
"Ya gak bisa dong sayang, kalau aku tiba-tiba menjauhi Sean pasti dia akan curiga padaku, dia pasti mengira aku sedang kesal dengannya apalagi jika aku tak selalu manyun bila bertemu dengannya. Percayalah meskipun aku selalu tersenyum kepada semua orang tapi hatiku hanya untuk mu seorang," ucap Laila berusaha meyakinkan pemuda itu
"Ah benar juga, maaf ya sayang kalau aku tiba-tiba jadi jelous gini,"
"Iya gak papa, justru aku senang karena kamu mau terus terang, semoga setelah ini hubungan kita makin harmonis lagi," jawab Laila
"Aamiin, yaudah kalau gitu aku pamit balik kerja lagi ya, love you!" ucap Andru berpamitan
"Love you too," jawab Laila kemudian mengantar Andru
"Semangat ya sayang kerjanya!" seru L
"Hmm," jawab Andru mengangguk
Lelaki itu melambaikan tangannya dan segera meluncur meninggalkan kafe.
"Astaghfirullah apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku malah terhasut hanya dengan foto-foto murahan ini. Kasian L dia pasti kecewa sama aku, tapi karena dia terlalu baik jadi gak memperlihatkannya kepadaku. Maaf ya sayang, aku lupa kalau kamu tuh wanita setia, sejenak logika ku tercemar karena cemburu yang berlebihan, jujur saja aku memang cemburu kalau kamu sama Sean. Bagiku dia itu adalah saingan yang nyata," celoteh Andru sepanjang perjalanan pulang
Setibanya di Gedung Aditama Group, Andru terkejut saat melihat para klien sudah tidak ada. Ia kemudian bertanya kepada receptionist dimana para klien tersebut.
"Mereka semua sudah pulang Pak, karena acara launching property sudah selesai," jawab sang receptionist
Andru kemudian melirik kearah jam tangannya.
"Sial, waktunya hampir habis," Andru segera berlari menuju ruang kerjanya
Saat ia hendak memasuki lift pria itu melihat Barri sedang melakukan presentasi kepada sang sementara itu Lexi juga sudah menunggu giliran untuk mempresentasikan program pemasarannya.
"Sekarang aku tahu kenapa aku mendapat foto-foto itu, ternyata salah satu dari mereka menginginkan aku gagal dalam misi ini. Baiklah kita lihat saja siapa yang gagal dalam misi ini. Aku harus menjadi CEO Aditama Group demi L," Andru segera masuk ke ruangannya dan mempersiapkan sebuah presentasi singkat
Hanya butuh waktu satu jam ia sudah bisa menyelesaikan programnya.
Saat ia keluar dari ruangannya, ia melihat seorang karyawan tengah kebingungan.
Ia kemudian menghampiri pria itu dan bertanya padanya.
"Aku lihat sepertinya kau sedang kebingungan, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang membuatmu bimbang?" tanya Andru
"Oh Mas Andru, maaf kalau aku sudah membuat mu merasa khawatir. Sebenarnya aku sedang kebingungan mencari properti untuk istriku, maklum kami baru menikah jadi baru terpikirkan untuk membeli sebuah rumah. Saat aku melihat-lihat harga properti yang ditawarkan oleh perusahaan kita, aku sedikit tertarik hanya saja harganya sangat mahal," jawab pria itu
"Kalau begitu kenapa kamu tidak ikut program rumah kita saja, jadi sekarang ada program rumah kita yang ditujukan khusus untuk karyawan Aditama Group yang belum memiliki rumah. Program rumah kita akan memberikan subsidi untuk muka sebesar lima puluh persen plus cicilan flat dengan bunga rendah khusus karyawan Aditama Group. Sasaran program ini adalah semua karyawan Aditama Group yang belum memiliki rumah, jadi kami sengaja mengeluarkan program baru ini agar semua karyawan Aditama Group yang belum memiliki rumah bisa mempunyai rumah." terang Andru
__ADS_1
"Tapi aku belum melihat program ini tadi,"
"Memang belum di launching, aku baru saja akan mengajukannya kepada kakek, doakan saja semoga kakekku menyetujuinya," jawab Andru
"Aamiin Mas, kalau begitu aku langsung jadi pembeli pertama jika program itu di launching!"
"Ok," jawab Andru kemudian meninggalkan pria itu.
Barri dan Lexi tersenyum bahagia saat melihat Andru tak ada di tempat duduknya.
William masih menunggu Andru meskipun beberapa orang direksi mendesaknya untuk mengeliminasi pemuda itu.
"Masih ada waktu lima menit, jika sampai pukul lima sore dia tidak datang juga berarti dia gagal dalam misi ini," jawab William
Semua orang seketika terkesiap saat mendengar seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Andru berjalan memasuki ruangan rapat dengan penuh percaya diri.
"Maaf, aku datang terlambat," ucap Andru sebelum memulai presentasinya
Ia kemudian memulai presentasinya dengan memperkenalkan program promosi rumah kita yang sudah ia rancang.
Semua orang tampak antusias mendengarkan penjelasan Andru yang begitu detail dan menarik perhatian sebagian Direksi.
"Meskipun programnya bagus tapi percuma saja jika dia tidak berhasil menjual properti kita," celetuk Lexi
"Tentu saja aku sudah berhasil menjual properti kita, bahkan karyawan kita sendiri yang membelinya dengan program rumah Kita yang aku tawarkan," jawab Andru
"Tapi percuma saja kau berhasil menjual properti kita kalau tidak mendapatkan keuntungan. Bayangkan saja dia memberikan subsidi lima puluh persen dari Down Payment (Uang muka), lah terus kita dapat apa?" tanya Lexi
"Untuk DP itu sudah dinaikkan harganya dua puluh lima persen dari harga aslinya jadi tetap saja kita masih mendapatkan keuntungan, untuk lebih jelasnya silakan dilihat perbandingan harga promo rumah kita dengan promo dari pihak Aditama Group," Andru segera membagikan brosur kepada para direksi yang ada di tempat itu
William tersenyum puas menatap hasil kinerja Andru.
"Kau benar-benar bisa diandalkan Andru, program mu sangat bagus, dan aku yakin penjualan kita bisa meningkatkan jika semua karyawan mengambil promo ini," jawab William
Barri tak bisa menyembunyikan kekesalannya saat lelaki tua itu mengumumkan Andru sebagai pemenang challenge hari itu.
Andru segera membereskan filenya dan menghampiri kedua sepupunya.
"Sepertinya usaha kalian sia-sia saja," bisik Andru kemudian berlalu meninggalkan keduanya
Lexi menatap lekat kearah Barri, "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Lexi
__ADS_1
"Tidak penting lagipula dia juga tidak mudah di provokasi," jawab Barri kemudian meninggalkan ruangan rapat.
Setibanya di ruangannya ia langsung melampiaskan kekesalannya.
"Ah sial!!!" seru Barri melemparkan semua map di tangannya
"Bagaimana mungkin ia tidak terprovokasi dengan foto-foto itu, apa wanita itu begitu istimewa hingga Andru tak bisa marah dengannya," ucap Barri kemudian menghapus foto-foto Laila dari galerinya
Lexi yang tak sengaja melihat kemarahan sepupunya langsung merebut ponselnya dan melihat galeri ponsel pemuda itu.
Seketika ia tertawa saat melihat foto-foto di galeri Barri.
"Jika seseorang sudah saling percaya bahkan berjanji sehidup semati tentu saja tidak akan mudah di provokasi dengan gambar-gambar seperti ini, kenapa kau tidak meminta bantuan ku jika ingin menghancurkan hubungan Andru dan wanita itu," ucap Lexi
"Percuma saja, semuanya sudah berakhir, sekarang jika dia putus sengan wanita itu juga tidak ada untungnya bagi kita, tetap saja ia yang akan menjadi CEO Aditama Group," jawab Barri
"Kenapa kau jadi lemah seperti ini, mana Barri yang ku kenal?" tanya Lexi
Barri menatap lekat kearah saudara sepupunya itu, "Lalu apa yang akan kau lakukan untukku?"
**********
"Yeay, akhirnya jadi juga aku melamar Ibumu!" seru Andru langsung menggendong Bagas dan menciuminya.
L hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andru.
"Memangnya kapan kau akan melamar ku?" tanya L
"Sekarang," jawab Andru menatap lekat wanita itu
L langsung menatap sekelilingnya dan mengangkat bahunya saat tak melihat sesuatu di sana.
Seketika Andru langsung bersiul dan tidak lama sebuah balon berbentuk love berterbangan di udara membawa sebuah spanduk bertuliskan "L, Will You Marry Me,".
Seketika L langsung terpesona melihat keromantisan pemuda itu.
"Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Andru membuka sebuh box berbentuk hati yang berisikan sepasang cincin pernikahan.
Laila tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat kesungguhan Andru. Seketika i mengangguk membuat Andru langsung memeluknya erat.
"Terimakasih sayang, sudah menerima lamaran ku, semoga semuanya berjalan lancar sampai pernikahan," ucap Andru kemudian menyematkan cincin di jari manis L.
__ADS_1
"Aamiin,"