
"Sejak kapan kamu bisa jalan?" tanya L
"Sebenarnya aku tidak lumpuh, aku sengaja pura-pura gak bisa jalan karena ingin tahu reaksi orang yang berusaha membunuh ku, tapi sekarang semuanya sudah clear, jadi aku sudah bisa menunjukkannya kepadamu, meskipun aku masih harus berpura-pura di depan orang-orang." jawab Andru
"Syukurlah, aku begitu cemas saat kamu tahu lumpuh tapi sekarang aku lega," ucap L kemudian mengecup pipinya
"Kok cuma sebelah sih, nanti yang sebelahnya iri loh kalau gak di kasih juga," ucap Andru langsung menyodorkan pipi sebelah kirinya
*Cup!
"Jangan lupa yang ini juga," ucap Andru menunjuk ke bibirnya
"Kebiasaan suka ngelunjak nih!" celetuk L
"Biasa sayang kalau udah lama gak disentuh kek gini, rasanya tuh kaya lemes kaya kurang cairan," jawab Andru
"Terus???" tanya L
"Pengin bercocok tanam," ucap Andru menatap L dengan tatapan menggemaskan
"Tapi kamu masih sakit kan?" tanya L
"Aku sudah sehat lahir batin," jawab Andru
"Tapi beberapa hari kemarin aku merasakan kamu seperti orang lain, makanya aku menolakmu,"
"Mungkin aku kehilangan sebagian ingatanku tentang dirimu, karena kamu orang yang paling penting dalam hidupku begitulah penjelasan dari dokter, jadi jangan marah ya sayang," jawab Andru berusaha mengembalikan kepercayaan L padanya
"Tentu saja aku takan pernah marah padamu, hanya saja aku merasa kurang nyaman berada di dekat mu," jawab L
Kamu benar-benar peka L,
Andru kemudian memeluknya erat, "Apa yang harus aku lakukan agar kamu merasa nyaman lagi bersamaku?" bisiknya
"Kau tidak harus berubah atau melakukan apapun, tetap jadi dirimu sendiri itu sudah cukup," jawab L
"Kamu memang istri terbaik di dunia ini, terimakasih sayang," tutur Andru mengecup keningnya
"Btw kamu dari mana kok baru pulang jam segini?" tanya Andru
"Nganter si Baby ke psikolog,"
"Emang Bagas kenapa?"
"Entah apa yang terjadi dengannya, semenjak masuk sekolah dasar ia malah jadi hiperaktif dan gak bisa diam, makanya tadi kepala sekolah memanggil ku dan menyuruh untuk konsultasi ke psikolog," jawab L
"Terus hasilnya gimana?"
"Kata Psikolog sih ada kemungkinan jika Bagas mengidap autisme dan juga ADHD tapi untuk lebih jelasnya aku harus memeriksakan Bagas ke dokter anak," jawab L lesu
"Jangan sedih dong sayang, aku yakin anak kita itu anak yang hebat, aku yakin di bukan autis atau ADHD karena aku tahu bagaimana ciri-ciri anak autis, dan kalau hiperaktif Bagas sih masih normal. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya begitu saat di kelas, bisa jadi bosen, jenuh atau suasana kelas tidak sesuai dengan harapannya," jawab Andru
"Semoga saja begitu ya Ndru, tapi aku beneran malu kalau di sana, abis selain gak bisa diem bagas juga gak mau ngerjain tugas yang diberikan bu guru, jadi sampai sekarang buku nilai Bagas masih kosong gak ada nilainya," jawab L
"Yaudah nanti aku bantu bilangin pelan-pelan ya, mungkin jika sesama lelaki yang memberitahunya dia pasti akan mendengar ku,"
"Thanks sayang," jawab L menggelayut manja dalam pelukan Andru
"Sepertinya kamu kurang belaian beberapa hari ini sayang, apa mau aku belai?" goda Andru
"Emang kelihatan ya?"
__ADS_1
"Banget sayang," ucap Andru kemudian mengecup bibir tipis Laila
Ia kemudian menarik lengan wanita itu menuju ke kamarnya.
*********
Gedung Aditama Group.
Pagi itu Lexi sengaja memasuki ruang kerja Barri setibanya di Gedung Aditama Group.
Tanpa bicara panjang lebar, ia segera mengganti papan nama Barri dengan namanya.
Tentu saja Barri tak tinggal diam langsung mencegahnya saat Lexi akan memasang papan namanya menggantikan papan nama miliknya.
"Apa yang kau lakukan Lex!" hardik Barri langsung menghalangi pemuda itu memasang papan namanya
"Sebagai seorang kepala Divisi keuangan yang baru, bukannya aku harus memasang papan namaku di sini?" jawab Lexi dengan santainya
"Apa kau bilang?" Barri terlihat kaget mendengar ucapan sepupunya itu.
Tanpa banyak bicara, Lexi segera memperlihatkan surat pengangkatannya menjadi kepala divisi keuangan yang baru menggantikan posisi Barri.
Barri seketika meradang dan terus mengucapkan sumpah serapah kepada Andru yang sudah mendepaknya dari Divisi keuangan.
"Tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin dia langsung menaikan jabatan seorang mantan narapidana, bukannya memberikan sanksi ia malah menunjukkan sikap arogannya dengan menaikan jabatannya. Apa dia sengaja melakukan semua ini untuk menutupi kebusukannya??" pekik Barri membuat semua karyawan menatapnya
Pagi itu, hampir semua karyawan tak berhenti menggunjingkan Andru yang memutuskan memindahkan Barri ke Divisi Humas.
Semua orang seketika berhenti membicarakannya saat melihat kedatangan Andru bersama asistennya.
Andru hanya tersenyum sinis menanggapi hujatan para karyawannya yang telah di hasut oleh Barri.
"Lihatlah wajah arogannya, bagaimana ia tidak berkaca atas musibah yang telah menimpanya. Harusnya ia introspeksi diri setelah kakinya lumpuh, bukannya malah mencari musuh,"
Seketika Andru menggebrak meja kerja dihadapannya hingga membuat beberapa orang yang masih bergunjing langsung diam seketika.
"Kalau kalian masih betah kerja di sini lanjutkan pekerjaan kalian dan berhentilah bergosip. Tapi jika kalian sudah tidak betah lagi silakan angkat kaki dari sini. Lagipula aku tidak butuh karyawan yang hanya datang untuk bergosip, jadi lakukan pekerjaan kalian sebaik mungkin jika masih ingin mendapatkan gaji besar disini," ucap Andru kemudian meninggalkan ruangan itu
Setibanya di ruangannya Lexi sudah menunggunya di sana.
Pemuda itu segera memberikan dokumen penting kepadanya.
"Seperti janjiku padamu, aku membawa bukti yang menunjukkan jika pelaku penggelapan dana perusahaan adalah Barri. Dengan menggunakan stempel Divisi keuangan aku berhasil menemui seorang rekanan kerja Barri yang selama ini membantunya melakukan money laundry,"
Lexi memberikan salinan rekening bank luar negeri kepada Andru.
Ia menceritakan jika Barri sudah mentransfer semua uang haramnya ke rekening bank luar negeri agar perusahaan tidak bisa melacaknya.
"Terima kasih Lex atas bantuannya, aku yakin akan bisa mengembalikan uang itu secepat mungkin agar perusahaan ini kembali survive. Aku tidak bisa melakukannya sendirian jadi aku butuh bantuan mu Lex,"
"Tentu saja Ndru, kamu sudah membantu memulihkan nama baikku dan membebaskan aku dari tuduhan palsu yang dibuat oleh Barri, jadi sudah sewajarnya aku membantumu. Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi ku jika kamu membutuhkan sesuatu," jawab Lexi menepuk bahunya.
*********
SD HARAPAN MANDIRI
Hari itu semua siswa kelas satu menggambar bebas di luar kelas. Para orang tua tampak ikut mengamati putra-putri mereka dari kejauhan.
Selesai menggambar sang guru sengaja memasang hasil karya siswa-siswinya di mading.
Semua orang tampak antusias melihat hasil karya anak mereka.
__ADS_1
Seketika pandangan semua wali murid tertuju pada gambar Bagas yang terlihat paling jelek diantara yang lainnya.
"Lihat saja, bahkan ia tidak bisa menggambar. Gambarnya sangat jelek dan tak berbentuk, belum lagi pewarnaannya yang amburadul, padahal dulu ibunya seorang guru. Pasti orang tuanya tak pernah mengajarinya di rumah, miris sekali!" ucap para wali murid menggunjingkan Bagas
Mereka seketika terdiam saat melihat L datang untuk melihat hasil karya putranya.
Meskipun L kecewa dengan hasil karya Bagas namun ia tak bisa memarahi anak itu. Bagaimanapun juga ia sudah berusaha menggambar sesuai kemampuannya.
"Sayang, memangnya yang kamu gambar itu apa sih kok kayanya rumit banget?" tanya L saat perjalanan pulang
"Itu gambar Game, aku baru saja merancang sebuah game baru," Bagas kemudian mengeluarkan buku gambarnya dan menjelaskan satu persatu apa yang ada dalam gambarnya.
"Wah keren ya, tapi lain kali kalau ada tugas menggambar lagi bisa kan bikin gambar sederhana seperti teman-teman yang lainnya. Soalnya pasti bu guru juga gak tahu game yang dibuat bagas," ucap L memberikan pengertian kepadanya
"Iya mah, nanti aku gak gambar game lagi di sekolah,"
"Good boy," L mengusap kepalanya dan mengajaknya masuk kedalam rumahnya.
Setibanya di rumah seorang assisten rumah tangganya memberikan kartu undangan kepadanya.
"Terima kasih Bi," ucap L kemudian membaca kartu undangan itu.
"Undangan ulang tahun anak Hera, sore ini," Laila kemudian menyiapkan makan siang Bagas
"Sayang nanti sore ada undangan ulang tahun Shiera, jadi habis makan jangan tidur siang ya, kamu gambar aja atau main dengan mamah ya,"
"Ok mah," jawab Bagas segera menyantap makan siangnya
Pukul empat sore Laila mengajak Bagas ke rumah Hera.
Meskipun hanya anak tiri, namun Hera sengaja membuat acara ulang tahun anaknya begitu meriah.
"Wah meriah sekali!" Bagas segera berlari dan membaur bersama anak-anak lainnya bermain di arena bermain yang sudah disediakan.
"Anak-anak, waktu bermain sudah selesai sekarang saat kita kumpul yuk!" seru seorang pemandu acara
Semua anak-anak segera berlari menuju tempat yang sudah di sediakan dan duduk dengan rapi menyaksikan rangkaian acara yang sudah dipersiapkan.
Pada saat Shiera akan akan memotong kue, Bagas dengan sengaja mematikan lampu ruangan itu dan memainkannya membuat Hera begitu geram.
Melihat hal itu L segera menghampirinya dan menarik anak itu untuk menjauh dari saklar listrik.
"Bagas gak boleh mainin lampu kaya gitu, nanti kalau konslet gimana?. Kan bahaya, sekarang ayo minta maaf sama Sheira," L kemudian mengajak Bagas untuk meminta maaf pada Sheira
"Gak papa Bu, namanya juga anak-anak nakal-nakal sedikit wajarlah," ucap suami Hera
Namun berbeda dengan Sheira yang masih terlihat kesal dan begitu membenci Bagas.
Tidak mau melihat bagas semakin berulah, maka L memutuskan untuk mengajak pulang lebih awal.
"Sekali lagi saya minta maaf, karena sudah membuat kekacauan di pesta ulang tahun anakmu, kalau begitu aku pamit."
Hera hanya menanggapi sinis ucapan L, ia tak berani memarahinya karena suaminya melarangnya.
"Kenapa sih Mas kita gak boleh marah sama dia, apa mas takut sama Andru karena dia atasan Mas!" seru Hera begitu geram
"Tentu saja, sebagai bawahan kita bisa apa, apa kamu mau aku di pecat karena mempermasalahkan masalah sepele. Lagipula namanya juga anak-anak wajarlah kalau bercanda,"
"Ini sudah gak wajar Mas, anak L itu gak normal. Lihat saja tadi, dia hanya bermain sendirian saat yang lainnya sedang asyik menikmati pesta,"
"Sudahlah jangan di bahas lagi, aku pusing mendengarnya!" ucap lelaki itu segera pergi meninggalkan Hera
__ADS_1
"Kita lihat saja L, sampai kapan kamu akan menutupi kenyataan jika anakmu adalah anak berkebutuhan khusus, aku yakin IBu Kepada Sekolah akan mengeluarkannya dari sekolah jika ia tahu bagaimana liarnya Bagas di dalam kelas?"