DINIKAHI BRONDONG

DINIKAHI BRONDONG
Penolakan Yang sudah Kuduga


__ADS_3

Malam itu Laila terlihat begitu gugup. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya meskipun ia sudah berusaha menyembunyikannya.


"Apa kamu tegang?" tanya Guntur saat melihat Laila terlihat *******-***** jemarinya


Laila mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Ini bukan pengalaman pertama kamu bukan, jadi kenapa harus gugup?"


"Tetap saja aku gugup, apalagi sekarang statusku bukan perawan lagi, jadi tetap saja aku merasa cemas, apalagi kau ini seorang yang terpandang, tampan dan memiliki jabatan, pasti orang tuamu memiliki kriteria tersendiri saat menerima calon menantu untukmu," jawab L


"Jangan berpikir terlalu jauh, semoga saja ayah ibuku bisa menerima kamu apa adanya,"


"Aamiin,"


Guntur kemudian menepikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah dengan bangunan khas rumah Jawa klasik.


Ia kemudian mengajak L dan kedua anaknya untuk turun.


*Tok, tok, tok!


Seorang wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu untuk mereka. Wanita itu sangat terkejut saat melihat putranya datang bersama dengan seorang wanita dengan dua anak.


"Assalamualaikum bu," sapa Guntur kemudian mencium punggung tangan wanita itu


"Waalaikum salam, siapa wanita itu?" tanya ibu Guntur


"Perkenalkan dia Laila, calon istri Gun Bu," jawab lelaki itu memperkenalkan L


Laila segera menyalami wanita itu.


Wanita itu kemudian mempersilakan mereka masuk.


"Tunggu sebentar biar aku panggil Bapakmu," jawab wanita itu buru-buru meninggalkan mereka


"Bapak, bapak," ucap wanita itu dengan cemas


"Ada apa sih bu, kok mukanya panik gitu emang kamu abis ketemu siapa?" tanya ayah Guntur


"Guntur Pak, Guntur!" serunya begitu panik

__ADS_1


"Iya Guntur kenapa??, coba bapak lihat saja sendiri, Ibu gak bisa menceritakannya, ibu gak sanggup!" imbuh Retno Muninggar


Karena penasaran lelaki itu segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Ia mengerutkan alisnya saat melihat Guntur terlihat bercengkrama dengan seorang anak kecil.


"Oh ada tamu rupanya, siapa mereka Gun?" tanya Soedibyo kemudian duduk dihadapan mereka


"Sebelumnya Gun minta maaf jika kedatangan ku kali ini membuat Bapak dan Ibu terkejut. Dia adalah Laila wanita yang aku cinta dan mereka adalah anak-anaknya, saya sengaja membawanya kemari untuk memperkenalkan mereka kepada Bapak dan Ibu sekaligus meminta restu untuk hubungan kami," tandas Guntur


Seketika ekspresi wajah Soedibyo langsung dingin saat mendengar penjelasan dari Guntur.


Bagaimana tidak, tentu saja sebagai orang tua ia berharap jika Guntur akan mendapatkan jodoh seorang wanita yang masih single bukan janda apalagi sudah memiliki anak dua. Jadi wajar saja jika ia begitu terkejut apalagi selama ini Guntur tidak pernah bercerita apapun kepadanya.


"Sebagai orang tua Bapak sangat senang saat mendengar kau datang dengan membawa calon istri, apalagi mengingat usiamu yang sudah sangat matang. Meskipun demikian Bapak juga sangat berharap jika kau tetap mengikuti aturan keluarga kita dalam memilih pasangan hidup bukan asal-asalan seperti ini. Kamu harus tetap memperhatikan bibit, bebet, dan bobotnya tentu saja statusnya juga tak kalah penting apalagi mengingat kau seorang anggota kepolisian," jawab Soedibyo


"Maaf Pak jika kali ini Guntur tidak mengikuti aturan keluarga. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupku sendiri, jadi sekali lagi maaf. Lagipula selama ini aku selalu salah dimata Bapak, meskipun aku membawa calon istri yang masih lajang kau tetap tak merestui hubungan kami dengan alasan bibit, bebet, bobot atau apalah itu. Kau tahu alasannya aku tetap melajang diusia ku yang sudah cukup matang ini kan?, lebih baik aku hidup sendiri daripada harus menikah dengan wanita yang tidak aku cintai." jawab Guntur


Ia kemudian menggenggam erat jemari Laila dan tersenyum menatapnya.


"Terserah Bapak sama ibu, jika memang tidak setuju dengan pilihan Guntur, aku akan tetap menikah tanpa restu kalian. Kalau untuk institusi tempat ku bekerja tidak melarang aku menikahi seorang janda jadi tidak masalah bukan, masalahnya hanyalah Bapak dan Ibu yang terlalu kolot dalam memilih menantu. Jangan pernah menilai seseorang hanya karena statusnya saja, karena Bapak tidak tahu bagaimana istimewanya Laila,"


"Tetap saja terbaik menurut Bapak tidak berarti baik untukku, karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah aku bukan Bapak," sahut Guntur


"Sepertinya percuma saja aku mengenalkan Laila kepada kalian, toh tetap saja kalian akan menolaknya, kalau begitu sebaiknya aku pamit saja,"


Guntur kemudian menggendong Bagas dan mengajak Laila pergi dari rumah itu.


Saat pria itu akan masuk kedalam mobilnya, Retno menahannya dan mengajaknya bicara sebentar.


"Tidak bisakah kau mendengar Bapakmu kali ini?"


"Selama ini Guntur selalu mendengarkan Bapak, tapi Bapak sekalipun tak mau mendengarkan aku. Ibu tahu kan kenapa aku memilih melajang di usiaku ini, aku sudah lelah Bu karena Bapak selalu saja menolak setiap calon istri yang ku kenalkan padanya. Aku tahu dia sangat ingin menjodohkan aku dengan putri temannya tapi aku tidak bisa Bu. Ibu lebih tahu bagaimana rasanya menikah dengan lelaki yang tidak ibu cintai bukan, ibu harusnya lebih paham bagaimana sakitnya dijodohkan??" tanya Guntur


"Tapi nak, kali ini kamu juga keterlaluan, bagaimana mungkin kami mengijinkan putra kebanggaan kami menikah dengan seorang janda beranak dua, kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia nak. Ibu dan Bapak tidak akan melarang mu menikah dengan siapapun asal jangan janda yang sudah memiliki anak,"


"Memangnya apa salahnya menikahi janda yang sudah memiliki anak, jika kalian memikirkan bibit, bebet dan bobot maka kalian harus tahu jika L terlahir dari keluarga baik-baik, bebet meskipun ia seorang janda ia memiliki kehidupan yang mapan karena bekerja di kementerian, dia adalah seorang wanita santun dan penyayang yang tak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan status sosial mereka. Dia adalah seorang Sarjana pendidikan dengan predikat cumlaude, jadi apalagi yang kurang darinya," sahut Guntur


"Tapi tetap saja menikahi seorang janda akan menurunkan martabat keluarga kita di mata orang-orang. Mereka akan mengira jika kau tidak laku sehingga terpaksa menikahi janda, kau tahu kan bagaimana pandangan masyarakat kita. Keluarga kita adalah keluarga yang terhormat jadi jangan rusak nama baik keluarga kita dengan keegoisan mu menikahinya. Ibu yakin kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari wanita itu,"

__ADS_1


Guntur tersenyum sinis mendengar ucapan ibunya.


"Tetap saja, baik menurut ibu belum tentu baik untukku. Maaf bu aku kali ini aku tak bisa lagi menuruti permintaan kalian, aku sudah lelah. Sekarang sudah waktunya untukku menentukan masa depanku sendiri," jawab Guntur kemudian meninggalkan ibunya.


Ia kemudian segera masuk kedalam mobil dan melesat pergi meninggalkan tempat itu.


"Maafkan kedua orang tua ku jika mereka sudah menyakiti hatimu," ucap Guntur setibanya di hotel


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok yang mereka khawatirkan, jika aku jadi mereka mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Kau adalah putra mereka satu-satunya wajar saja bila mereka berharap kau mendapatkan pasangan hidup yang terbaik,"


"Tapi yang terbaik untukku adalah kamu," jawab Guntur


"Benar aku tahu. Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati saja tapi juga menyatukan dua keluarga Jadi tetap saja kita memerlukan restu mereka agar kehidupan rumah tangga kita bahagia, karena restu orang tua adalah restunya Allah juga jadi jangan hanya memikirkan perasaan kita saja. Mungkin kau menganggap aku ini terlalu naif sehingga berpikir seperti itu, tapi karena aku sudah pernah menjalani pernikahan maka aku mengerti betul tentang hal ini. Sebaiknya kau dengarkan orang tuamu, bujuk mereka pelan-pelan bukan malah membantahnya," terang L


"Tapi aku hanya bahagia jika menikah denganmu,"


"Kau benar tapi mungkin itu tidak akan bertahan lama, karena pernikahan sebenarnya bukan hanya cinta semata. Lambat laun cinta juga bisa memudar seiring berjalannya waktu, jadi cinta saja tidak cukup untuk hidup bahagia,"


"Baiklah L, kali aku akan berusaha membujuk ayah dan Ibuku dulu, tapi bila mereka masih tetap bersikeras melarang hubungan kita, terpaksa aku akan tetap menikahimu tanpa restu mereka," jawab Guntur


"Aku doakan semoga semuanya berjalan lancar ya,"


"Aamiin, besok kalian akan pulang jam berapa?" tanya Guntur


"Sebaiknya kau tidak perlu mengantar kami pulang, selesaikan dulu urusanmu dengan kedua orang tuamu, jangan khawatir aku bisa pulang sendiri dengan aman dan selamat," ucap L


"Baiklah kalau itu maumu, sekali lagi maafkan aku ya L," ucap Guntur gusar


L tersenyum simpul kemu melambaikan tangannya kearah pemuda itu.


La segera masuk ke kamar hotel dan menidurkan kedua buah hatinya. Setelah mereka tidur L kemudian duduk bersandar dibalik pintu kamarnya dan mulai menumpahkan kesedihannya.


Ia begitu sedih saat mengetahui kedua orang tua Guntur tak merestui hubungannya. Suara tangisnya semakin pecah saat mengingat ucapan ayah Guntur yang begitu memandang rendah statusnya sebagai janda beranak dua.


Meskipun ia tahu itu pasti terjadi namun tetap saja L tak bisa menyembunyikan kesedihannya, apalagi kedua buah hatinya mendengar ucapan ayah Guntur yang terang-terangan menolaknya.


Ia semakin sedih saat menyadari kenyataan jika memang benar ia dan Guntur tidak akan bisa bersatu hanya karena statusnya.


Sementara itu Gandrung yang ternyata belum kembali ke Jakarta begitu pilu mendengar isak tangis L dari depan pintu kamar Laila.

__ADS_1


__ADS_2