DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA

DIJUAL AYAH DIBELI CEO GILA
Bertemu Lagi


__ADS_3

Kuambil ponselku lalu masuk ke dalam lift apartemen ini. Aku menelepon seseorang untuk meminta bantuannya. Namun, teleponku tidak diangkat juga.


Dia sudah sampai di apartemen belum, ya?


Lekas saja sesampainya di lantai yang dituju aku segera keluar dari lift lalu menuju apartemen tujuanku. Aku pun berdiri di pintunya seraya menelepon kembali orang yang ingin kutemui. Tak berapa lama teleponku pun diangkat olehnya.


"Halo?" Dia menjawab teleponku.


"Kak, di mana? Aku sudah di depan apartemenmu," kataku padanya.


"Di depan apartemenku? Astaga, Lala! Tunggu sebentar!" Dia seperti terkejut dengan ucapanku lalu lekas-lekas menuju pintu.


Pintu pun akhirnya dibuka olehnya. Dan saat terbuka, saat itu juga aku terpesona melihatnya. Orang yang kutemui ini ternyata baru saja selesai mandi. Terlihat jelas dia hanya mengenakan handuk putih yang menutupi area pribadinya. Dari pinggang sampai ke batas lututnya. Dan kulihat ada kalung perak yang menggantung di lehernya. Rambutnya pun masih basah dengan wajah yang begitu segar. Aku pun tak percaya dengan apa yang kulihat ini.

__ADS_1


Dadanya, perutnya. Oh, Lala. Mimpi apa kau semalam melihatnya bertelanjang dada seperti ini?!


Sungguh aku terpukau dengan pemandangan yang ada di hadapanku. Aku pun seperti terpaku di tempat dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuh Vino begitu indah dan menggoda imanku. Dia pun sepertinya menyadari apa yang sedang kurasakan ini.


"Cepat masuk, Lala!"


Pada akhirnya dia menarik tanganku, menyadarkanku dari lamunan akan dirinya. Aku pun masuk ke apartemennya dengan diam saja. Aku masih tidak bisa berkata apa-apa.


Untuk yang kesekian kalinya aku harus merepotkan seorang pria yang dulu kuabaikan. Dialah Vino yang kini baru saja selesai mandi. Pantas saja teleponku lama diangkat olehnya karena dia sedang mandi. Dan kulihat Vino segera menuju ke kamarnya lalu mengambil pakaian dari dalam lemari. Dia pun memakai kaus oblong hitamnya itu.


Aku bisa melihat jelas dirinya dari sini karena pintu kamar itu dibiarkan terbuka. Aku pun lekas duduk di sofa tamu. Mencoba memerhatikannya yang sedang berada di dalam kamar.


"Maaf, Kak. Lala terpaksa ke sini. Lala tidak punya tempat lain untuk singgah," kataku kepadanya.

__ADS_1


Dia memakai cepat celananya di dalam kamar. Aku pun mencoba mengintip apa isinya. Tapi ternyata, tidak bisa kulihat dari sini. Hingga akhirnya dia mendekatiku sambil menghanduki rambutnya yang masih basah.


"Baru saja kita bertemu dan kini bertemu lagi. Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, Lala?" tanyanya lalu duduk di sampingku.


Aroma tubuhnya habis mandi sangat membuat pikiranku bergairah hingga melayang ke mana-mana. Vino terlihat begitu seksi di mataku. Dia sempurna, hanya saja tidak mudah percaya. Sungguh aku tak menyangka jika dia belum mempunyai pasangan. Haruskah aku mengecek ponselnya sekarang?


Oh, tidak. Dia itu kakak iparmu, Lala.


Sungguh tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Aku menikah dengan adiknya tapi malah kepincut dengan kakaknya. Rasanya seperti bermimpi saja. Aku jadi bingung sendiri harus bagaimana.


"Kak Vino, menikahlah denganku." Tanpa sadar aku pun berkata seperti itu.


Ups, aku kebablasan.

__ADS_1


Saat mendengar perkataanku, saat itu juga Vino terperangah di sampingku. Dia seakan tak percaya dengan yang kukatakan ini. Lantas saja aku pura-pura ke dapurnya untuk mengambil air minum. Aku bersikap seperti biasa, seolah tidak pernah bicara apa-apa. Dan kudengar langkah kakinya mendekatiku.


__ADS_2