
Sejujurnya aku ingin menikah dengan kakaknya saja. Tapi sepertinya Vino masih ragu akan perasaanku. Tentunya jika dia membantu, utang seratus milyar itu bisa lunas dengan cepat. Tapi aku tidak tahu apa yang dia pinta setelah itu.
Kak Vino, aku berharap padamu.
Inginku Vino yang menikahiku. Tapi kalau dia memintaku untuk menyicil angsurannya, itu sama saja dengan bekerja padanya. Sedang aku ingin dianggap lunas begitu saja. Ya, walaupun dengan bermalam dengannya. Aku sudah tidak mempunyai jalan lain. Aku ingin segera lepas dari perjanjian ini. Aku ingin kembali ke hidupku lagi.
"Aku akan memikirkannya. Kau bisa menungguku?" Vino pun menerima hasil jepretan surat perjanjian itu.
"Baik, Kak. Aku akan menunggu."
Pada akhirnya pertemuan sore ini berakhir. Vino tersirat ingin menolongku secepatnya. Ya, semoga saja. Rasanya tidak rugi juga dia mendapatkan keperawanan dengan harga segitu. Semoga Vino mau membelinya dariku.
__ADS_1
Malam harinya...
Kehidupanku mulai disibukkan dengan bekerja dan bekerja. Dan sekarang di tanganku sudah ada dua ratus lima puluh juta. Aku berniat membayarkan uang ini kepada Rey sebagai tanda serius ingin mengakhiri perjanjian ini. Aku pun baru saja sampai di rumah selepas bertemu dengan Vino tadi. Lekas kubuka gerbang ini untuk memasukkan mobilku. Tapi, saat itu juga aku terkejut dengan banyaknya mobil yang sudah terparkir di rumah ini. Ternyata Rey membuat pesta lagi.
Dia memang menginginkan aku membayar pinalti.
Mau tak mau pikiranku tertuju pada tujuannya yang selalu menyakiti hatiku. Baik dengan ucapan maupun sikapnya. Tak lain tak bukan agar aku merasa tidak betah dan akhirnya terkena pinalti dari perjanjian yang telah disepakati. Yang mana aku harus membayar sepuluh kali lipat dari uang yang tertera di perjanjian itu. Dia benar-benar kejam sekali. Manusia tidak berperasaan yang inginnya selalu dituruti.
Kubuka pintu rumah dan ternyata memang benar sudah banyak orang yang datang. Beberapa di antara mereka ada pria jadi-jadian yang memakai emas di seluruh tubuhnya. Dia seperti toko emas berjalan saja. Pasti dia juga membeli emas itu dari Rey.
Di mana pembantu yang kusewa? Kenapa dia tidak ada?
__ADS_1
"Lala, kau sudah pulang? Tolong siapkan makanan kecil untuk kami," pinta Rey kepadaku dengan intonasi meledek.
Rey berkata padaku di tengah teman-temannya yang ada di rumah ini. Aku pun melihat berapa banyak temannya yang datang. Dan ternyata ada enam pria dan tiga orang wanita berpakaian seksi. Sontak pikiranku ke mana-mana. Apakah mereka akan mengadakan pesta lendir di sini?
Astaga pikiranku ....
Kulihat banyak botol minuman juga sudah tersaji di atas meja. Tapi Rey tetap memintaku untuk menyediakan cemilan. Aku ini dianggap seperti babunya saja. Andai tidak ingat perjanjian, aku akan meninjunya sekarang. Bisa-bisanya dia berlaku seperti ini kepada istri sahnya sendiri. Aku pun tidak mau kalah dengannya. Aku lekas kembali ke mobil dengan membawa uang dua ratus lima puluh juta ini.
Aku masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa padanya. Dan kudengar gelak tawa dari teman-temannya yang seperti menertawaiku. Lantas saja aku lekas pergi. Pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikiranku ini. Sungguh aku depresi menghadapi hidupku sendiri.
Setengah jam kemudian...
__ADS_1
Aku tiba di kawasan apartemen elit yang ada di ibu kota. Aku segera keluar dari mobil dengan perasaan yang bergemuruh di dada. Aku sudah pusing sekali menghadapi hidup ini. Aku tidak tahan lagi dan ingin mengakhiri semuanya. Aku lelah, sangat lelah dengan sikap Rey yang semakin menjadi-jadi. Aku ingin bebas kembali.