
Edisi Revisi, jadi baca ulang ya, maaf kan aku yang mengulang babnya karena human erro. Sarangheo 😘
Hera tersenyum bahagia saat Sheira berhasil memenangkan perlombaan. Ia kemudian memajang piala dan medali Sheira di sebuah lemari yang disediakan khusus untuknya.
"Semoga lemari ini sebentar lagi dipenuhi oleh berbagai piala dan medali kemenangan mu nak," ucap Hera menatap lekat wajah Sheira
"Iya mah, mulai sekarang Shei janji akan semakin rajin mengikuti lesnya," jawab Sheira
"Good girl, kamu harus bisa mengalahkan Bagas. Tidak ada seorangpun yang lebih pintar di kelas selain dirimu," tutur Hera
Pagi harinya Hera menceritakan keberhasilan anaknya yang berhasil memenangkan beberapa perlombaan kepada para wali murid di sekolah. Ia bahkan memamerkan sejumlah piala yang berhasil di raih oleh Sheira beberapa hari ini
"Wah aku benar-benar gak nyangka kalau Sheira sangat cerdas dan berbakat. Andai saja anakku juga seperti dia, betapa senangnya diriku,"
"Memang tidak ada siswa yang paling pintar dan populer dikelas kita selain Sheira," imbuh wali murid yang lainnya.
"Oh ya, besok sudah mulai ujian semester. Wah jadi gak sabar pengin tahu siapa yang akan menjadi siswa terbaik di kelas kita,"
"Benar, aku penasaran diantara Sheira dan Bagas siapakah yang lebih pandai,"
"Menurut ku sih Sheira juaranya, meskipun Bagas itu genius. Tapi tetap saja ia masih kurang cakap dalam segala hal. Berbeda dengan shei yang sudah menguasai berbagai macam kemampuan lain selain kemampuan akademik yang memang sudah unggul,"
"Benar!"
Mendengar pujian dari beberapa orang wali murid membuat Hera merasa putrinya adalah yang terbaik di kelasnya.
Hari yang dinanti pun tiba, ujian semester yang dinantikan para siswa sudah di depan mata. Pagi itu semua siswa-siswi begitu antusias datang ke sekolah.
Hanya Bagas yang datang terlambat seperti biasanya.
Ia duduk di tempat duduknya dengan wajah yang masih mengantuk.
Melihat Bagas yang tak bersemangat hari itu membuat semua siswa langsung berbisik-bisik membicarakannya.
"Dia pasti gak siap ujian,"
"Aku yakin dia tidak belajar, makanya seperti itu,"
"Syukurlah, jadi aku bisa dengan mudah mengalahkannya," ujar Sheira begitu bangga
Bel tanda masuk berdering membuat semua anak langsung duduk dengan tertib di kursinya masing-masing.
__ADS_1
Tidak lama Miss Cinthya memasuki ruangan kelas dan membagikan kertas ujian.
Tidak butuh waktu lama bagi Bagas sudah menyelesaikan soal-soalnya.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam Bagas sudah menyelesaikan soal-soalnya, bahkan ketika siswa lain baru mulai membaca soal.
"Apa, dia sudah selesai!" seru yang lain saat melihat Bagas menyerahkan lembar jawabannya kepada Miss Cynthia
"Yang lainnya jangan berisik, tetap kerjakan soal dengan tenang sesuai waktu yang sudah diberikan. Jangan buru-buru jika ingin nilai kalian bagus!" ucap Miss Cinthya mencoba menenangkan siswa yang mulai gaduh saat melihat Bagas bersiap pulang.
"Pasti dia dapat nilai jelek, karena Miss bilang begitu," ucap Sheira
"Syukurin, makanya jangan sok pintar," sahut yang lainnya
Hari berikutnya, Bagas melakukan hal yang sama hingga ujian semester selesai.
Hari terakhir ujian semester L sengaja menemui sang psikolog untuk mengambil hasil tes IQ Bagas.
Wanita itu terlihat begitu cemas saat menunggu antrean bertemu Sang Psikolog.
Ia segera menggandeng lengan putra bungsunya saat namanya di panggil oleh perawat yang bertugas.
"Selamat siang Ibu Laila," sapa sang Psikolog dengan senyum manis di wajahnya
"Saya bukan dokter tapi Psikolog, panggil saja saya mbak Nia atau Bu Nia saja," jawab wanita berhijab itu
"Baik Bu Nia,"
Wanita itu kemudian membuka sebuah amplop coklat dan mengeluarkan isinya.
"Berapa usia Bagas sekarang Bu?" tanya Nia
"Tujuh tahun tiga bulan," jawab L
"Hasil tes putra Ibu sangat mencengangkan dan di luar dugaan saya, ternyata putra anda adalah anak Genius dengan IQ 0,01. Saya harap anda segera mencari tempat belajar yang sesuai dan bisa mengarahkan ia untuk mengasah kemampuannya. Karena tidak semua sekolah atau tempat bimbingan belajar bisa mengarahkan anak-anak dengan intelegensi tinggi seperti dia,"
"Apa Bu Nia ada saran, atau referensi tempat belajar yang bagus untuk Bagas?" tanya L
"Kalau itu saya kurang tahu, tapi biasanya hanya sekolah dengan kurikulum internasional atau boarding school yang biasanya memiliki program pengembangan untuk anak-anak seperti Bagas," terang Nia
"Ok Bu Nia, terimakasih atas informasinya," ucap L kemudian berpamitan
__ADS_1
Laila begitu terkejut sekaligus bahagia saat mendengar penjelasan sang psikolog, ia benar-benar tak menyangka jika Bagas benar-benar genius.
"Sayang kamu genius nak," ucap L memeluk putranya erat
Sepenjang perjalanan pulang ia terus memeluknya karena masih tak percaya dengan berita itu.
Saat ia menceritakan semuanya kepada Andru, lelaki itu segera pulang dan merayakan kebahagiaan mereka karena memiliki anak Genius.
"Sepertinya papah harus buat pesta tujuh hari tujuh malam deh buat si baby, karena kamu luar biasa!" seru Andru langsung mengangkat anak itu dan menaruh di pundaknya
"Anak papah luar biasa, yeay!!" serunya sambil berkeliling menggendongnya
"Sudah dong sayang selebrasinya, sekarang yang harus kita pikirkan adalah kita harus mencari tempat belajar yang bisa mengarahkan dia untuk mengembangkan kemampuannya." ucap L
"Apa dia harus pindah sekolah?" tanya Andru
"Tentu saja tidak, sekolah Bagas kan salah satu Boarding school terbaik di Jakarta jadi kita tidak perlu pindah sekolah, hanya saja kita harus mempersiapkan dia untuk mengikuti program akselerasi, yaitu dengan memasukkannya ke sebuah bimbingan belajar yang memang menangani anak-anak seperti Bagas," jawab L
"Apa kamu sudah mencarinya?" tanya Andru
Laila menggelengkan kepalanya, namun tiba-tiba matanya membuka sempurna saat ia mengingat seseorang yang memberikan penawaran kepada Bagas saat ia berhasil lulus tes dengan nilai sempurna.
"Aku tahu tempatnya," ucap L menatap lekat kearah Andru
"Tatapan mu itu seperti menantang ku sayang," ucap Andru menggodanya
"Ish apaan sih, orang aku bilang tempat belajar Bagas bukan tempat tidur," jawab L langsung mencebikkan mulutnya
"Aku kan gak bilang gitu sayang, kok kamu sensitif banget sih, kamu aja yang berpikiran tempat tidur kan, jangan bilang kalau kamu sengaja menggodaku karena kamu 🎶sedang ingin bercinta!🎶" seru Andru menirukan aku the rock menyanyikan lagu sedang ingin bercinta
L langsung melirik dengan tatapan wajah sinis kearah Andru.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" serunya sinis
"Kamu tahu kan sayang, kalau akhir-akhir ini aku selalu kangen sama kamu dan aku ingin selalu berdua sama kamu, nah karena hari ini anak-anak juga sedang merayakan kebahagiaan mereka, bagaimana kalau kita juga merayakannya dengan cara kita," ucap Andru langsung menggendong L menuju kamarnya
"Astaghfirullah, ini masih siang Ndru, lagian kamu kan masih kerja," ucap L
"Justru siang-siang yang bikin hot, kalau masalah kerjaan gampang L. Kan gue bosnya jadi bebas," sahut Andru
"Lagipula emang kalau darah muda kaya gue nih emang lagi butuh banyak pelepasan biar pikiran plong jadi kerjaan juga makin lancar,"
__ADS_1
"Emang ada hubungannya kerjaan sama gituan?" tanya L
"Ada dong sayang, kalau jarang di lepasin kan pasti pikiran buntu kerjaan pasti terganggu sayang, makanya kamu harus bantu aku melakukan pelepasan tiap hari ya sayang bila perlu tiga kali sehari kaya minum obat biar makin sehat," ucap Andru langsung memulai rutinitas panasnya