontak saja ayah memintaku untuk datang ke rumah. Dan apa yang dilakukan ayah sungguh sangat di luar dugaanku. Ayah menamparku setelah aku berusaha melunasi utangnya.
"Anak tidak tahu diri! Kau sengaja ingin mempermalukan ayahmu?!"
Ayah berapi-api memarahiku. Amarahnya meledak bak granat yang dilemparkan. Sungguh aku tak mengerti mengapa sikap ayah seperti ini. Aku berusaha untuk melunasi utangnya, tapi dia malah menamparku. Sungguh aku tidak terima diperlakukan kasar seperti ini.
"Sudah ayah bilang untuk menuruti semua kemauannya! Tapi kenapa kau malah berbalik melawannya, Lala?! Kenapa?!!" Ayah seperti mendapat tekanan besar dari Rey. Dia tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Ayah, semua yang kulakukan ini untuk melunasi utang ayah. Aku bekerja keras agar utang ayah cepat lunas, Yah!" Aku menuturkan maksud dibalik tujuanku bekerja.
Ayah menggelengkan kepalanya. "Kau bodoh, Lala! Kau bodoh! Menyesal ayah punya anak sepertimu! Cepat putuskan kontrakmu dan kembali pada Rey!" Ayah berseru padaku.
__ADS_1
"Tidak, Ayah. Aku akan tetap bekerja," kataku teguh.
"Anak sialan!!!"
Rasa panas pun kembali menjalar di pipiku. Untuk yang kedua kalinya ayah menamparku. Sedang ibu ... ibu hanya diam di sudut ruangan tanpa membelaku. Aku seperti tidak mempunyai siapa-siapa di sini. Tidak ada yang membelaku, tidak ada yang mengasihaniku. Aku sangat frustrasi.
Ayah, tidak seharusnya kau berlaku kasar terhadap putrimu.
Vino, kau harus membantuku.
Lantas jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semua masalah ini adalah dengan menyerahkan diri ke Vino. Hanya dia satu-satunya pria yang dapat membantuku terlepas dari semua kesedihan ini. Aku ingin bebas kembali. Aku ingin terbang bak burung di langit. Aku tidak ingin terkurung dalam perjanjian kontrak yang lama. Aku ingin bahagia. Aku pasti bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Pukul sepuluh malam waktu ibu kota dan sekitarnya...
__ADS_1
Untuk yang pertama kalinya aku nakal. Aku tidak pulang ke rumah dan malah menginap di rumah orang. Bukan teman kuliah atau bukan juga teman modelingku. Kini aku menginap di rumah bosku. Seseorang yang memberi pekerjaan untukku. Dialah Vino, kakak tingkatku dulu.
"Lala, kau sudah terlalu banyak minum."
Aku frustrasi. Aku tidak mempunyai jalan keluar lagi. Hidupku sudah hancur karena ikatan pernikahan ini. Ayah yang seharusnya menyayangiku, membelaku, malah menamparku dengan keras. Dan itu bukan hanya sekali. Dua kali tamparan itu melayang ke pipiku. Rasanya sungguh sakit sekali. Tapi hati ini lebih sakit. Gara-gara Rey aku harus menanggung semuanya. Sungguh aku tidak bisa terima.
"Lala, Lala."
Aku pun mulai mabuk. Entah sudah berapa gelas yang kuminum. Vino pun masih duduk di sampingku. Dia menemaniku. Selepas dari rumah ayah, aku segera meneleponnya. Dan dia pun segera menjemputku. Dia peduli padaku, dia juga perhatian padaku. Mungkin dia bisa mengakhiri semua kesedihanku ini. Aku berharap itu.
"Kak Vino, apakah ucapanmu waktu itu masih berlaku?"
Dalam pengaruh alkohol aku tidak mengingat lagi siapa diriku, apa statusku. Aku pun bergelayut manja padanya. Ini adalah pertama kalinya aku mabuk. Awalnya memang tidak suka, tapi rasa perih itu begitu membakar hatiku. Sehingga aku pun nekat melakukannya. Tanpa peduli apa efek ke depannya.
__ADS_1