
Aku masih diam. Tidak berani menjawab. Vino pun menyadari ketakutanku.
"Hei, Rey. Kau mempunyai istri yang sangat baik. Tetapi kenapa malah disia-siakan? Kau malah mengundang banyak teman untuk minum di rumah ini. Memangnya siapa yang akan membereskannya nanti? Temanmu?" tanya Vino dengan tatapan santainya. Saat itu juga kusadari jika Vino sedang membelaku.
"Itu tidak ada hubungannya denganmu. Silakan pergi dari sini." Rey meminta Vino untuk pergi.
Vino menghela napasnya. "Baiklah. Aku akan pergi." Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Tapi mereka juga harus pergi." Vino menoleh ke arah teman-teman Rey. "Jika mereka tidak pergi, aku akan tetap berada di sini." Vino pun menatap tajam ke arah Rey.
"Cih!" Rey mendecih. "Kau merepotkan sekali. Jika ingin Lala, kenapa tidak lunasi saja utangnya? Jangan berdalih seperti ini."
Rey mengatakan itu kepada Vino. Sontak saja Vino terdiam di tempatnya sambil menatap Rey tajam-tajam. Mungkin dia sangat kesal dengan ucapan Rey yang seperti itu. Padahal niatnya baik untuk menyadarkan Rey. Tetapi Rey malah tidak sadar juga.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi jangan menyesal." Vino pun tidak takut ditantang oleh Rey.
Rey membuang mukanya dari Vino. "Sekarang pergi. Aku tidak ingin melihatmu." Rey berbicara seperti itu.
Vino mengangguk-angguk dengan aura kesal yang tertahan. Dia lalu menatap tajam ke arah teman-teman Rey. "Kalian juga pergi." Vino meminta teman-teman Rey untuk ikut pergi dari rumah ini. Dia pun beranjak meninggalkan kami.
"Kak Vino ...." Aku mencoba untuk menyapanya.
Sungguh aku tidak tahu maksud pasti dari Vino datang ke sini. Tapi sepertinya aku mulai mengerti niat baiknya yang ingin menyadarkan Rey. Semoga saja Rey tersadar dan bisa memanusiakanku. Dan dia menceraikanku secara baik-baik. Aku ingin bersama kakaknya saja karena merasa Vino lebih baik. Entah bagaimana ke depannya, aku jalani saja takdirku. Terus berusaha untuk lebih baik lagi.
Esok harinya...
__ADS_1
Pagi-pagi aku membersihkan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel sampai mengelap kacanya. Aku sudah seperti babu saja di rumah ini. Senangnya hanya jika pergi bekerja. Sedang pria yang sudah menjadi suamiku itu bak raja yang tak terbantah. Apapun maunya, apapun keinginannya harus dituruti seketika.
"Sepertinya aku harus menyewa pembantu."
Badanku pegal-pegal semua mengurus rumah sebesar ini. Belum lagi aktivitasku yang begitu padatnya. Lantas saja kuambil ponsel untuk mencari agensi pembantu rumah tangga. Tak lama kemudian kutemukan seorang gadis berparas cantik. Aku pun memilihnya untuk dijadikan pembantu di rumah ini. Aku siap mengeluarkan biaya agar hidupku tidak terlalu menderita. Dan tanpa perlu menunggu lama, pihak agensi ART pun meneleponku. Dia meminta alamat rumahku.
"Di Jalan Kenanga nomor 22. Rumah besar berwarna putih dengan pintu gerbang berwarna hitam emas."
Itulah yang kukatakan saat pihak agensi meminta alamat rumahku. Dan dia mengatakan pembantu rumah tangga yang aku inginkan akan segera datang. Aku pun menunggunya sambil membersihkan diriku terlebih dulu. Aku ingin mandi dan menyegarkan badan setelah lelah membersihkan rumah ini. Jadi ya sudah, mari relaksasikan diri.
Lima belas menit kemudian...
__ADS_1