
Pagi itu Laila begitu sibuk karena harus membagi waktunya untuk mengajar dan menemui dua orang tamu dari kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi.
Mereka memintanya untuk menjadi Narasumber dalam sebuah seminar pendidikan yang akan diselenggarakan secara serentak di seluruh Jakarta.
Bukan hanya menjadi Narasumber, Laila bahkan di tunjuk sebagai salah satu tim pengembang kurikulum di kementerian pendidikan.
Memang ia banyak mendapatkan tawaran pekerjaan setelah memenangkan lomba mengajar tempo hari. Tapi tidak semua tawaran itu diterimanya karena pertimbangan berbagai hal.
Namun kali ia sama sekali tidak menolaknya dan langsung setuju saat utusan dari kementerian menunjuknya sebagai Tim Pengembang kurikulum. Baginya ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kepada Krisna bahwa ia bukanlah pembawa sial seperti yang dituduhkan kepadanya.
"Wah aku semakin iri saja sama kamu Miss, bukan hanya asmara ternyata karier kamu langsung meroket pasca bercerai dari Krisna," ungkap Yuli
"Bener tuh, kayaknya ini kesempatan buat lo untuk nunjukin kepada mereka kalau lo itu bukan pembawa sial, tapi sebaliknya," sambung Via
"Iya betul, tapi sekarang aku malah bingung harus nitipin Bagas kemana saat aku bertugas di sana, kalau aku ngajar di sini kan Bagas bisa aku ajak, masa iya sih Bagas aku ajak juga ke kementerian?" ucap L kebingungan
"Hampir lupa, sebaiknya kamu pakai aja jasa penitipan anak. Selain biayanya lebih murah dari pengasuh bayi, di sana anak lo juga diajarin baca tulis kaya anak sekolah gitu, nah kamu bisa ambil dia kalau sudah pulang kerja. Ya sebenarnya hampir sama kaya sekolah sih sebenarnya tapi lebih banyak mainnya daripada belajar, nanti di baby juga diajari hidup mandiri sis mulai dari mandi sendiri, cebok sendiri, makan sampai pakai baju sendiri," terang Via
"Biayanya mahal gak?" tanya L
"Kalau kata adek gue sih lumayan lah gak terlalu mahal juga, standar untuk warga Jakarta," sahut Via
"Yaudah nanti aku coba ke sana," jawab Laila
Siang itu sepulang mengajar L mengunjungi sebuah tempat penitipan anak.
Awalnya ia hanya iseng mencari informasi tentang jasa penitipan anak itu, namun setelah mendapatkan penjelasan dari pemilik yayasan, iapun tertarik untuk menitipkan Bagas disana.
***********
Keesokan harinya, Laila untuk pertama kalinya mendatangi kantor barunya di kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi.
Seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya dengan hangat dan memperkenalkan ia kepada staf yang lain.
"Akhirnya setelah sekian lama, tim pengembang kurikulum punya staf yang masih muda dan energik juga, terimakasih sudah mau bergabung dengan kami,"
"Sama-sama pak,"
Laila kemudian duduk di kursinya dan mulai mengerjakan tugas pertamanya.
Hari itu merupakan hari melelahkan bagi Laila, karena ia langsung mendapat tugas mengembangkan kurikulum baru yang sedang digarap oleh kementerian. Ia bahkan sampai harus membawa pekerjaannya pulang ke rumah karena tidak bisa lembur.
Ia menolak lembur karena memikirkan kedua buah hatinya sehingga memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
Hari kedua bekerja di kementerian L sudah harus mempersiapkan presentasi untuk menyampaikan hasil kerjanya.
__ADS_1
Pagi itu L sudah bersiap untuk menyampaikan presentasi programnya di depan semua staff.
Meskipun ia sedikit tegang namun ia dapat menyelesaikan presentasinya dengan lancar.
"Luar biasa, program kamu sangat bagus dan fresh. Apa kau bersedia untuk bergabung dengan Tim Penggerak satu guna mensosialisasikan program ini ke sekolah-sekolah di Seluruh Indonesia??" tanya atasan L
L begitu terkejut saat mendengar tawaran dari atasannya.
"Tentu saja pak saya bersedia," jawabnya singkat
"Alhamdulillah, kalau begitu aku akan memperkenalkan kamu dengan ketua Tim Penggerak saty agar kalian bisa bekerjasama dengan baik dalam program ini,"
Lelaki itu kemudian mengajak L menemui seorang pria di ruangannya.
"Dia adalah Sean Mahardika, seorang praktisi pendidikan dan juga Founder sekolah internasional Citra Buana,"
L segera mengulurkan tangannya saat lelaki itu memperkenalkan dirinya.
"Sean," ucap lelaki itu mengulurkan tangannya
"Nur Laila, panggil saja L,"
Lelaki itu kemudian mempersilakan Keduanya berbincang untuk membicarakan program kerja mereka sekaligus mengakrabkan diri satu sama lain.
"Aku dengar kau seorang pengajar juga, apa itu benar?"
"Setelah melihat program kerja anda yang begitu luar biasa saya jadi tertarik untuk menjadikan anda sebagai tutor untuk siswa berprestasi di sekolah kami, apa kau bersedia?"
"Kalau boleh tahu tutor untuk mata pelajaran apa?" tanya L
"Sebenarnya bukan tutor mata pelajaran, tapi lebih tepatnya anda akan menjadi pembimbing siswa-siswi berprestasi yang akan mengikuti perlombaan tertentu. Jadi tugas anda adalah membantu mereka belajar mempersiapkan materi lomba dan juga membantu mereka mengatasi kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam lomba, atau lebih tepatnya kamu akan motivator untuk mereka. Dilihat dari performa kamu saat memenangkan lomba mengajar aku yakin kau bisa melakukannya," terang Sean
"Kalau waktunya tidak bentrok dengan jadwal mengajar saya, Insya allah saya akan menerima tawaran itu, tapi kalau bentrok ya apa boleh buat saya tidak bisa mengambil pekerjaan itu," jawab L
"Wah baru kali ini aku mendengar seorang pengajar swasta menolak tawaran untuk bekerja di sekolah internasional yang memiliki income lebih besar dari sekolah swasta biasa, apa kau sengaja jual mahal karena sudah bekerja di kementerian?" tanya Sean menatapnya sinis
"Bagi saya mengajar adalah sebuah passion dimana saya mempunyai kepuasan tersendiri saat bisa menjadikan siswa dengan kemampuan biasa menjadi siswa yang luar biasa. Tidak munafik aku juga sangat menginginkan penghasilan yang tinggi saat mengajar, itulah kenapa aku masih menerima tawaran bekerja di sini sebagai Tim Pengembang kurikulum, tapi dengan catatan tidak meninggalkan tugas utama saya sebagai seorang Guru. Karena bagi ku kebahagiaan seorang guru adalah bukan dari berapa besar gaji yang diterimanya, tapi lebih dari kepuasan batin saat ikhlas mengajar meskipun dengan gaji pas-pasan,"
"Wah kau benar-benar seorang guru sejati, baiklah kalau begitu aku harap kau bersedia menerima tawaran ku, karena pekerjaan ini tak banyak memakan waktu dan sangat fleksibel," sahut Sean
"Baik nanti saja pertimbangkan lagi," sahut L
"Aku harap kau akan menerima pekerjaan ini. Jika kamu tidak bisa mengajar mereka secara langsung, kau bisa melakukan pembelajaran secara daring dan tidak harus datang ke sekolah kami, atau kau bisa mengajar mereka setelah selesai mengajar di sekolah lamamu. Kau juga tidak perlu menghabiskan waktu lama dengan mereka, mereka adalah siswa pilihan jadi kau hanya perlu memberikan tips belajar saja kepada mereka," terang Sean
"Kalau kau bersedia, datanglah ke sekolah ku besok setelah selesai mengajar," imbuhnya
__ADS_1
"Baik, nanti saya lihat jadwal mengajar ku dulu, kalau masih ada waktu luang aku pasti akan datang menemui mu," jawab L
Selesai membicarakan program kerjanya, iapun segera bersiap-siap pulang.
Laila kemudian melesatkan sepeda motornya meninggalkan halaman kantor kementerian.
Setibanya di tempat penitipan anak, Bagas langsung berlari memeluknya saat melihatnya di depan pintu.
"Kamu pasti kangen banget ya sama mamah, makanya sampai seperti ini?" tanya L
"Papah, Bagas mau ketemu papah," ucap anak itu membuat L seketika terenyuh mendengarnya.
"Iya sayang, nanti hari Sabtu Bagas bisa ketemu papah, sekarang papah masih kerja jadi belum bisa ketemu sama Bagas," sahut L mencoba menghiburnya
"Aku mau ketemu papah sekarang!" rengek anak itu kemudian menangis
Laila kembali memeluk buah hatinya dan mencoba memberi pengertian kepadanya. Saat ia sudah mulai tenang L baru mengajaknya pulang ke rumah.
Namun setibanya di rumah Bagas kembali merajuk dan menangis meminta bertemu dengan ayahnya.
Memang sudah lama Bagas tidak bertemu dengan Krisna. Hampir sebulan lebih setengah mereka pindah, Krisna sama sekali tak menjenguk buah hatinya ataupun sekedar menelpon untuk menanyakan kabarnya.
Melihat kesedihan buah hatinya membuat hati L seperti tercabik-cabik. Bahkan rasanya lebih sakit daripada saat Hera mengusirnya dari rumahnya sendiri.
"Ada apa sih, kok rame banget rumahnya," ucap Gandrung kemudian menghampiri keduanya
"Bagas kenapa sayang kok nangis, coba cerita sama om kenapa kamu nangis, kamu pasti habis dimarahi sama mamah ya makanya sampai sedih begini?" tanya Gandrung sambil mengusap air mata anak itu
"Bagas mau ketemu papah, aku kangen papah," jawab Bagas kembali tersedu-sedu
"Kamu mau ketemu papah?"
Bagas langsung mengangguk mendengar ucapan Gandrung.
"Mau peluk papah?"
Kembali anak itu mengangguk menanggapi pertanyaan Gandrung.
"Kalau begitu sini peluk," ucap Gandrung kemudian membuka tangannya
Dan ajaib bagas langsung memeluknya erat.
"Anggap aja Om ini papah kamu, jadi kamu bisa peluk Om kapanpun kalau kamu kangen papah ya," ucap Pemuda itu membuat L terharu melihat ketulusan pemuda itu.
*********
__ADS_1
Penasaran dong kaya apa sih wajah Brondong Andru, nah tuh aku kasih lihat kira-kira seperti itu ya wajah Andru, kalau kurang puas ya berimajinasi sendiri ya...wkwkwkwk