
"Lala, kau serius dengan ucapanmu?" Dia ternyata mendengar dengan baik perkataanku tadi.
Astaga, bagaimana ini?!
Aku pun jadi panik sendiri. Aku takut dia sungguhan menikahiku lalu Rey tetap masih berstatus suamiku? Pastinya pria gila itu akan semakin gila dengan pesta yang dia adakan setiap hari. Sungguh jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin bertemu dengan Vino saja. Tapi entah mengapa benang merah ini malah mengikatku dengan Rey. CEO gila perusahaan tambang emas ternama.
Aku berbalik sambil memasang wajah menyesal. "Em, maaf, Kak Vino. Lala frustasi. Tadi sampai di rumah Lala melihat Rey berpesta lagi. Dan kini lebih banyak teman-temannya yang dibawa ke rumah." Aku menceritakan padanya.
"Pesta? Seperti semalam?" tanya Vino padaku.
Aku mengangguk di hadapannya dengan jarak sekitar tiga meter saja. Kulihat dia berpikir keras di sana. Mungkin tak menyangka jika akan mendengar hal ini kembali. Rey memang tidak pernah berubah.
__ADS_1
Vino menghela napasnya. "Lala, aku belum tahu keseriusanmu padaku. Tapi aku juga tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Aku mengkhawatirkanmu." Dia sepertinya jujur akan hatinya sendiri.
Vino berjalan melewatiku. Dia pergi ke dalam kamar lalu keluar dengan membawa laptopnya. Dia kemudian mengajak ku duduk bersama di sofa. Dia pun membuka laptopnya. Dan saat laptop itu terbuka, saat itu juga aku melihat bagaimana Vino dan keluarganya. Dia ternyata anak tunggal yang dibesarkan di keluarga kaya. Hanya saja dia tidak segila pria yang sudah menjadi suamiku di sana.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Dia pun membuka-buka file di laptopnya.
Aku menunggu. Tanpa sadar tubuhku ini mendekat ke tubuhnya. Lengan kami pun bersentuhan sehingga menimbulkan rasa hangat di sekitarnya. Dan kusadari jika Vino sesekali melihat ke arahku. Entah apa yang dia pikirkan, aku berusaha menerimanya saja. Malam ini jika dia ingin membeli dengan harga seratus milyar aku pun menyetujuinya.
Astaga!
Saat itu juga aku jadi tahu bagaimana kekuatan uang yang sesungguhnya. Uang bisa membuat manusia mendapatkan apa saja. Termasuk perhiasan dunia. Tapi ada satu hal yang masih aku bingungkan sampai sekarang. Kenapa yang gila hanya Rey saja? Sedang kakaknya tidak?
__ADS_1
"Semuanya berkulit putih, ya?" Aku pun memerhatikan saudara-saudara Vino yang ada di dalam foto keluarga itu.
"Ya." Vino mengangguk. "Ayah memang suka wanita berkulit putih dan juga berisi," terang Vino kembali.
Saat itu juga aku menoleh kepadanya. Kulihat bagaimana paras Vino yang begitu tampan. Andai saja dia yang menjadi suamiku sekarang, pastinya sudah kuterjang. Tapi sayang di sampingku ini malah kakak iparnya.
"Kalau Kak Vino, suka wanita seperti apa?" Aku pun mencoba menanyakannya.
Vino menoleh ke arahku. Dia tersenyum lalu mengusap kepala ini. "Kau ingin tahu banyak tentangku, La?" Dia juga sepertinya ingin mengujiku.
Aku mengangguk, tersenyum dengan satu tangan yang menopang wajahku.
__ADS_1
"Ayah selalu mengajarkan untuk bekerja keras selagi muda agar masa tua bisa berfoya-foya. Itulah yang tertanamkan dalam benakku. Jadi aku tidak tahu bagaimana kriteria wanita yang kusukai," jawabnya.