
"Mungkin dia juga tidak ingin rugi. Aku tidak tahu pastinya, tapi mungkin aku bisa sedikit membantumu," kata Vino lagi.
"Membantuku?!" Sontak saja aku jadi bersemangat mendengarnya.
"Lala, aku punya suatu cara untuk membuat Rey jujur akan isi hatinya." Tiba-tiba saja pembicaraan ini mulai menyerempet ke perasaan.
"Apa itu?" tanyaku ingin tahu.
Vino memintaku untuk mendekat. Dia kemudian membisikkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang membuatku geli tapi juga ngeri bersamaan. Rasa-rasanya ini terlalu berisiko besar untuk dijalankan. Apalagi bagiku yang belum mempunyai banyak uang. Bisa-bisa aku malah tekor sebelum berperang.
"Bagaimana?" Dia pun selesai membisikkannya.
Dahiku berkerut, pelipisku juga mulai mengeluarkan keringat. Aku khawatir dengan rencana dan ide darinya. Aku takut. Takut sekali.
"Kakak, kau yakin?" tanyaku seraya menelan ludah ini.
__ADS_1
Vino tersenyum seraya mengangguk. "Kenapa tidak kita coba? Lagipula jika itu benar terjadi, tidak apa, bukan?" Dia seperti ingin menggodaku.
Aku mengembuskan napas kuat-kuat. "Bagaimana jika dia memintaku untuk membayar pinalti? Aku tidak punya uang. Apa Kakak mau membayarnya?" tanyaku setengah kesal bercampur ragu ini.
Vino kemudian membuka laptopnya kembali. Dia masuk ke akun banknya lalu menunjukkan padaku. "Lihat ini." Dengan jelas dia memperlihatkan berapa jumlah saldonya. Saat itu juga aku jadi terpana.
"Kakak ...." Aku pun ingin segera bertransaksi dengannya.
"Kita coba saja dulu, La. Tidak ada salahnya mencoba. Jika benar dia tidak mempunyai perasaan apapun padamu, maka aku yang akan menggantikannya." Dia berkata seperti itu.
"Eh?!" Saat itu juga aku jadi berpikir keras atas ucapannya.
Pada akhirnya aku tidak punya jalan lain untuk menolak rencana yang dia berikan. Dia pun lekas mengambil jaket lalu mengajak ku keluar dari apartemen. Entah mau dibawa ke mana aku, aku menurut saja. Rasa-rasanya juga tidak salah.
Baiklah. Ikuti saja arusnya. Lagipula dia tidak akan lepas tangan.
__ADS_1
Lantas kami pun berjalan bersama, keluar dari apartemen ini lalu masuk ke dalam lift. Hingga akhirnya kami pun sampai di parkiran gedung lalu Vino membukakan pintu mobilnya untukku. Sepertinya dia ingin mengajak ku berjalan-jalan malam ini. Jadi ya sudah, mari kita nikmati malam bersama.
.........
...Vino...
.........
Esok harinya, pukul lima pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...
Pagi-pagi aku pulang ke rumah dari apartemen Vino. Semalam untuk yang kesekian kalinya aku menginap di apartemennya. Tapi kami tidak tidur bersama, melainkan berpisah ruang karena Vino sibuk bekerja. Semalaman dia duduk di sofa TV sambil mengerjakan beberapa pekerjaan online. Mungkin saja menyangkut bursa saham yang ada di pasar modal. Aku sendiri kurang tahu karena tidak berkecimpung di bidang itu. Jadi ya tidur saja di kamarnya.
Saat aku terbangun, kulihat Vino tertidur di sofa TV dengan laptop yang masih menyala. Dan karena takut salah jika mematikannya, aku pun mencoba membangunkannya. Kusentuh pipinya itu dengan ujung jari telunjukku. Dan tak berapa lama kemudian dia pun terbangun.
__ADS_1
Vino bilang baru beberapa menit saja terpejam. Saat itu juga aku jadi merasa bersalah padanya. Tapi dia tidak marah padaku. Dia malah mencubit kedua pipiku dengan gemasnya. Aku pun lekas berpamitan padanya agar dia bisa segera beristirahat. Dan kini aku baru saja sampai di rumah.
"Akhirnya kembali lagi ke neraka."