
Semua siswa terlihat begitu antusias mendengarkan penjelasan guru. Hari itu Bagas juga terlihat diam tak seperti hari-hari biasanya.
Kali ini dia lebih memilih menggambar daripada berkeliling kelas. Setelah gambarnya selesai ia kemudian memamerkannya kepada teman-temannya.
"Wah bagus sekali gambarnya," ucap teman sebangku Bagas keduanya kemudian berbincang membahas gambar tersebut hingga sang guru menghampiri mereka karena merasa terganggu.
"Bagas sama Zidan bisa diam kan, kasian temen-temen yang lagi belajar terganggu dengan kalian," tegur Bu Guru
"Bisa Miss," jawab Keduanya kompak
"Baik sekarang perhatikan video di depan setelah itu ada beberapa soal yang harus dijawab,"
"Ok Miss,"
Miss Cynthia kemudian menyalakan sebuah video pembelajaran dan semua siswa menyimak dengan antusias. Selesai menonton video ia kemudian memberikan lembar kerja siswa.
Sementara itu Laila terlihat menunggu dengan cemas di luar bersama wali murid lainnya.
Selesai ulangan Miss Cynthia memberikan sebuah tugas kelompok. Semua siswa diberikan kebebasan memilih kelompoknya masing-masing. Semuanya begitu antusias saat memilih anggota kelompoknya.
Kecuali Bagas yang tak perduli meskipun tak seorangpun yang memilihnya bergabung dengan kelompoknya.
Cynthia kemudian mencoba memasukkan Bagas ke salah satu kelompok yang masih sedikit anggotanya namun mereka langsung menolaknya.
"Aku gak mau satu kelompok sama Bagas, dia kan aneh!" seru seorang salah seorang siswa
"Kalau begitu Bagas sendiri saja bu, gak papa kok aku bisa," jawab Baga
"Yaudah kalau gitu sekarang bersiap-siap ya, bentar lagi pulang," ucap Cyntia
Bunyi bel panjang membuat semua siswa bergegas meninggalkan kelas dan berlari menemui orang tua mereka yang sudah menunggu di depan kelas.
Hari itu Miss Cyntia sengaja menyuruh Bagas untuk tidak pulang lebih dulu.
Ia mengajak anak itu berbicara di ruangannya.
"Bagas, kenapa kamu tidak mau menjawab soalnya?" tanya Cynthia memperlihatkan lembar kerja Bagas yang kosong
"Karena aku gak suka, soalnya terlalu mudah," jawab Bagas membuat Cyntia mengerutkan keningnya
"Memangnya kamu bisa menjawab jika soalnya susah?" tanya Cynthia lagi
"Hmm," jawab Bagas mengangguk
Wanita itu kemudian memberikan soal kelas 6 dengan level kesulitan yang tinggi.
__ADS_1
"Kamu harus janji, kalau Bagas tidak bisa menjawab soal ini, mulai besok kamu harus berhenti menggambar saat jam pelajaran, dan dilarang mengganggu teman-teman lain saat belajar, dan yang paling penting kamu juga harus mengerjakan semua tugas yang Miss berikan, Ok?" terang Cyntia
"Ok Miss,"
Bagas langsung mengambil soal yang diberikan Cynthia dan mengerjakannya hanya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.
Tentu saja Cynthia begitu terkejut saat melihat Bagas mengerjakannya begitu cepat, dan jawabannya juga benar.
"Coba Miss tanya sekali lagi, jadi kamu hanya mau mengerjakan soal dengan level kesulitan tingkat tinggi begitu?" tanya Cynthia membuat Bagas langsung mengangguk
"Yaudah kalau begitu tolong panggilkan ibu mu supaya menemui Miss sebentar,"
Bagas segera keluar dari ruangannya dan kembali lagi dengan membawa L bersamanya.
"Silakan duduk Bu Laila,"
"Terima kasih Miss,"
"Sepertinya saya salah menilai Bagas selama ini, dia sebenarnya bukan anak yang malas atau bodoh seperti yang aku kira. Dia tidak mau mengerjakan semua soal yang saya berikan di kelas karena menurutnya itu soal yang biasa dan tak menantang. Namun setelah saya rubah soalnya ke Level yang lebih sulit dia malah mengerjakannya dengan cepat dan benar. Ia bahkan mampu menyelesaikan soal-soal ujian kelas enam hanya dalam waktu 10 menit, itu benar-benar luar biasa. Jadi sepertinya anak ibu ini adalah anak spesial jadi saran saya ibu segera melakukan tes IQ untuk mengetahui kemampuan Bagas yang sebenarnya. Meskipun dia selama ini tidak pernah mendengarkan pelajaran dan asyik sendiri tapi dia mampu menjawab soal-soal sulit yang saya berikan. Memorinya juga luar biasa loh Bu," jelas Miss Cynthia
Laila terkejut mendengar ucapan sang Guru. Meskipun sulit dipercaya namun ia tahu jika Bagas memang spesial.
"Baik Bu, nanti saya pasti akan melakukan tes IQ," jawab Laila
"Tentu,"
Laila kemudian bergegas meninggalkan ruangan Cynthia. Wanita itu begitu bahagia saat mendengar cerita Cynthia.
"Semoga saja kamu beneran Genius, bukan asal jawab," ucap Laila terus memperhatikan lembar jawaban Bagas
"Mamah, hari ini ada tugas membuat prakarya, tapi tidak ada yang mau sekelompok denganku," ucap Bagas gusar
"Jangan sedih ya, kamu bisa kan bikin prakarya sendiri?"
"Bisa dong," jawab Bagas
"Yaudah nanti mamah bantuin, pokoknya besok kita tunjukkan sama teman-teman kamu kalau mereka akan menyesal karena tidak memilih mu menjadi anggota kelompok mereka,"
"Yes, pokoknya Bagas akan membuat sebuah prakarya yang spektakuler!" serunya kemudian berlari memasuki halaman rumahnya
Selesai berganti pakaian Bagas segera mengumpulkan semua bahan-bahan untuk membuat prakarya. Ia terlihat begitu sibuk saat sampai lupa makan.
"Sayang makan dulu, nanti lanjut lagi ya bikin prakaryanya,"
"Nanti aja mah, tanggung nih!" sahut Bagas
__ADS_1
"Yaudah kalo gitu, ada yang bisa mamah bantu gak?" tanya L
"Gak usah mah, mamah istirahat aja, biar aku yang menyelesaikannya sendiri," jawab Bagas
"Ok,"
Laila kemudian meninggalkan kamar Bagas dan melanjutkan pekerjaannya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore namun Bagas belum juga keluar dari kamarnya, tentu saja hal itu membuat Laila khawatir. Ia kemudian mengintip apa yang dilakukan anak itu.
L hanya menghela nafas saat melihat anaknya terlelap di lantai.
"Pasti dia kelelahan, karena hampir seharian ngerjain beginian doang," Laila kemudian memindahkan Bagas ke ranjangnya dan membereskan kamar yang berantakan
Wanita itu terus menatap sebuah hasil karya yang sudah dibuat oleh Bagas.
"Bikin apaan sih si baby, kok jelek amat. Kalau gini mah dia bakal di ketawain lagi sama temen-temennya kaya gambar kemarin. Lebih baik aku bantu perbaiki saja biar bagusan prakaryanya," baru saja L akan menyentuh hasil karyanya, Bagas langsung bangun.
"Don't touch it!" serunya kemudian segera berlari menghampiri L dan merebut papan gamenya dari L
"Memangnya kamu bikin apa sih sampai mamah gak boleh bantuin?" tanya L
"Ini papan game," jawab Bagas kemudian menjelaskan apa yang dibuatnya
Ia juga menunjukkan bagaimana cara kerja game yang dibuatnya.
"Ini namanya bukan game sayang tipe Science, memangnya kamu belajar dari mana buat ginian?" tanya L
"Dari buku-buku pelajaran kaka Sifa," jawab Bagas
"Wah sepertinya benar kata Miss Cynthia kalau bagas harus segera melakukan tes IQ, dia memang berbeda,"
Pagi harinya semua siswa kelas satu tampak antusias memperlihatkan hasil karya mereka didepan kelas.
Semua orang langsung menatap kearah Bagas saat Miss Cyntia memanggil namanya.
Tanpa ragu-ragu bagas maju ke depan kelas dan memperlihatkan hasil karyanya.
Semua siswa menertawakannya saat melihat papan mainan yang dibuat oleh Bagas. Namun tidak begitu dengan Cynthia, ia kemudian mempersilakan Bagas untuk menjelaskan apa yang dibuatnya kepada teman-temannya.
Bagas kemudian menjelaskan dengan lugas apa yang sudah dibuatnya ia bahkan mempraktekkan cara memainkan benda tersebut.
Semua orang terkejut saat melihat hasil karya Bagas saat dimainkan. Sebuah kelereng di gulingkan hingga berputar mengelilingi rute yang di laluinya dan memutar saklar hingga sebuah lampu menyala.
"Wah keren sekali!" seru salah seorang siswa langsung memberikan tepuk tangan meriah untuk hasil karya Bagas.
__ADS_1