
"Kemana dia??"
"Maaf ya aku ketiduran tadi," ucap L memeluk erat tubuhnya
"Gak papa sayang, aku tahu kamu pasti lelah mengurus ketiga anak kita," jawab Andru
"Gak juga sih, mungkin aku ketiduran karena tak biasa bergadang. Ngomong-ngomong kamu udah makan belum?" tanya L
"Belum sih?"
"Yaudah kalau gitu kita makan dulu yuk, kebetulan aku udah siapin makanan kesukaan kamu," jawab L menggandeng lengannya.
"Tapi aku maunya makan kamu aja sayang," ucap Andru langsung menarik L kedalam pelukannya.Malam itu meskipun lelah karena telah bekerja lembur Andru tetap tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali menikmati malam panjangnya bersama wanita yang dicintainya.
L yang sudah lama tak merasakan sentuhan dari seorang lelaki benar-benar menikmati saat-saat penyatuan keduanya.
Dinginnya malam seakan menambah kemesraan keduanya untuk saling memberikan kehangatan satu sama lain.
Andru benar-benar membuat L kewalahan malam itu. Ia seperti seorang pejuang yang pantang mundur sebelum menang.
"Apa kamu sudah lelah sayang," ucap Andru mengusap wajah L
Wanita itu tersenyum menatap wajah lelaki yang masih menindihnya.
"Tentu saja aku tidak akan pernah lelah untuk memuaskan mu suamiku," jawab L membuat Andru kembali melanjutkan permainannya.
**********
Pagi itu Lexi begitu panik saat tim inspeksi khusus perusahaan langsung menggeledah ruangannya.
Pemuda itu tak percaya saat mendapati tuduhan penggelapan uang perusahaan.
"Aku yakin ini fitnah, aku bisa membuktikan kalau aku tidak melakukan penggelapan itu!" seru Lexi saat beberapa orang langsung membawanya pergi dari ruangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Barri saat mendapati sepupunya di bawa oleh tim inspeksi khusus.
"Kakak tolong aku, aku difitnah oleh seseorang, kau tahu kan kalau aku tidak mungkin melakukan penggelapan uang perusahaan!" ucap Lexi mencoba memberikan penjelasan kepada Barru
"Tenanglah, aku akan membantumu semampuku," jawab Barri
"Kalau begitu tolong lepaskan aku sekarang, katakan kepada mereka kalau aku tidak bersalah," sahut Lexi
"Tenanglah, sebaiknya kau ikut saja dengan mereka karena mereka akan makin curiga padamu jika kau mencoba membangkang. Kamu harus kooperatif agar segera dibebaskan apa kamu mengerti?"
"Baik kak, tapi kau harus janji akan membebaskan aku," jawab Lexi
"Tentu saja," jawab Barri kemudian segera menemui Andru di ruangannya
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?. Bagaimana bisa kamu menuduh Lexi melakukan penggelapan uang perusahaan, sementara kamu tidak memiliki bukti-buktinya?" tanya Barri
"Bagaimana mungkin aku menangkap seseorang tanpa memiliki barang bukti. Tentu saja aku sudah mempersiapkan semuanya lengkap. Aku harap kamu tidak masuk dalam dalam daftar hitam itu," jawab Andru
"Arrghhh, sial!" seru Barri meluapkan kekesalannya dengan melemparkan semua barang-barang di mejanya
"Darimana dia bisa tahu tentang penggelapan itu, sebaiknya aku harus menemukan buku besar itu sebelum Andru menemukannya lebih dulu," Barri segera bergegas menuju kantor polisi dan menemui
Lexi
Pemuda itu sengaja bergerak lebih cepat, agar Andru tak menemukan buku besar milik Lexi.
Ia mencoba menanyakan dimana Lexi menyimpan buku besar itu, "Dimana kamu menyimpan buku besar itu?" tanya Barri
"Buku besar apa??" jawab Lexi balik bertanya
"Tentu saja buku besar pembelian barang, jangan bilang kamu sudah memberikannya kepada Andru?. Ingat dalam buku besar itu ada semua bukti-bukti kwitansi pembayaran dan pembelian semua barang inventaris kantor. Tentu saja berbahaya jika buku itu sampai di temukan oleh Andru, karena itu akan semakin memperberat hukuman mu,"
"Tentu saja buku itu tidak ada padaku, yang menyimpan buku itu adalah sekretaris ku. Aku percaya Nirmala tidak akan memberikan buku itu pada Andru, apalagi dia juga terlibat saat aku membeli beberapa barang fiktif untuk menghabiskan anggaran keuangan," jawab Lexi.
"Sebaiknya beritahu Nirmala untuk memberikan buku itu padaku kalau kamu ingin segera keluar dari tempat ini," jawab Barri
"Tentu saja, berikan ponselmu agar aku bisa menghubunginya," jawab Lexi
Barri kemudian memberikan ponselnya kepada sepupunya itu.
"Aku sudah menghubunginya, ia akan segera menemui mu dan memberikan buku itu," ucap Lexi memberikan ponsel Barri
"Thanks Lex, bersabarlah aku akan segera membebaskan mu dari tempat ini setelah aku mendapatkan buku itu dari Nirmala,"
__ADS_1
**********
Siang itu Laila sengaja mengajak Bagas untuk mencari sekolah untuknya. Maklum saja usianya sudah menginjak tujuh tahun jadi sudah saatnya ia masuk sekolah dasar.
"Hanya ini satu-satunya sekolah di kompleks ini dan merupakan salah satu sekolah dasar terbaik di Jakarta,"
"Benarkah, maaf aku tidak tahu," jawab L saat seorang memberitahunya
Ia kemudian masuk ke sebuah sekolah Internasional yang ada di lingkungan komplek tempat tinggalnya.
Seorang guru menyambut ramah kedatangan L saat ia memberitahukan sedang mencari sekolah untuk Bagas.
"Jika anda sedang mencari sekolah terbaik untuk putra anda, maka Ibu tidak salah jika memilih sekolah ini. Kebetulan sekolah kami adalah sekolah bilingual yang memadukan kurikulum internasional dengan kurikulum lokal. Misi sekolah kami adalah untuk menggali bakat terpendam setiap siswa agar bisa mengembangkannya,"
"Kalau begitu boleh aku lihat brosur sekolahnya?" tanya L
"Tentu saja, mari silakan ikut saya ke kantor," jawab wanita itu mengajak L menuju ruangan penerimaan siswa baru
Ia kemudian memberikan brosur kepada L dan mempersilakannya duduk.
"Kebetulan sekolah kami tidak menerima banyak siswa setiap tahunnya. Kami sengaja membatasi jumlah siswa agar bisa memberikan pengajaran yang maksimal. Jadi kalau anda berminat silakan isi formulir itu, karena kebetulan sudah ada 25 pendaftar," ucap Wanita itu
"Apa ada tes agar bisa diterima di sekolah ini?" tanya L
"Tentu saja, kami hanya menerima siswa-siswi yang lulus psikotes yang sudah kami berikan," jawab wanita itu
"Kapan anak saya bisa mengikuti psikotesnya?" tanya L
"Besok saja, sekalian anda melengkapi formulir pendaftarannya,"
"Baiklah, kalau begitu saya permisi,"
Laila kemudian segera mengajak Bagas pulang.
"Apa kamu suka sekolah ini?" tanya L
Bagas kemudian mengangguk, senang.
"Kamu pasti suka karena sekolahnya banyak mainannya ya?" tanya L lagi
Bagas tersenyum mendengar ucapan ibunya. Saat keduanya dalam perjalanan pulang Silvia menelpon L untuk datang ke rumah sakit.
Laila kemudian meminta kepada sopirnya untuk mengantarnya menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, L segera berlari menuju ruang perawatan Devan.
Wanita itu mencoba menahan air matanya saat melihat kondisi Devan.
"Sekarang Miss sudah datang sayang, apa kamu tidak mau menyapa ku?" tanya L menggenggam jemari anak itu
Perlahan Devan membuka matanya dan tersenyum menatapnya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga sayang," ucap L begitu bahagia
"Miss, aku kangen sama Miss," ucap anak itu dengan suara lirih
"Iya sayang, Miss juga kangen sama Devan. Jadi cepat sembuh ya agar Dev bisa belajar lagi sama Miss," jawab L
"Jadi Miss tetap mau jadi guru Dev?" tanya anak itu.
"Tentu saja sayang, meskipun Miss sudah berhenti mengajar Miss akan selalu jadi guru les kamu,"
"Terimakasih Miss," jawab Devan kemudian menunjuk ke sebuah gambar yang ada di mejanya
"Apa itu?" tanya L mengikuti arah telunjuk anak itu
L tersenyum menatap sebuah gambar hasil karya Devan yang dipajang di atas meja.
"Apa kamu yang membuatnya?" tanya L
Devan mengangguk pelan, dan meminta L mengambil gambar itu untuknya.
"Aku sangat berharap suatu saat Miss bisa jadi ibuku, agar kita bisa menjadi keluarga yang bahagia seperti dalam gambar ini," ucap Devan menunjuk gambar itu
"Maafkan Miss ya sayang karena tak bisa memenuhi keinginan kamu," jawab L mencoba menghiburnya
"Meskipun Miss tidak bisa menjadi orang tuaku tapi aku bahagia karena kamu selalu ada untukku, terimakasih Miss," jawab Devan
__ADS_1
"Iya sayang, kamu bisa cerita apapun sama miss kalau ada masalah miss janji akan selalu mendengarkan semua ceritamu dan menjadi penasihat mu,"
"Kalau begitu maukah kamu mewujudkan satu mimpiku?" tanya Dev
"Katakanlah?" jawab L
"Aku ingin berfoto seperti gambar ini," ucap Dev berkaca-kaca
"Tentu saja kalau cuma foto saja aku bisa mengabulkannya. Tapi sebentar ya sayang, kita harus menjemput Kaka sifa dulu, kebetulan dia kan belum pulang," jawab L
"Kalau begitu biar aku yang akan menjemputnya L," jawab Sean
"Baiklah, aku akan menunggu Dev selama kamu pergi," jawab L
Sean kemudian bergegas menjemput Sifa di sekolahnya.
Selama Sean menjemput Sifa, L sengaja mengajak Dev untuk jalan-jalan keluar ruangannya untuk menikmati udara segar.
Devan terlihat begitu senang saat L membawanya ke taman rumah sakit.
"Kakak, apa kamu mau es krim?" tanya Bagas menghampiri mereka bersama Silvia
"Kaka Dev belum boleh makan eskrim sayang, jadi buat bagas saja ya nak," jawab L melarangnya
"Nenek, apa aku boleh mencoba eskrim untuk terakhir kalinya, aku janji setelah ini aku tidak akan makan eskrim lagi," ujar Devan
"Yaudah, kalau begitu boleh tapi sedikit saja ya sayang," jawab Silvia
Devan mengangguk setuju.
Bagas kemudian memberikan eskrimnya kepada Devan agar ia mencobanya.
"Gimana rasanya?" tanya Bagas
"Enak," jawab Dev sumringah
"Ini eskrim kesukaan Bagas, tentu saja enak," ucap Bagas
Tidak lama Sean datang menghampiri mereka bersama Sifa.
Devan tersenyum bahagia saat melihat kedatangan Sifa.
"Sekarang sudah lengkap semua, ayo kita foto sebentar," ucap Sean
Laila kemudian segera duduk di samping Devan dan memeluknya.
"Satu, dua, tiga, cheese!" seru Sean segera mengambil gambar mereka
Tidak lupa ia memperlihatkan gambar itu kepada Devan.
"Gimana, apa kamu suka?" tanya Sean
"Suka, aku mau ayah mencetaknya dan memasang foto ini di kamar Dev," jawab Devan
"Iya sayang, ayah pasti akan memasangnya di kamar kamu,"
"Sekarang Dev ngantuk pah, aku mau tidur,"
Sean kemudian mengantar Devan ke ruang perawatannya.
"Terimakasih L, sudah datang menemui Dev hari ini," ujar Sean
"Sama-sama Sean, aku harap Dev segera sembuh ya sayang agar kita bisa liburan bareng lagi," ujar L menghampiri anak itu
"Terimakasih Miss," ucap Dev kemudian memejamkan matanya
Tidak lama Silvia memasuki ruangan itu, wanita itu datang membawa resep obat yang baru saja di tebusnya.
Wanita itu berusaha membangunkan Devan, agar dia meminum obatnya.
"Sayang minum obat dulu yuk," ucapnya lirih
Melihat Dev yang tidak kunjung bangun membuat L berusaha membantu Silvia membangunkan anak itu.
"Sayang kita minum obat dulu yuk," ucap L mengusap keningnya
Laila begitu terkejut saat tidak merasakan hembusan nafas anak itu. Ia kemudian mengecek denyut nadi anak itu, Laila segera menoleh kearah Sean saat tak mendeteksi denyut nadi Devan.
__ADS_1
Sean segera mengecup kening putra sulungnya itu, "Inna Lillahi wa inna ilaihi Raji'un," ucap Sean kemudian terisak di sampingnya