
"Ayo, cepat!" Dia segera menarik tanganku tanpa melihatku sama sekali.
Dia kenapa?
Rey menarikku agar segera mengikutinya. "Cepat masuk!"
Saat sampai di parkiran salon pun dia segera memintaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku pikir dia tidak akan memperkenankanku untuk duduk di sampingnya. Tapi ternyata...
"Jangan duduk di belakang," katanya yang membuatku terheran sendiri.
"Baik, Tuan."
Aku pun kembali memanggilnya dengan sebutan tuan. Tidak memanggilnya dengan kata sayang seperti di hadapan penata rias. Saat itu juga kulihat dia melirik tajam ke arahku lalu segera menancap gas mobilnya. Tapi aku santai saja. Aku tidak memedulikannya. Bagiku ini hanya bersandiwara.
Dia melirikku?
__ADS_1
Kami pun mulai melaju menuju gedung pertemuan. Di sepanjang perjalanan aku juga hanya diam karena takut salah bicara. Sedangkan dia selalu melirik ke arahku? Kaca depannya itu diarahkan kepadaku.
Mungkin saja dia ingin mencuri pandang, Lala.
Aku tidak mengerti mengapa dia berusaha mencuri pandang saat aku tidak melihatnya. Aku pun diam saja, berusaha untuk tidak peduli. Toh, aku hanya seorang istri kontrak. Bukan orang spesial baginya. Aku coba sadar diri dengan statusku sekarang ini.
Sesampainya di gedung pertemuan...
Beberapa belas menit kami lalui sambil melihat pemandangan jalanan ibu kota. Dan akhirnya kami sampai juga di sebuah gedung pertemuan. Atau lebih tepatnya hotel bintang lima yang disewa ballroom-nya. Rey lalu membukakan pintu mobil untukku. Mungkin dia ingin menunjukkan kepada orang-orang jika dia adalah pria yang romantis. Entahlah, aku juga tidak peduli.
Tentu saja dia tidak perlu memintaku untuk seperti itu. Kami memang telah sah menikah baik secara agama maupun negara. Yang seharusnya dia minta adalah agar aku bersikap mesra di hadapan orang-orang. Sehingga pernikahan kontrak ini tidak diketahui banyak orang. Tapi aku orangnya cukup pengertian. Jadi tidak diminta pun akan aku lakukan.
"Gandeng lenganku!" katanya.
Dan tanpa berpikir panjang segera kugandeng mesra tangannya seraya berjalan masuk ke dalam gedung pertemuan. Aku pun melangkahkan kaki ke atas karpet merah yang telah dihamparkan.
__ADS_1
Baiklah Lala. Mainkan peranmu.
Beberapa penjaga pintu masuk berjas hitam pun memberikan sapaan selamat datang kepada kami. Kami pun akhirnya tiba di dalam gedung ini. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat tatanan ruang yang sangat mewah. Di mana banyak pot bunga berjajar rapi dengan lampu kristal yang indah. Seperti pertemuan besar kalangan atas. Dan ya, aku pun tersenyum kepada siapa saja yang melihat kedatangan kami.
Beberapa menit kemudian...
Aku menuju meja hidangan super besar dan meninggalkan Rey yang sedang berbicara dengan relasinya. Aku pergi begitu saja tanpa bilang padanya. Hanya memberi kode kepada relasinya jika akan pergi menuju meja hidangan. Dan ya, aku segera mencicipi menu yang ada di sini. Tapi...
"Parfummu harum sekali." Tiba-tiba saja ada yang berkata seperti itu padaku.
Aku menoleh, melihat siapa gerangan yang menyapaku. Dan saat itu juga kulihat seorang pria berjas hitam tengah mengambil hidangan yang sama di sampingku. Seorang pria tampan yang usianya tidak jauh berbeda dariku. Entahlah. Tapi dia cukup tampan di mataku.
Dia menoleh ke arahku. "Kau datang bersama Rey?" Dia ternyata tahu jika aku datang bersama Rey.
"Hm, ya." Aku pun hanya menjawab seperti itu.
__ADS_1